Mawar POV
Perjalanan akhirnya telah usai,
begitu juga semua rasa mengantukku yang telah habis di bus tadi. Jadwal kita
setelah ini adalah makan siang bersama di restaurant hotel bintang tiga itu,
dengan menu nasi goreng mawut bersama es teh manis. Sesudah waktu istirahat
untuk sholat dan makan siang lumayan lama, kami yang berjumlah sekitar 20 orang
bergerak menuju telaga sarangan.
Telaga alami yang terletak pas di depan
penginapan kami itu menyediakan pemandangan menyejukkan mata siapapun yang
memandangnya. Air tenang permukaannya memantulkan berbagai macam warna langit
yang bersatu dama harmoni keindahan. Momen indah yang menenangkan jiwa itu kami
abadikan bersama-sama, lewat ponsel HP atau juga kamera SLR yang kami bawa.
Telaga ini memilikki sebuah legenda,
yaitu konon dahulu di dalam telaga ini bersemayam seekor naga. Naga itu membuat
sarang yang kalau istilah jawanya adalah ngerong
atau menggali satu lubang di dalam tanah untuk pintu masuk sarang dan satu
lubang lagi untuk pintu keluar. Dua lubang itu kemudian terisi oleh air hujan
sehingga menjadi telaga. Bisa jadi oleh karena itu telaga ini disebut telaga
sarangan yang diambil dari kata sarang yang bermaksud sarang hewan. Mungkin itu
juga mengapa terdapat dua telaga yang salah satunya terletak di bagian bawah
gunung dan telah kami lewati tadi.
Kami berjalan-jalan menikmati
indahnya suasana alam ciptaan Tuhan yang maha pengasih. Sesaat itu hilang semua
rasa sedihku dan keraguanku yang masih tersisa di hati karena ternyata Tuhan
begitu mulianya hingga menciptakan alam seindah ini untuk manusia. Karena
melihat ada penyewan kuda, beberapa dari kami menyewa kuda tunggangan yang bisa
kami bawa untuk berkeliling di sekitar telaga sarangan.
Bapak yang menawarkan jasa
penyewaan kuda memasang tarif lumayan mahal, 70 ribu rupiah sekali putaran
telaga sarangan. Aku, Nino, Ramlan, Dony, dan beberapa temanku yang lain setuju
untuk menunggang kuda mengelilingi telaga. Suasana menjadi sangat seru ketika
kami berlomba-lomba untuk menyalip satu sama lain yang anehnya dengan mengajak
bicara kuda. “Hei kuda ayo lari, jangan mau kalah sama kuda payah si Nino.”
Ucapku membentak kuda tungganganku.
“Kudaku cepatlah berlari, secepat
angin menyongsong mentari. Keluarkan jet supermu whusshh. Kepakkanlah sayapmu”
Ucap Dony mengada-ada. Tak mau kalah dengan aku dan yang lainnya.
“Ayo kuda santai aja gak papa kok,
aku sudah bersyukur memilikki kuda penurut seperti kamu ini.” Kata Nino dengan
santai saat kudanya berada di urutan paling belakang sendiri, berbeda dengan teman-teman
yang lain.
Saat menunggang kuda kami harus
berhati-hati agar tidak menubruk orang yang sedang berjalan dan juga kios-kios
di pinggir jalan. Juga jangan sampai tertabrak kendaraan lain. Hal yang
terpenting adalah jangan sampai kudanya nyleneh sehingga nyasar masuk ke hotel
seperti nasibnya Dony yang sangat sial itu.
Anehnya yang memenangkan pacuan
kuda itu adalah Nino, dan membuat kami semua keheranan. Ia menyalip kuda tunggangan
kami satu persatu dengan mudahnya hingga akhirnya sampai ke depan. Dia dengan
wajah coolnya dan rambut hitamnya yang berkilau berkibar-kibar tertiup angin serta
postur tubuhnya yang tinggi atletis bagai memancarkan aura bersinar ke mata
kita semua. Mulai dari saat itu kami menyebutnya dewa pacuan kuda.
Perlombaan tidak berhenti sampai
situ. Kami segera menuju telaga sarangan untuk menyewa speedboat yang diberi
tarif lumayan mahal sekitar 80 ribu rupiah sekali putar telaga sarangan. Namun
itu tak menghentikan tekad kami yang sedari tadi membara. Kami segera
berlomba-lomba memberi komando kepada supir speedboat kami, satu speedboat
diisi oleh 4 orang. Aku satu speedboat dengan Nurul, Nino, Ramlan, dan Dony.
Bersaing dengan teman-temanku yang lain.
