Ramlan POV
“1..2…3..4..” Aku menghitung waktu
di dalam hati. Menit demi menit berlalu, tapi sosok yang kutunggu-tunggu belum
datang juga. Aku telah menunggu di sini sekitar 1 jam yang lalu, berdiri diam
ditambah dinginnya udara waktu subuh saat menanti anggota-anggota ekskul
pemalas yang telat kebanyakan dengan alasan karena ketiduran. Yaudah, sekalian
aja sana tidur selamanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 04.30,
waktu yang seharusnya menjadi jadwal keberangkatan kita. Bus sudah siap beserta
supirnya, tapi Mawar dan Nino masih belum tampak juga. Sepertinya sudah menjadi
kebiasaan bagi mereka untuk hidup tidak menghargai waktu.
Hilang sudah harapanku agar mereka
ikut acara ini. Aku segera mengomandokan bagi semua peserta pengamatan bintang
untuk segera menaiki bus yang sudah siap. Meski banyak yang protes karena 2
orang itu masih belum datang. Tapi apa daya? Jadwal telah direncanakan dengan
matang dan kita harus menghormatinya.
Sedetik sebelum bus berangkat
terlihat di persimpangan jalan 2 sosok yang dinanti-nanti. Mereka
sekencang-kencangnya berlari ke arah bus dan bergegas menaikinya. Dua orang itu
disambut dengan ejekkan teman-temannya karena membuat jadwal menjadi terlambat.
“Nino, Mawar, kayaknya udah kebiasaan deh bagi kalian berdua telat terus, gak
ada kapoknya ya kalian berdua.” Ucapku dengan marah. Aku paling tidak suka
orang yang tidak disiplin dan orang yang hidup tidak sesuai aturan.
“Hehehe maaf Ram, tadi kami berdua
telat bangun jadinya lari deh sekencang-kencangnya kesini. Kita taubat deh Ram,
gak akan kita ulangi lagi” Jawab Nino.
“Yaudah deh, lagian percuma juga ngomong
sama kalian. Tuh cari tempat duduk sana”
“Iya Ram, sekali lagi maaf ya.”
Kata Nino, berharap memperbaiki keadaan.
“Huuuuu…” Ejek seluruh penumpang
bus.
Mereka berdua selanjutnya terlihat
sibuk mencari tempat duduk, tapi kemudian Nino menemukan satu tempat duduk
kosong yang menjadi miliknya di sebelah salah satu anggota ekskul yang aku lupa
namanya sedangkan Mawar duduk di sebelahku.
“Permisi Ram, aku duduk disebelahmu
boleh ya. Jangan marah lagi dong.” Pinta Mawar yang tidak dapat aku tolak,
sadar atau tidak.
“Oh iya gak papa kok, duduk aja
disini. Santai aja.” Jawabku sambil mempersilakan kursi yang berada di
sampingku. Kursiku yang terletak dekat dengan jendela dan kursi Mawar berada di
sebelah kiriku.
Gadis yang selalu ceria itu segera
duduk di sebelahku dan membuat pandanganku jadi kabur. Bukan karena mabuk
perjalanan, seumur-umur aku tidak pernah terkena mabuk perjalanan bahkan
perjalanan laut menggunakan kapal sekalipun. Tapi karena gejala-gejala yang aku
alami selama ini yang membuat aku tidak berdaya melawannya. Meski berlawanan
dengan perintah yang aku sampaikan kepada diri sendiri untuk menjauhinya.
Gejala-gejala itu semakin nampak
ketika Ia berada di dekatku. Mengirimkan gambar visual seakan-akan matahari yang
terlihat di jendela bus seperti wajah dirinya yang terseyum penuh arti kepadaku,
dan dunia sesaat menjadi lebih indah, lalu kata syukur berkali-kali aku ucapkan
karena telah lahir di dunia ini, syukur karena telah masuk ke sekolah ini,
sehingga dapat mengenal dirinya. Gejala yang sebenarnya telah kurasakan jauh
sebelum saat ini, yang dengan sekuat tenaga aku melawannya. Dari awal
pertemuanku dengannya hingga sampai detik ini.
Ya, itu adalah gejala cinta, hal
yang selama ini aku takutkan. Hal yang selalu aku pendam diam-diam.
Rasa yang sebenarnya tidak dapat
aku setujui terlebih lagi dengan adanya Nino yang selalu ada di sisinya. Aku
percaya sahabatku itu akan dapat terus menjaga Mawar. Aku yakinkan lagi diriku
dengan harapan palsu itu.
Aku berusaha bertingkah seperti Ramlan yang
seperti biasa, dengan memenuhi tugasku sebagai pemimpin yang mengharuskanku
menjadi tegas dan tidak jarang harus membuatku memarahi anggota ekskul yang
menentang peraturan. Namun dayaku seakan telah habis dibuatnya, Ramlan selama
ini dirubahnya sedemikian rupa dengan rasa yang menjeratku ini. Sikapku yang
tegas seakan luntur ketika berhadapan dengan senyum polosnya ketika tertangkap
basah terlambat atau membolos pertemuan ekskul.
