Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-11

Pergi ke Sarangan
Ramlan POV
“1..2…3..4..” Aku menghitung waktu di dalam hati. Menit demi menit berlalu, tapi sosok yang kutunggu-tunggu belum datang juga. Aku telah menunggu di sini sekitar 1 jam yang lalu, berdiri diam ditambah dinginnya udara waktu subuh saat menanti anggota-anggota ekskul pemalas yang telat kebanyakan dengan alasan karena ketiduran. Yaudah, sekalian aja sana tidur selamanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 04.30, waktu yang seharusnya menjadi jadwal keberangkatan kita. Bus sudah siap beserta supirnya, tapi Mawar dan Nino masih belum tampak juga. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk hidup tidak menghargai waktu.
Hilang sudah harapanku agar mereka ikut acara ini. Aku segera mengomandokan bagi semua peserta pengamatan bintang untuk segera menaiki bus yang sudah siap. Meski banyak yang protes karena 2 orang itu masih belum datang. Tapi apa daya? Jadwal telah direncanakan dengan matang dan kita harus menghormatinya.
Sedetik sebelum bus berangkat terlihat di persimpangan jalan 2 sosok yang dinanti-nanti. Mereka sekencang-kencangnya berlari ke arah bus dan bergegas menaikinya. Dua orang itu disambut dengan ejekkan teman-temannya karena membuat jadwal menjadi terlambat. “Nino, Mawar, kayaknya udah kebiasaan deh bagi kalian berdua telat terus, gak ada kapoknya ya kalian berdua.” Ucapku dengan marah. Aku paling tidak suka orang yang tidak disiplin dan orang yang hidup tidak sesuai aturan.
“Hehehe maaf Ram, tadi kami berdua telat bangun jadinya lari deh sekencang-kencangnya kesini. Kita taubat deh Ram, gak akan kita ulangi lagi” Jawab Nino.
“Yaudah deh, lagian percuma juga ngomong sama kalian. Tuh cari tempat duduk sana”
“Iya Ram, sekali lagi maaf ya.” Kata Nino, berharap memperbaiki keadaan.
“Huuuuu…” Ejek seluruh penumpang bus.
Mereka berdua selanjutnya terlihat sibuk mencari tempat duduk, tapi kemudian Nino menemukan satu tempat duduk kosong yang menjadi miliknya di sebelah salah satu anggota ekskul yang aku lupa namanya sedangkan Mawar duduk di sebelahku.
“Permisi Ram, aku duduk disebelahmu boleh ya. Jangan marah lagi dong.” Pinta Mawar yang tidak dapat aku tolak, sadar atau tidak.
“Oh iya gak papa kok, duduk aja disini. Santai aja.” Jawabku sambil mempersilakan kursi yang berada di sampingku. Kursiku yang terletak dekat dengan jendela dan kursi Mawar berada di sebelah kiriku.
Gadis yang selalu ceria itu segera duduk di sebelahku dan membuat pandanganku jadi kabur. Bukan karena mabuk perjalanan, seumur-umur aku tidak pernah terkena mabuk perjalanan bahkan perjalanan laut menggunakan kapal sekalipun. Tapi karena gejala-gejala yang aku alami selama ini yang membuat aku tidak berdaya melawannya. Meski berlawanan dengan perintah yang aku sampaikan kepada diri sendiri untuk menjauhinya.
Gejala-gejala itu semakin nampak ketika Ia berada di dekatku. Mengirimkan gambar visual seakan-akan matahari yang terlihat di jendela bus seperti wajah dirinya yang terseyum penuh arti kepadaku, dan dunia sesaat menjadi lebih indah, lalu kata syukur berkali-kali aku ucapkan karena telah lahir di dunia ini, syukur karena telah masuk ke sekolah ini, sehingga dapat mengenal dirinya. Gejala yang sebenarnya telah kurasakan jauh sebelum saat ini, yang dengan sekuat tenaga aku melawannya. Dari awal pertemuanku dengannya hingga sampai detik ini.
Ya, itu adalah gejala cinta, hal yang selama ini aku takutkan. Hal yang selalu aku pendam diam-diam.
Rasa yang sebenarnya tidak dapat aku setujui terlebih lagi dengan adanya Nino yang selalu ada di sisinya. Aku percaya sahabatku itu akan dapat terus menjaga Mawar. Aku yakinkan lagi diriku dengan harapan palsu itu.
 Aku berusaha bertingkah seperti Ramlan yang seperti biasa, dengan memenuhi tugasku sebagai pemimpin yang mengharuskanku menjadi tegas dan tidak jarang harus membuatku memarahi anggota ekskul yang menentang peraturan. Namun dayaku seakan telah habis dibuatnya, Ramlan selama ini dirubahnya sedemikian rupa dengan rasa yang menjeratku ini. Sikapku yang tegas seakan luntur ketika berhadapan dengan senyum polosnya ketika tertangkap basah terlambat atau membolos pertemuan ekskul.
