Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-14

Lanjuuut!!!
Dony POV
Setelah acara camping yang lumayan, hanya lumayan keren itu, aku dan semua anggota ekskul astronomi lainnya memberesi sisa-sisa kehidupan yang mungkin kami tinggalkan. Bunyi ayam kokok (atau ayam hutan) bersahutan dimana-mana, disambut lagi dengan sahutan suara hewan-hewan yang tidak aku ketahui pasti dimana letaknya. Mungkin mereka sedang bersapaan satu sama lain, sebagai penambah semangat untuk mengawali hari. Mengingat-ingat tentang ayam membuat perutku keroncongan. Terbayang iklan-iklan televisi yang banyak menayangkan produk-produk ayam goreng yang hmmm kriuk.. kriukk.. penuh kenikmatan. Lebih lagi model iklannya lucu banget kalau lagi makan, ih.. jadi pengen nyubit pipinya gitu.
Sialnya makanan hari ini sama seperti makanan pada hari berkemah sebelumnya. Hanya satu menu tunggal: mie instant. Tetapi itu masih dapat mengganjal perutku yang berbunyi nyaring ditengah dinginnya pagi ini.
Langit masih gelap, belum ada tanda-tanda bagi mentari untuk menunjukkan cahayanya. Seakan masih tertidur lelap malas untuk muncul kembali ke dunia yang telah bosan dipandangnya. Tetapi para penduduk hutan tempat kami berkemah sudah terlebih dahulu terbangun dan mencari makan untuk mengisi perut.
Kami juga telah terbangun, ketika waktu telah menunjukkan pukul 04.00 Ramlan si anak yang tak bisa bercanda itu telah membangunkanku dari mimpi indahku bersama model-model bikini pantai cantik. Sialnya dan sialnya lagi aku harus terbangun dari mimpiku yang terasa amat sangat singkat itu.
Kami membereskan setiap sisa dari perkemahan kami. Tenda-tenda kami lipat kembali dan sampah-sampah kami masukkan ke kantong plastik yang nantinya akan dibuang di tempat pembuangan sampah di dekat telaga. Oh Tuhan, andai saja engkau menciptakan mahluk yang dapat memakan plastik dan sampah. Pasti saja dunia ini akan bersih sejadi-jadinya.
Sesudah membereskan semuanya tiba-tiba terdengar suara jerit ketakutan seorang wanita. Ternyata itu adalah Nurul, ia berteriak ketakutan karena sesuatu yang bergerak-gerak di atas pohon tepat di atasnya. Setelah diamati baik-baik ternyata itu adalah segerombolan monyet berekor panjang yang berayun-ayun mencari makan. Beberapa bahkan juga sempat mendatangi kami dan mengambil barang-barang pribadi. Sungguh usil kelakuan monyet itu, aku jadi teringat film kera sakti yang memang sama usilnya dengan monyet itu. Semua itu didasar dengan sikap penasaran mereka yang minta ampun.
Kami mengakhiri permainan kami dengan monyet-monyet dan melanjutkan perjalanan kami untuk sampai ke puncak. Jadwal kami lumayan longgar jadi kami tidak terburu-buru, kami dapat menikmati pemandangan dan mengambil foto-foto. Tetapi kendala paling utama adalah medan tempat kami berjalan yang curam dan berliku-liku.
Kaki yang pegal dan nafas yang terengah-engah seakan menjadi resiko dari perjalanan ini. Apalagi ditambah dengan barang bawaan kami yang begitu beratnya sampai membuat membungkuk-bungkuk. Aku membawa gitarku yang tidak mau jauh dari pemiliknya sehingga penderitaanku semakin lengkap. Puncaknya adalah pada siang hari, ketika matahari bersinar terik membakar kami semua. Seakan mau mati saja aku, tetapi setelah kupikir-pikir matiku mungkin tidak akan bisa menjadi tenang mengingat siksa neraka yang siap menunggu orang penuh dosa-dosa sepertiku. Terutama dosa ketika menonton video porno yang seringkali aku lihat. Oh Tuhan… dimanapun engkau berada aku mohon ampun, aku tidak tahan lagi Tuhan. Aku terpaksa melakukannya, menonton video bejat itu karena tekanan batin dari nafsu ABG yang begitu besarnya.
