Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-2

Terlambat
3rd person POV
Angin pagi berhembus lembut, meniup ilalang, menjatuhkan dedaunan. Angin yang seakan hendak menyanyi, menyemangati sosok yang sedang membelakangi mentari pagi. Ia berlari dan terus berlari, hingga sampai akhirnya tanpa sadar terjatuhlah buku-buku pelajaran dari tas punggungnya berceceran kesana-kemari.
                “Haduuh, kenapa sih hari ini sial banget. Tas udah lupa belum ditutup, bangun telat. Ih! Kenapa sih tadi gak ikut Nino aja goncengan naik sepeda. Mama juga gitu, udah hari ini gak sempet nganterin. Mentang-mentang sekolahnya deket rumah, anak gadis satu-satunya disuruh jalan kaki. Huh!” Celoteh Mawar jengkel meratapi nasibnya yang memang sedang buruk.
                Mawar sedang sibuk membereskan buku ketika tiba-tiba terdapat sepasang tangan yang ikut membereskan buku-bukunya. Setengah sadar, Ia mendongak dan mendapati Nino sedang sibuk menata buku pelajaran yang telah dijatuhkannya. Wajahnya terlihat dingin seperti biasa. Mata hitamnya kelam seperti penuh misteri. Alisnya yang lebat, dan rambutnya yang bergaya belah pinggir sederhana yang tidak pernah berubah dari dahulu kala. Tidak lupa tubuhnya yang tinggi menjulang, yang selalu memilikki kekuatan untuk senantiasa melindunginya.
                “Loh No, kamu kok belum sampai di sekolah, biasannya juga naik sepeda. Ngapain kok masih ada disini?” Tanya Mawar heran.
                “Udah deh jangan bawel, tadi ban sepedaku bocor jadi sekarang aku masih benerin sekalian dititipin di bengkel.” Kata Nino ringan, sambil memasukkan kembali buku-buku Mawar ke dalam tas.
                “Yaudah deh makasih ya, tumben kok baik.” Ucap Mawar sambil cengengesan.
                “Yaelah kalau aku baik tuh udah dari zaman paleozoikum tahu. Kemana aja neng?” Jawabku bercanda sambil mengacak-acak rambutnya.
                “Ew, jangan sok-sokan deh baru dipuji dikit aja sudah melambung.” Ucap Mawar sambil meletakkan bukunya kembali ke dalam tasnya.
                Sesampainya mereka di depan sekolah ternyata pintu gerbang masuk telah ditutup dan segalanya telah terlambat. Pelajaran telah dimulai 15 menit yang lalu. Terlihat di depan gerbang SMAN 1 Surabaya yaitu guru yang paling galak. Sejarah dan reputasi kejamnya telah terkenal bahkan sampai sekolah-sekolah tetangga yang terdapat di komplek. Psikopat bagi para murid-muridnya. Sebut saja inisialnya “N” (nama disamarkan).
                Keputusan yang mereka lakukan di detik-detik akhir yaitu mengendap-endap sampai ke tembok belakang sekolah yang lumayan tinggi, sekitar 4 setengah meter.
                “Alamak mati deh kita, kenapa sih pas banget kita telat ketika guru-guru durjana sedang bercengkrama di depan gerbang.” Ucap Mawar ketakutan.
                “Memangnya kamu sudah telat berapa kali War?” Tanya Nino.
                “Udah 2 kali, dihitung sama sekarang jadi tiga kali. Kalau sekarang ketahuan terlambat bisa-bisa kena panggilan orang tua sama hukuman yang aneh-aneh nanti.” Ratap Mawar penuh penyesalan.
                “Hmm.., sering banget ya telatnya. Kamu sih sering ceroboh kalau pergi ke sekolah, yang ketiduran kek, yang barang ketinggalan kek. Nah sekarang kita mending manjat tembok belakang aja.” Usul Nino.
                “What? Seriusan? Nanti kalau entar aku jatoh gimana? Hilang dong nanti cantiknya princess.”
                “Tenang aja, nanti aku pegangin. Paling parah juga aku yang kejatuhan bobot berat badanmu. Itupun masih mending daripada berurusan dengan guru-guru pencabut nyawa.”

                Sesaat kemudian Nino yang terlihat kalem, namun ternyata menyimpan kekuatan bak gatotkaca berseragam SMA itu dengan sigap mengangkat Mawar dan memanjat pagar hingga hasilnya mereka berdua sampai ke halaman sekolah dengan selamat sentosa dari ancaman malaikat maut pencabut nyawa penjaga neraka yang mengintai (Baca: guru killer).

No comments:

Post a Comment