Terlepas dari segala perasaanku, perjalanan kami ketika itu berlangsung lumayan seru. Dony memainkan gitar yang dibawanya alih-alih membawa peralatan pengamatan bintang. Dony saat itu bagaikan pengamen di bus yang menerima request lagu dari para penumpang bahkan juga supir dan guru Pembina ekskul.
Ditambah lagi dengan pemandangan indah yang tersedia di samping kiri-kanan jendela. Pemandangan alami pedesaan yang tentunya sangat berbeda dari kemacetan dan bangunan-bangunan tinggi kota metropolitan kedua terbesar di nusantara tempat kami tinggal. Hamparan sawah tersedia luas bagai permadani hijau empuk yang memanjakan setiap mata yang memandangnya. Lalu hutan jati saradan yang hijau rimbun dan menurutku penuh dengan misteri. Pastinya semua ini tidak akan kita jumpai di Surabaya.
Tetapi semua itu bagai tak ada artinya bagi teman-teman lelakiku. Mereka saling berebutan menyapa melalui isyarat dari jendela pada setiap gadis cantik yang kami lewati. Dasar kampungan, di kota juga banyak cewek cantik. Termasuk yang duduk di sebelahku saat ini hehehe, ehm.
Kami melalui berbagai kota di Jawa Timur untuk sampai ke gunung Lawu, mulai dari Sidoarjo, Jombang, Ngawi, dan kota-kota lain yang tidak aku perhatikan namanya karena memang aku buruk di pelajaran geografi. Tapi jangan tanya lagi siapa ahlinya kalau di bidang astronomi. Sainganku hanya Nino seorang ketika berurusan di ilmu astronomi. Anggota ekskul lainnya dapat dikatakan tidak bisa apa-apa dan malah terkesan menjadi beban. Itu menurutku sih, ehm. Bukannya mau sombong atau apa ya, ehm.
Semua orang bernyanyi sampai puas hingga akhirnya semangat mereka terkuras habis dalam keletihan. Tentu saja setelah itu satu persatu mulai bersandar ke kursi dan tertidur pulas. Hanya beberapa orang saja termasuk aku dan Nino yang tidak tertidur dan masih mengamati pemandangan.
Mawar saat itu juga tertidur dengan pulasnya, mungkin karena waktu tidur yang masih kurang. Kepalanya bersandar pada kursi bus yang sedang melaju kencang. Bus bergoncang saat jalan yang berkelok-kelok karena menaikki wilayah pegunungan. Menyebabkan Mawar yang tertidur pulas saat itu tak menyadari ketika kepalanya tiba-tiba jatuh bersandar di pundakku . Aku terkejut tetapi membiarkan hal itu terjadi. “Wah bisa bahaya nih kalau kelihatan Nino.” Ucapku dalam hati sambil melirik Nino yang ternyata duduk jauh di belakangku.
Mawar terus tertidur nyenyak karena mendapat sandaran yang pas, sampai-sampai mendengkur pelan. Seakan hilang semua beban hidupnya ketika memandang wajah damainya ketika tidur. Postur tubuhnya yang ramping itu terlihat sangat rapuh sehingga aku ingin bergerak untuk memeluk melindunginya. Tetapi tentu saja tak akan kulakukan.
Perjalanan 4 jam kali ini dari Kota Surabaya ke Kabupaten Magetan terasa sangat cepat. Apalagi kalau bukan karena di sebelah Mawar aku duduk diam terpaku. Menjadi salah tingkah karena keadaan yang menjadi sangat canggung. Seakan-akan aku ingin saat ini bertahan selamanya di pikiranku. Tetapi apa dayaku ketika terdapat Nino sahabat setiaku dan aku tidak akan mau melukai hatinya yang kutahu sangat rapuh itu.
Setelah bus sesaat lagi akan sampai ke tujuan aku membangunkan Mawar yang tertidur di pundakku dengan lembut lalu bergerak membangunkan teman-temanku yang lain seolah tidak terjadi apa-apa. Bus lalu berhenti tanda bagi kami untuk segera turun dan mempersiapkan barang bawaan kami.
Segera setelah semua barang bawaan siap, kami menuju penginapan yang sudah aku booking seminggu sebelumnya. Aku pun membagikan seluruh kunci kamar, lalu bergegas menuju kamarku yang kebetulan bersama Nino dan Dony. Kami menuju ke lantai 2 tempat kamar kami berada dan menata rapi semua barang bawaan kami disana.

Setelah semua urusan selesai kami dan waktu menunjukkan pukul 11.00 semua membersihkan diri dan berbaring di kasur masing-masing untuk segera masuk ke alam mimpi. Karena pada pukul 12.00 kami harus berkumpul bersama anggota ekskul astronomi yang lain untuk sholat dhuhur berjama’ah dan makan siang bersama.

No comments:

Post a Comment