3rd person POV
Angin pagi berhembus lembut, meniup
ilalang, menjatuhkan dedaunan. Angin yang seakan hendak menyanyi, menyemangati
sosok yang sedang membelakangi mentari pagi. Ia berlari dan terus berlari,
hingga sampai akhirnya tanpa sadar terjatuhlah buku-buku pelajaran dari tas
punggungnya berceceran kesana-kemari.
“Haduuh,
kenapa sih hari ini sial banget. Tas udah lupa belum ditutup, bangun telat. Ih!
Kenapa sih tadi gak ikut Nino aja goncengan naik sepeda. Mama juga gitu, udah hari
ini gak sempet nganterin. Mentang-mentang sekolahnya deket rumah, anak gadis
satu-satunya disuruh jalan kaki. Huh!” Celoteh Mawar jengkel meratapi nasibnya
yang memang sedang buruk.
Mawar
sedang sibuk membereskan buku ketika tiba-tiba terdapat sepasang tangan yang
ikut membereskan buku-bukunya. Setengah sadar, Ia mendongak dan mendapati Nino
sedang sibuk menata buku pelajaran yang telah dijatuhkannya. Wajahnya terlihat
dingin seperti biasa. Mata hitamnya kelam seperti penuh misteri. Alisnya yang
lebat, dan rambutnya yang bergaya belah pinggir sederhana yang tidak pernah
berubah dari dahulu kala. Tidak lupa tubuhnya yang tinggi menjulang, yang
selalu memilikki kekuatan untuk senantiasa melindunginya.
“Loh
No, kamu kok belum sampai di sekolah, biasannya juga naik sepeda. Ngapain kok
masih ada disini?” Tanya Mawar heran.
“Udah
deh jangan bawel, tadi ban sepedaku bocor jadi sekarang aku masih benerin
sekalian dititipin di bengkel.” Kata Nino ringan, sambil memasukkan kembali
buku-buku Mawar ke dalam tas.
“Yaudah
deh makasih ya, tumben kok baik.” Ucap Mawar sambil cengengesan.
“Yaelah
kalau aku baik tuh udah dari zaman paleozoikum tahu. Kemana aja neng?” Jawabku
bercanda sambil mengacak-acak rambutnya.
“Ew,
jangan sok-sokan deh baru dipuji dikit aja sudah melambung.” Ucap Mawar sambil
meletakkan bukunya kembali ke dalam tasnya.
Sesampainya
mereka di depan sekolah ternyata pintu gerbang masuk telah ditutup dan
segalanya telah terlambat. Pelajaran telah dimulai 15 menit yang lalu. Terlihat
di depan gerbang SMAN 1 Surabaya yaitu guru yang paling galak. Sejarah dan
reputasi kejamnya telah terkenal bahkan sampai sekolah-sekolah tetangga yang
terdapat di komplek. Psikopat bagi para murid-muridnya. Sebut saja inisialnya
“N” (nama disamarkan).
Keputusan
yang mereka lakukan di detik-detik akhir yaitu mengendap-endap sampai ke tembok
belakang sekolah yang lumayan tinggi, sekitar 4 setengah meter.
“Alamak
mati deh kita, kenapa sih pas banget kita telat ketika guru-guru durjana sedang
bercengkrama di depan gerbang.” Ucap Mawar ketakutan.
“Memangnya
kamu sudah telat berapa kali War?” Tanya Nino.
“Udah 2
kali, dihitung sama sekarang jadi tiga kali. Kalau sekarang ketahuan terlambat
bisa-bisa kena panggilan orang tua sama hukuman yang aneh-aneh nanti.” Ratap Mawar
penuh penyesalan.
“Hmm..,
sering banget ya telatnya. Kamu sih sering ceroboh kalau pergi ke sekolah, yang
ketiduran kek, yang barang ketinggalan kek. Nah sekarang kita mending manjat
tembok belakang aja.” Usul Nino.
“What?
Seriusan? Nanti kalau entar aku jatoh gimana? Hilang dong nanti cantiknya
princess.”
“Tenang
aja, nanti aku pegangin. Paling parah juga aku yang kejatuhan bobot berat
badanmu. Itupun masih mending daripada berurusan dengan guru-guru pencabut
nyawa.”
Sesaat
kemudian Nino yang terlihat kalem, namun ternyata menyimpan kekuatan bak
gatotkaca berseragam SMA itu dengan sigap mengangkat Mawar dan memanjat pagar
hingga hasilnya mereka berdua sampai ke halaman sekolah dengan selamat sentosa
dari ancaman malaikat maut pencabut nyawa penjaga neraka yang mengintai (Baca:
guru killer).

No comments:
Post a Comment