Mawar POV
Sejak perpisahan SMA aku tidak
pernah melihat Nino lagi. Aku disini disibukkan oleh kegiatanku yang segudang,
jurnalistik, pengabdian masyarakat, pergi bermain dengan teman-teman semuanya
aku lakoni. Itu pula yang menyebabkan aku memiliki banyak teman, yang menjadi
penggganti Nino si brengsek itu. Ia tidak pernah sekalipun mengirim kabar
kepadaku, melalui chatting maupun yang lainnya.
Temanku yang bilang Ia sekarang
menjadi anak culun dan tidak pernah bergaul dengan teman sebayanya. Tetapi aku tak
menyisakan sedikitpun rasa kasihan untuknya, semua habis ketika Ia memutuskan
untuk meninggalkanku. Sampai sekarangpun aku masih tidak mengerti tentang
tingkahnya yang aneh, dan juga berbagai kesalahannya yang ia tinggalkan begitu
saja tak bertanggung jawab, apakah selama ini persahabatan kita tak berarti
sedikitpun bagi Nino? Bukanlah sifatnya untuk melakukan sesuatu tanpa alasan.
Selama ini keputusannya selalu didasarkan oleh logika dan rasionalitas.
“Eh Dony, Nurul, sini dong.” Sapaku
kepada Nurul dan Dony yang kebetulan lewat di depan jurusanku. Kita bertiga
sering sekali bertemu, karena memang kita belajar di kampus yang sama. Mereka
selalu terlihat mesra berdua sedari pacaran di SMA.
Mereka masih terlihat sama seperti
jaman SMA dulu, tidak ada yang berubah. Lucu melihatnya bahwa segalanya masih
tetap sama, kecuali kehadiran Nino.
“Apaan War? Tumben mau ngomong sama
kita, rakyat jelata. Mentang-mentang putri kampus.” Ejek Nurul sengit kepadaku,
tetapi aku tahu dalam hatinya Ia senang berkesempatan berbincang denganku lagi.
“Haduh Rul, jangan gitu dong.
Kalian kan sudah sohibku dari SMA. Boleh dong aku minta tolong. Yah, please…”
Pinta Mawar.
“Yaelah ngomong ke kita kalo ada
butuhnya aja. Yaudah deh cepetan bilang.” Ucap Dony tak sabaran.
“Kalian kan habis liburan berdua ke
bandung(ehm..ehm..) kalian denger kabar-kabar nggak tentang Nino?” Tanya Mawar.
“Nino? Nino temen SMA dulu? Aku
kira kalian berdua dulu pacaran, deket banget sih soalnya. Ealah ternyata cuman
sahabatan. Kalian dulu sempet tengkar kan.” Kata Nurul yang membuka luka lama
di hatiku.
“Kita ke bandung pernah
kontak-kontak sih sama alumni SMA 1 yang ada disana. Katanya dia gak pernah
ngampus, bolos terus gitu. Yaa gak terkenal kayak kamu juga, terus banyak yang
bilang dia sering keluar-masuk rumah sakit. Mungkin kerja part-time kali
disana.” Jelas Dony.
“Haha kerja part-time? Yang aku
tahu Nino itu berasal dari keluarga serba berkecukupan, ya meski gak harmonis
sih. Apalagi dia masuk ITB dibiayai beasiswa. Kayak gak mungkin deh dia kerja
part-time.” Ucap Mawar heran.
“Ya mungkin dia mau have fun aja
kali. Dia kan doyan banget ngurusin orang sakit.” Sanggah Dony kepadaku.
“Mungkin sih, Nino kan orangnya
care banget.” Bisik Mawar dalam hati.

No comments:
Post a Comment