Dony POV
Setelah acara camping yang lumayan,
hanya lumayan keren itu, aku dan semua anggota ekskul astronomi lainnya
memberesi sisa-sisa kehidupan yang mungkin kami tinggalkan. Bunyi ayam kokok
(atau ayam hutan) bersahutan dimana-mana, disambut lagi dengan sahutan suara
hewan-hewan yang tidak aku ketahui pasti dimana letaknya. Mungkin mereka sedang
bersapaan satu sama lain, sebagai penambah semangat untuk mengawali hari.
Mengingat-ingat tentang ayam membuat perutku keroncongan. Terbayang iklan-iklan
televisi yang banyak menayangkan produk-produk ayam goreng yang hmmm kriuk..
kriukk.. penuh kenikmatan. Lebih lagi model iklannya lucu banget kalau lagi
makan, ih.. jadi pengen nyubit pipinya gitu.
Sialnya makanan hari ini sama
seperti makanan pada hari berkemah sebelumnya. Hanya satu menu tunggal: mie
instant. Tetapi itu masih dapat mengganjal perutku yang berbunyi nyaring ditengah
dinginnya pagi ini.
Langit masih gelap, belum ada
tanda-tanda bagi mentari untuk menunjukkan cahayanya. Seakan masih tertidur
lelap malas untuk muncul kembali ke dunia yang telah bosan dipandangnya. Tetapi
para penduduk hutan tempat kami berkemah sudah terlebih dahulu terbangun dan
mencari makan untuk mengisi perut.
Kami juga telah terbangun, ketika
waktu telah menunjukkan pukul 04.00 Ramlan si anak yang tak bisa bercanda itu
telah membangunkanku dari mimpi indahku bersama model-model bikini pantai
cantik. Sialnya dan sialnya lagi aku harus terbangun dari mimpiku yang terasa
amat sangat singkat itu.
Kami membereskan setiap sisa dari
perkemahan kami. Tenda-tenda kami lipat kembali dan sampah-sampah kami masukkan
ke kantong plastik yang nantinya akan dibuang di tempat pembuangan sampah di
dekat telaga. Oh Tuhan, andai saja engkau menciptakan mahluk yang dapat memakan
plastik dan sampah. Pasti saja dunia ini akan bersih sejadi-jadinya.
Sesudah membereskan semuanya
tiba-tiba terdengar suara jerit ketakutan seorang wanita. Ternyata itu adalah
Nurul, ia berteriak ketakutan karena sesuatu yang bergerak-gerak di atas pohon
tepat di atasnya. Setelah diamati baik-baik ternyata itu adalah segerombolan
monyet berekor panjang yang berayun-ayun mencari makan. Beberapa bahkan juga
sempat mendatangi kami dan mengambil barang-barang pribadi. Sungguh usil
kelakuan monyet itu, aku jadi teringat film kera sakti yang memang sama usilnya
dengan monyet itu. Semua itu didasar dengan sikap penasaran mereka yang minta
ampun.
Kami mengakhiri permainan kami
dengan monyet-monyet dan melanjutkan perjalanan kami untuk sampai ke puncak.
Jadwal kami lumayan longgar jadi kami tidak terburu-buru, kami dapat menikmati
pemandangan dan mengambil foto-foto. Tetapi kendala paling utama adalah medan
tempat kami berjalan yang curam dan berliku-liku.
Kaki yang pegal dan nafas yang
terengah-engah seakan menjadi resiko dari perjalanan ini. Apalagi ditambah
dengan barang bawaan kami yang begitu beratnya sampai membuat
membungkuk-bungkuk. Aku membawa gitarku yang tidak mau jauh dari pemiliknya
sehingga penderitaanku semakin lengkap. Puncaknya adalah pada siang hari,
ketika matahari bersinar terik membakar kami semua. Seakan mau mati saja aku,
tetapi setelah kupikir-pikir matiku mungkin tidak akan bisa menjadi tenang
mengingat siksa neraka yang siap menunggu orang penuh dosa-dosa sepertiku.
Terutama dosa ketika menonton video porno yang seringkali aku lihat. Oh Tuhan…
dimanapun engkau berada aku mohon ampun, aku tidak tahan lagi Tuhan. Aku
terpaksa melakukannya, menonton video bejat itu karena tekanan batin dari nafsu
ABG yang begitu besarnya.
