Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-12

Dewa Pacuan Kuda
Mawar POV
Perjalanan akhirnya telah usai, begitu juga semua rasa mengantukku yang telah habis di bus tadi. Jadwal kita setelah ini adalah makan siang bersama di restaurant hotel bintang tiga itu, dengan menu nasi goreng mawut bersama es teh manis. Sesudah waktu istirahat untuk sholat dan makan siang lumayan lama, kami yang berjumlah sekitar 20 orang bergerak menuju telaga sarangan.
Telaga alami yang terletak pas di depan penginapan kami itu menyediakan pemandangan menyejukkan mata siapapun yang memandangnya. Air tenang permukaannya memantulkan berbagai macam warna langit yang bersatu dama harmoni keindahan. Momen indah yang menenangkan jiwa itu kami abadikan bersama-sama, lewat ponsel HP atau juga kamera SLR yang kami bawa.
Telaga ini memilikki sebuah legenda, yaitu konon dahulu di dalam telaga ini bersemayam seekor naga. Naga itu membuat sarang yang kalau istilah jawanya adalah ngerong atau menggali satu lubang di dalam tanah untuk pintu masuk sarang dan satu lubang lagi untuk pintu keluar. Dua lubang itu kemudian terisi oleh air hujan sehingga menjadi telaga. Bisa jadi oleh karena itu telaga ini disebut telaga sarangan yang diambil dari kata sarang yang bermaksud sarang hewan. Mungkin itu juga mengapa terdapat dua telaga yang salah satunya terletak di bagian bawah gunung dan telah kami lewati tadi.
Kami berjalan-jalan menikmati indahnya suasana alam ciptaan Tuhan yang maha pengasih. Sesaat itu hilang semua rasa sedihku dan keraguanku yang masih tersisa di hati karena ternyata Tuhan begitu mulianya hingga menciptakan alam seindah ini untuk manusia. Karena melihat ada penyewan kuda, beberapa dari kami menyewa kuda tunggangan yang bisa kami bawa untuk berkeliling di sekitar telaga sarangan.
Bapak yang menawarkan jasa penyewaan kuda memasang tarif lumayan mahal, 70 ribu rupiah sekali putaran telaga sarangan. Aku, Nino, Ramlan, Dony, dan beberapa temanku yang lain setuju untuk menunggang kuda mengelilingi telaga. Suasana menjadi sangat seru ketika kami berlomba-lomba untuk menyalip satu sama lain yang anehnya dengan mengajak bicara kuda. “Hei kuda ayo lari, jangan mau kalah sama kuda payah si Nino.” Ucapku membentak kuda tungganganku.
“Kudaku cepatlah berlari, secepat angin menyongsong mentari. Keluarkan jet supermu whusshh. Kepakkanlah sayapmu” Ucap Dony mengada-ada. Tak mau kalah dengan aku dan yang lainnya.
“Ayo kuda santai aja gak papa kok, aku sudah bersyukur memilikki kuda penurut seperti kamu ini.” Kata Nino dengan santai saat kudanya berada di urutan paling belakang sendiri, berbeda dengan teman-teman yang lain.
Saat menunggang kuda kami harus berhati-hati agar tidak menubruk orang yang sedang berjalan dan juga kios-kios di pinggir jalan. Juga jangan sampai tertabrak kendaraan lain. Hal yang terpenting adalah jangan sampai kudanya nyleneh sehingga nyasar masuk ke hotel seperti nasibnya Dony yang sangat sial itu.
Anehnya yang memenangkan pacuan kuda itu adalah Nino, dan membuat kami semua keheranan. Ia menyalip kuda tunggangan kami satu persatu dengan mudahnya hingga akhirnya sampai ke depan. Dia dengan wajah coolnya dan rambut hitamnya yang berkilau berkibar-kibar tertiup angin serta postur tubuhnya yang tinggi atletis bagai memancarkan aura bersinar ke mata kita semua. Mulai dari saat itu kami menyebutnya dewa pacuan kuda.
Perlombaan tidak berhenti sampai situ. Kami segera menuju telaga sarangan untuk menyewa speedboat yang diberi tarif lumayan mahal sekitar 80 ribu rupiah sekali putar telaga sarangan. Namun itu tak menghentikan tekad kami yang sedari tadi membara. Kami segera berlomba-lomba memberi komando kepada supir speedboat kami, satu speedboat diisi oleh 4 orang. Aku satu speedboat dengan Nurul, Nino, Ramlan, dan Dony. Bersaing dengan teman-temanku yang lain.