Terlepas dari segala perasaanku,
perjalanan kami ketika itu berlangsung lumayan seru. Dony memainkan gitar yang
dibawanya alih-alih membawa peralatan pengamatan bintang. Dony saat itu
bagaikan pengamen di bus yang menerima request lagu dari para penumpang bahkan
juga supir dan guru Pembina ekskul.
Ditambah lagi dengan pemandangan
indah yang tersedia di samping kiri-kanan jendela. Pemandangan alami pedesaan
yang tentunya sangat berbeda dari kemacetan dan bangunan-bangunan tinggi kota metropolitan
kedua terbesar di nusantara tempat kami tinggal. Hamparan sawah tersedia luas
bagai permadani hijau empuk yang memanjakan setiap mata yang memandangnya. Lalu
hutan jati saradan yang hijau rimbun dan menurutku penuh dengan misteri.
Pastinya semua ini tidak akan kita jumpai di Surabaya.
Tetapi semua itu bagai tak ada
artinya bagi teman-teman lelakiku. Mereka saling berebutan menyapa melalui
isyarat dari jendela pada setiap gadis cantik yang kami lewati. Dasar
kampungan, di kota juga banyak cewek cantik. Termasuk yang duduk di sebelahku
saat ini hehehe, ehm.
Kami melalui berbagai kota di Jawa
Timur untuk sampai ke gunung Lawu, mulai dari Sidoarjo, Jombang, Ngawi, dan
kota-kota lain yang tidak aku perhatikan namanya karena memang aku buruk di
pelajaran geografi. Tapi jangan tanya lagi siapa ahlinya kalau di bidang
astronomi. Sainganku hanya Nino seorang ketika berurusan di ilmu astronomi.
Anggota ekskul lainnya dapat dikatakan tidak bisa apa-apa dan malah terkesan
menjadi beban. Itu menurutku sih, ehm. Bukannya mau sombong atau apa ya, ehm.
Semua orang bernyanyi sampai puas
hingga akhirnya semangat mereka terkuras habis dalam keletihan. Tentu saja
setelah itu satu persatu mulai bersandar ke kursi dan tertidur pulas. Hanya
beberapa orang saja termasuk aku dan Nino yang tidak tertidur dan masih
mengamati pemandangan.
Mawar saat itu juga tertidur dengan
pulasnya, mungkin karena waktu tidur yang masih kurang. Kepalanya bersandar
pada kursi bus yang sedang melaju kencang. Bus bergoncang saat jalan yang
berkelok-kelok karena menaikki wilayah pegunungan. Menyebabkan Mawar yang
tertidur pulas saat itu tak menyadari ketika kepalanya tiba-tiba jatuh bersandar
di pundakku . Aku terkejut tetapi membiarkan hal itu terjadi. “Wah bisa bahaya
nih kalau kelihatan Nino.” Ucapku dalam hati sambil melirik Nino yang ternyata
duduk jauh di belakangku.
Mawar terus tertidur nyenyak karena
mendapat sandaran yang pas, sampai-sampai mendengkur pelan. Seakan hilang semua
beban hidupnya ketika memandang wajah damainya ketika tidur. Postur tubuhnya
yang ramping itu terlihat sangat rapuh sehingga aku ingin bergerak untuk
memeluk melindunginya. Tetapi tentu saja tak akan kulakukan.
Perjalanan 4 jam kali ini dari Kota
Surabaya ke Kabupaten Magetan terasa sangat cepat. Apalagi kalau bukan karena
di sebelah Mawar aku duduk diam terpaku. Menjadi salah tingkah karena keadaan
yang menjadi sangat canggung. Seakan-akan aku ingin saat ini bertahan selamanya
di pikiranku. Tetapi apa dayaku ketika terdapat Nino sahabat setiaku dan aku
tidak akan mau melukai hatinya yang kutahu sangat rapuh itu.
Setelah bus sesaat lagi akan sampai
ke tujuan aku membangunkan Mawar yang tertidur di pundakku dengan lembut lalu
bergerak membangunkan teman-temanku yang lain seolah tidak terjadi apa-apa. Bus
lalu berhenti tanda bagi kami untuk segera turun dan mempersiapkan barang
bawaan kami.
Segera setelah semua barang bawaan siap,
kami menuju penginapan yang sudah aku booking seminggu sebelumnya. Aku pun
membagikan seluruh kunci kamar, lalu bergegas menuju kamarku yang kebetulan
bersama Nino dan Dony. Kami menuju ke lantai 2 tempat kamar kami berada dan
menata rapi semua barang bawaan kami disana.
Setelah
semua urusan selesai kami dan waktu menunjukkan pukul 11.00 semua membersihkan
diri dan berbaring di kasur masing-masing untuk segera masuk ke alam mimpi.
Karena pada pukul 12.00 kami harus berkumpul bersama anggota ekskul astronomi
yang lain untuk sholat dhuhur berjama’ah dan makan siang bersama.

No comments:
Post a Comment