Yash! Dengan komando Ramlan yang
akurat kami berhasil memenangkan perlombaan speedboat itu. Meski dengan baju
basah akibat terciprat air telaga yang bersuhu dingin sekali. Karena itu kami
pergi kembali ke hotel dan mengganti baju kami yang basah kuyup.
Jadwal kami selanjutnya adalah
istirahat sampai dengan makan malam. Waktu istirahat itu kami gunakan untuk
beribadah dan membersihkan diri, untungnya kamar mandi hotel dilengkapi dengan
air hangat yang melegakan tubuh kami yang kedinginan.
Saat makan malam pun tiba, kami
makan malam bersama tetap di restaurant hotel, dengan menu nasi rawon dan
angsle ronde hangat. Menu makan malam kami kali ini menghangatkan raga kami
yang kedinginan juga jiwa kami, yaitu dengan ditambah hangatnya obrolan-obrolan
maupun sendau gurau teman-teman terdekat.
Akhirnya kami selesai melakukan
aktivitas kami yang sangat melelahkan dan segera menuju kamar masing-masing
untuk beristirahat. Meski banyak dari kami yang tidak langsung menuju tempat tidur
dan malah main kartu atau menonton TV bersama. Karena kami akan sangat
menyayangkan jika momen kebersamaan ini berlalu begitu cepat.
Alhasil keesokkan harinya kami
terbangun dengan pelupuk mata yang masih berat, kepala kami seakan tidak mau
lepas dari bantal. Melewati perjuangan yang sulit akhirnya kami bersama-sama
menuju salah satu kios sate kelinci di pinggir telaga untuk mendapatkan sarapan
enak, unik, dan murah. Banyak dari teman perempuanku yang tidak doyan memakannya
dikarenakan hewan itu sangat lucu. Namun aku tidak peduli, toh kelincinya sudah
mati sebelum aku memakannya, jadi bukan aku yang membunuh kelincinya kan?
Lagipula makanan harus dihargai karena banyak orang di luar sana yang tidak
punya makanan sama sekali.
Dua porsi sate kelinci telah aku
habiskan, kami lalu bersiap untuk berjalan-jalan sekeliling telaga. Aku
melihat-lihat berbagai cindermata yang mungkin dapat aku bawa ke rumah sebagai
oleh-oleh untuk kedua orang tuaku. Namun tak ada yang sesuai keinginanku karena
mata jeliku membedakan aspek keseimbangan antara harga dan kualitas, dan yang
aku lihat keseimbangan itu tidak ada sama sekali. Jadi aku hanya melewati
kios-kios penjual cinderamata tanpa menggubris tawaran mereka.
Sayangnya, keadaan cuaca saat ini
sedang tidak bersahabat. Langit yang sejak tadi mendung akhirnya menuang apa
yang telah menjadi isinya. Dari gerimis kecil sampai hujan deras yang
mengakibatkan kami harus berlari kembali ke hotel. Berlari dengan hati-hati karena jalan menanjak yang licin terkena air
hujan.
Sisa hari ini kami habiskan dengan
istirahat di hotel sambil bermain game yang kami bawa dari rumah. Walaupun aku
perempuan aku tetap suka permainan anak cowok yang menurutku lebih mengasikkan
daripada game cewek-cewek yang boring banget. PES dan FIFA adalah dua game
sepakbola yang menjadi permainan favoritku. Aku kemudian juga menonton film
action di TV kabel bersama teman-teman satu kamarku.
Di malam hari ternyata hujan sudah
sepenuhnya berhenti. Kami mencari kios jagung bakar untuk makan malam. Setelah
menemukan salah satu kios yang cukup besar untuk kami semua, kami mulai memesan
rasa jagung bakar yang akan menjadi makan malam kami. Acara makan jagung bakar
semakin nikmat ditemani dengan terang rembulan yang masih terlihat sangat
terang karena tidak terkena polusi udara. Juga terlihat di bawah gunung kerlap-kerlip
lampu yang terlihat sangat indah. Ditambah lagi dengan alunan musik deburan air
telaga yang bergerak-gerak pelan.
Kami mengakhiri hari itu dengan
ceria walaupun tadi sore hujan deras sekali. Di sela-sela hujan juga terdapat
kegembiraan, yaitu rasa damai yang semakin mendekatkan kami semua. Kedekatan
kami bahkan terasa seperti keluarga, saling memperhatikan dan menjaga satu sama
lain. Kami saling mengingatkan jika berbuat salah dan mendukung satu sama lain.
Tidak pernah dalam hati kami terpercik rasa iri dengki maupun kecemburuan. Itu
yang aku yakin pasti.

No comments:
Post a Comment