Namun aku bersyukur akhir-akhir ini
kebejatanku mulai berkurang. Mungkin karena aku telah resmi berpacaran dengan
Nurul yang sering memarahiku jika mulai lihat-lihat yang begituan. Aku juga
heran dia mau juga dengan orang seperti aku, sabar sekali dia. Oleh karena itu
aku akan berusaha sekeras-kerasnya agar dia tidak akan pernah meninggalkanku.
Di sepanjang jalan aku bergandengan
dengan Nurul, takut jika Ia terpeleset dan jatuh. Membuat teman-temanku
melayangkan pandangan yang seakan bermaksud “Woy di sini bukan hanya tempat
kalian berdua, sadar diri dong”. Namun aku tidak peduli, kapan lagi coba ada
saat-saat indah seperti ini. Dengan romantis mendaki gunung dengan orang yang
aku sayangi.
Satu-satunya yang mengganjal
pikiranku dari dulu hingga kini tak lain dan tak bukan adalah mereka berdua.
Ya, itu adalah Nino dan Mawar yang sangat aneh itu. Bagaimana tidak? Sepasang
lelaki dan perempuan yang selalu bersama namun tidak berpacaran. Bagiku hal itu
sungguh di luar akal, hanya cowok banci yang sanggup seperti itu. Kalau aku
jadi Nino mungkin aku telah lama pacaran dengan Mawar.
Aku melihat dengan mata kepala
sendiri ketika tindakan-tindakan Nino yang selalu melindungi Mawar sebagai
bukti. Salah satunya adalah ketika Ia merengkuh Mawar ketika Ia terpeleset
kemarin. Aku bingung sekali melihat perilaku Nino, dan kenapa Mawar juga selama
itu tidak merasakan ada yang aneh. Apakah Mawar selama ini hanya memanfaatkan Nino
saja?
Jam demi jam terus berlalu bagai
tahun menahun. Akhirnya setelah perjalanan yang lama dan melelahkan kami sampai
juga ke puncak gunung Lawu. Tepat pada sore hari sesuai dengan jadwal yang kami
rencanakan. Pemandangan di atas juga sangat indah, seakan-akan kami ini telah
sampai pada negri yang mengambang di atas awan. Karena ketika melihat
sekeliling yang tampak adalah lautan awan putih bersih bagai arum manis. Serta
hilanglah semua pegal yang terasa selama ini, seluruhnya terbayar habis oleh
indahnya pemandangan ciptaan Tuhan ini.
Aku lalu berjalan mendaki Nurul, lalu
merangkul pundak mungilnya lembut. Kami berdua tersenyum terpaku menikmati
ajaibnya alam dapat menjadi. Tanah di atas awan! Bayangkanlah itu dalam mimpimu
yang paling jauh. Bagaimana mungkin ternyata kejadian yang aku kira hanya di
film-film barat ada di dunia asli. Bahkan ratusan, ribuan kali lebih indah.
Ditambah lagi waktu senja yang menghadiahkan kita jakpot pemandangan sang
mentari ketika jatuh menyelam ke balik awan.
Menit berlalu dan langit yang
tadinya putih bersih menjadi semakin lama semakin berwarna merah bersemu
jingga. Matahari telihat besar dan hangat, seakan memberikan senyum terakhirnya
sebelum kembali ke peraduan. Alam sungguh sangat indah. Berani-beraninya kita,
mahluk kerdil mungil bernama manusia yang selama ini merusak dan menyakiti
alam. Sadarlah kawan, kita semua hidup dalam alam, menghirup udara alam, makan
dan minum dari hasil alam. Kok bisa-bisanya kita dengan jahatnya mengkhianati
alam ini?
Ditengah asyiknya melihat dan
menikmati matahari terbenam, tiba-tiba kami tersadar untuk segera membuat tenda
sebelum nanti malam tiba. Selanjutnya kami bahu-membahu mendirikan tenda dan
yang lain mencari ranting-ranting yang terjatuh dari pohon-pohon hutan.
Tali
ditarik dan tikar dibentangkan, kayu dibakar dan akhirnya semua selesai. Kami
semua telah memilikki persiapan lebih dari sekedar cukup untuk melewati malam
yang pasti akan teramat sangat dingin ini. Sebagai antisipasi kami juga memakai
pakaian dan jaket tebal dilengkapi dengan sarung tangan dan kaos kaki yang
menjamin kenyamanan kami sepanjang malam.

No comments:
Post a Comment