Yash! Dengan komando Ramlan yang akurat kami berhasil memenangkan perlombaan speedboat itu. Meski dengan baju basah akibat terciprat air telaga yang bersuhu dingin sekali. Karena itu kami pergi kembali ke hotel dan mengganti baju kami yang basah kuyup.
Jadwal kami selanjutnya adalah istirahat sampai dengan makan malam. Waktu istirahat itu kami gunakan untuk beribadah dan membersihkan diri, untungnya kamar mandi hotel dilengkapi dengan air hangat yang melegakan tubuh kami yang kedinginan.
Saat makan malam pun tiba, kami makan malam bersama tetap di restaurant hotel, dengan menu nasi rawon dan angsle ronde hangat. Menu makan malam kami kali ini menghangatkan raga kami yang kedinginan juga jiwa kami, yaitu dengan ditambah hangatnya obrolan-obrolan maupun sendau gurau teman-teman terdekat.
Akhirnya kami selesai melakukan aktivitas kami yang sangat melelahkan dan segera menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Meski banyak dari kami yang tidak langsung menuju tempat tidur dan malah main kartu atau menonton TV bersama. Karena kami akan sangat menyayangkan jika momen kebersamaan ini berlalu begitu cepat.
Alhasil keesokkan harinya kami terbangun dengan pelupuk mata yang masih berat, kepala kami seakan tidak mau lepas dari bantal. Melewati perjuangan yang sulit akhirnya kami bersama-sama menuju salah satu kios sate kelinci di pinggir telaga untuk mendapatkan sarapan enak, unik, dan murah. Banyak dari teman perempuanku yang tidak doyan memakannya dikarenakan hewan itu sangat lucu. Namun aku tidak peduli, toh kelincinya sudah mati sebelum aku memakannya, jadi bukan aku yang membunuh kelincinya kan? Lagipula makanan harus dihargai karena banyak orang di luar sana yang tidak punya makanan sama sekali.
Dua porsi sate kelinci telah aku habiskan, kami lalu bersiap untuk berjalan-jalan sekeliling telaga. Aku melihat-lihat berbagai cindermata yang mungkin dapat aku bawa ke rumah sebagai oleh-oleh untuk kedua orang tuaku. Namun tak ada yang sesuai keinginanku karena mata jeliku membedakan aspek keseimbangan antara harga dan kualitas, dan yang aku lihat keseimbangan itu tidak ada sama sekali. Jadi aku hanya melewati kios-kios penjual cinderamata tanpa menggubris tawaran mereka.
Sayangnya, keadaan cuaca saat ini sedang tidak bersahabat. Langit yang sejak tadi mendung akhirnya menuang apa yang telah menjadi isinya. Dari gerimis kecil sampai hujan deras yang mengakibatkan kami harus berlari kembali ke hotel. Berlari dengan hati-hati  karena jalan menanjak yang licin terkena air hujan.
Sisa hari ini kami habiskan dengan istirahat di hotel sambil bermain game yang kami bawa dari rumah. Walaupun aku perempuan aku tetap suka permainan anak cowok yang menurutku lebih mengasikkan daripada game cewek-cewek yang boring banget. PES dan FIFA adalah dua game sepakbola yang menjadi permainan favoritku. Aku kemudian juga menonton film action di TV kabel bersama teman-teman satu kamarku.
Di malam hari ternyata hujan sudah sepenuhnya berhenti. Kami mencari kios jagung bakar untuk makan malam. Setelah menemukan salah satu kios yang cukup besar untuk kami semua, kami mulai memesan rasa jagung bakar yang akan menjadi makan malam kami. Acara makan jagung bakar semakin nikmat ditemani dengan terang rembulan yang masih terlihat sangat terang karena tidak terkena polusi udara. Juga terlihat di bawah gunung kerlap-kerlip lampu yang terlihat sangat indah. Ditambah lagi dengan alunan musik deburan air telaga yang bergerak-gerak pelan.

Kami mengakhiri hari itu dengan ceria walaupun tadi sore hujan deras sekali. Di sela-sela hujan juga terdapat kegembiraan, yaitu rasa damai yang semakin mendekatkan kami semua. Kedekatan kami bahkan terasa seperti keluarga, saling memperhatikan dan menjaga satu sama lain. Kami saling mengingatkan jika berbuat salah dan mendukung satu sama lain. Tidak pernah dalam hati kami terpercik rasa iri dengki maupun kecemburuan. Itu yang aku yakin pasti.

No comments:

Post a Comment