3rd Person POV
Sebulan penuh telah berlalu. Sekarang,
hari ini, tepatnya pada tanggal 1 September adalah waktu untuk agenda tahunan
ekstrakulikuler Astronomi SMAN 1 Surabaya yaitu pengamatan fenomena langit
malam di luar sekolah, dan yang pasti Nino yakin jika pengamatan bintang kali
ini akan menjadi sangat spesial. Ya! Apalagi jika bukan karena kehadiran Mawar
yang ikut serta dalam kegiatan ini bersama dengannya.
Jadwal keberangkatan mereka telah
direncanakan ketika masih awal hari sekali yaitu ketika subuh sekitar jam
setengah lima pagi untuk menghindari kemacetan. Maka dari itu sebelum ayam jago
tetangga sempat berkokok Nino sudah terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak
karena terlalu bersemangat untuk pengamatan bintang kali ini.
Sesaat setelah itu Ia menyambar
teropong bintang pemberian Mawar yang sudah Ia letakkan di samping tempat tidur
lalu membersihkannya berulang kali yang sebenarnya tidak terlalu perlu. Lalu
aktivitas Nino berlanjut dengan sholat shubuh dan mandi pagi.
Segera setelah semuanya telah
dipersiapkan termasuk baju ganti dan bekal-bekal untuk camping, Nino
membereskan semuanya dan menuju rumah Mawar yang hanya berbeda jarak 5 rumah
dari rumah Nino. Diapun kemudian sampai di samping rumah Mawar yang tidak berpagar
karena langsung berbatasan dengan pekarangan yang luas.
Dari situ ia bisa melihat kamar
cewek ceroboh itu dari jendela yang bahkan lupa ditutupnya. Sesuai pikiran Nino
ketika melihat jendela kamar Mawar ternyata gadis pemalas itu masih tertidur dengan
pulasnya, “Walah kalau masih tidur begini pasti kita bakal telat nanti.” Pikir Nino
kacau karena ulah sahabatnya itu.
Terlihat di sebelah gadis yang
berparas jelita itu ada telepon gengam. Jadi dengan tergesa, langsung Nino
hubungi untuk membangunkannya. Telfonnya tidak diangkat berkali-kali karena Mawar
mungkin tidak mendengar nada dering handphonenya. Bisa jadi ia tadi malam
tertidur terlalu larut karena asyik bermain game online yang sudah menjadi
kebiasaannya setiap hari sehingga terlambat bangun pagi. Namun penantiannya berakhir
ketika akhirnya Mawar terbangun dan menjawab panggilan masuk dari Nino.
“Hei War ayo bangun. Kita harus
buru-buru biar nanti gak telat buat pergi pengamatan bintang.” Kata Nino dengan
tergesa-gesa.
“Ha? Kamu ngomongin apa sih? Kapan
kita ada acara kayak begituan? Atau mungkin aku ini masih di dalam mimpi ya?
Yaudah aku tidur lagi ya No, bye-bye” Jawab Mawar meracau tidak jelas.
Haduh..kapan sih cewek ini jadi dewasa, pikir Nino.
“Mawar kamu sadar dong. Ini bukan
mimpi! Ini kenyataan War dan kenyataan dapat berubah menjadi lebih buruk ketika
Ramlan tahu kita telat dan menyiksa kita berdua.” Ancam Nino.
“Ya ampuuun iya. Bisa mati kita
kalau disiksa cowok ganas itu. Sebentar No, tungguin aku ya.” Kata Mawar dengan
panik lalu menutup telfon.
Mawar pun
segera mempersiapkan sesuatu yang dibutuhkan dalam waktu 5 menit. Hal itu telah
menjadi kemampuannya yang paling dapat diandalkan di saat seperti ini, yaitu
dengan mempersiapkan segalanya dalam waktu yang singkat. Memang dewi terlambat
yang satu itu sudah ahli dan sudah sering ketika menghadapi masalah seperti
ini. Segera setelah itu Ia menemui Nino dan segera berangkat menuju sekolah
bersama-sama.

No comments:
Post a Comment