Namun aku bersyukur akhir-akhir ini kebejatanku mulai berkurang. Mungkin karena aku telah resmi berpacaran dengan Nurul yang sering memarahiku jika mulai lihat-lihat yang begituan. Aku juga heran dia mau juga dengan orang seperti aku, sabar sekali dia. Oleh karena itu aku akan berusaha sekeras-kerasnya agar dia tidak akan pernah meninggalkanku.
Di sepanjang jalan aku bergandengan dengan Nurul, takut jika Ia terpeleset dan jatuh. Membuat teman-temanku melayangkan pandangan yang seakan bermaksud “Woy di sini bukan hanya tempat kalian berdua, sadar diri dong”. Namun aku tidak peduli, kapan lagi coba ada saat-saat indah seperti ini. Dengan romantis mendaki gunung dengan orang yang aku sayangi.
Satu-satunya yang mengganjal pikiranku dari dulu hingga kini tak lain dan tak bukan adalah mereka berdua. Ya, itu adalah Nino dan Mawar yang sangat aneh itu. Bagaimana tidak? Sepasang lelaki dan perempuan yang selalu bersama namun tidak berpacaran. Bagiku hal itu sungguh di luar akal, hanya cowok banci yang sanggup seperti itu. Kalau aku jadi Nino mungkin aku telah lama pacaran dengan Mawar.
Aku melihat dengan mata kepala sendiri ketika tindakan-tindakan Nino yang selalu melindungi Mawar sebagai bukti. Salah satunya adalah ketika Ia merengkuh Mawar ketika Ia terpeleset kemarin. Aku bingung sekali melihat perilaku Nino, dan kenapa Mawar juga selama itu tidak merasakan ada yang aneh. Apakah Mawar selama ini hanya memanfaatkan Nino saja?
Jam demi jam terus berlalu bagai tahun menahun. Akhirnya setelah perjalanan yang lama dan melelahkan kami sampai juga ke puncak gunung Lawu. Tepat pada sore hari sesuai dengan jadwal yang kami rencanakan. Pemandangan di atas juga sangat indah, seakan-akan kami ini telah sampai pada negri yang mengambang di atas awan. Karena ketika melihat sekeliling yang tampak adalah lautan awan putih bersih bagai arum manis. Serta hilanglah semua pegal yang terasa selama ini, seluruhnya terbayar habis oleh indahnya pemandangan ciptaan Tuhan ini.
Aku lalu berjalan mendaki Nurul, lalu merangkul pundak mungilnya lembut. Kami berdua tersenyum terpaku menikmati ajaibnya alam dapat menjadi. Tanah di atas awan! Bayangkanlah itu dalam mimpimu yang paling jauh. Bagaimana mungkin ternyata kejadian yang aku kira hanya di film-film barat ada di dunia asli. Bahkan ratusan, ribuan kali lebih indah. Ditambah lagi waktu senja yang menghadiahkan kita jakpot pemandangan sang mentari ketika jatuh menyelam ke balik awan.
Menit berlalu dan langit yang tadinya putih bersih menjadi semakin lama semakin berwarna merah bersemu jingga. Matahari telihat besar dan hangat, seakan memberikan senyum terakhirnya sebelum kembali ke peraduan. Alam sungguh sangat indah. Berani-beraninya kita, mahluk kerdil mungil bernama manusia yang selama ini merusak dan menyakiti alam. Sadarlah kawan, kita semua hidup dalam alam, menghirup udara alam, makan dan minum dari hasil alam. Kok bisa-bisanya kita dengan jahatnya mengkhianati alam ini?
Ditengah asyiknya melihat dan menikmati matahari terbenam, tiba-tiba kami tersadar untuk segera membuat tenda sebelum nanti malam tiba. Selanjutnya kami bahu-membahu mendirikan tenda dan yang lain mencari ranting-ranting yang terjatuh dari pohon-pohon hutan.

Tali ditarik dan tikar dibentangkan, kayu dibakar dan akhirnya semua selesai. Kami semua telah memilikki persiapan lebih dari sekedar cukup untuk melewati malam yang pasti akan teramat sangat dingin ini. Sebagai antisipasi kami juga memakai pakaian dan jaket tebal dilengkapi dengan sarung tangan dan kaos kaki yang menjamin kenyamanan kami sepanjang malam.

No comments:

Post a Comment