Mawar POV
3 tahun telah berlalu di masa
Sekolah Menengah Atas ini. Layaknya kebanyakan orang aku merasa waktu-waktu
tiap detik yang terlewatkan di rumah keduaku ini terasa sangat singkat. Seperti
kemarin rasanya aku baru masuk sekolah ini memulai masa putih abu-abu dan
mengikuti orientasi siswa yang rasa-rasanya meremukkan seluruh tulangku itu.
Seperti minggu lalu aku pergi berkemah di puncak gunung Lawu, mengamati komet
Halley, menukmati indahnya telaga sarangan, meski akhirnya harus berakhir
dengan keadaan yang amat sangat tidak menyenangkan.
Hubunganku dengan Nino terus
memburuk sejak saat itu, aku bukannya bermusuhan dengan sahabatku itu. Namun
seperti hubungan kita tidak bisa diperbaiki kembali seperti sedia kala. Bagaimana
mungkin kami dapat kembali sebagai sahabat biasa ketika dua hati diantara kita
menyimpan perasaan terhadap satu sama lain?
Entah mengapa selama tiga tahun ini
aku merasa kecerobohanku menjalani titik puncaknya. Kemudian entah kenapa pula
aku selalu selamat dari segala masalah secara misterius. Malah Nino yang
biasannya berhati-hati seringkali terkena hukuman dari guru-guru killer,
mungkin itu yang dinamakan karma hehehe. Yah… meskipun nilai UN Nino jauh lebih
tinggi dari pada aku sih.
Rupanya kali ini Nino menyampaikan
pidatonya sebagai wisudawan terbaik di aula SMAN 1 Surabaya. Acara perpisahan
ini sudah lengkap ditambah hidangan mewah dan semua temanku yang berdandan
rapi. Aku sendiri ingin tidak perlu repot-repot untuk mendandani diriku
sendiri, hmm… karena memang dasarnya aku gak suka dandan sih. Tetapi karena
ayah dan ibuku memaksa dengan alasan ini adalah hari spesialku, jadi aku dengan
sangat berat hati menghabiskan dua jam yang berharga hanya untuk membuatku
tampil seperti tante-tante. Ruangan aula tempat acara perpisahan juga dipenuhi
dengan berbagai macam bau parfum yang beraneka rupa, jadi secara keseluruhan
acara ini menjadi agak berlebihan.
Lalu secara urut pembawa acara
memanggil nama kami satu persatu, sambil menyebutkan nilai dan universitas
tempat kami diterima. Aku diterima di universitas airlangga di bidang
kedokteran, dengan nilai yang lumayan. Aku bersyukur dapat diterima sesuai
dengan rencanaku, aku yakin ini adalah yang terbaik untukku.
Tetapi lain halnya bagi Nino, anak
titisan Einstein itu ternyata diterima di Institut Teknologi Bandung di jurusan
teknik sipil. Hal yang sangat membuat kami terkejut ternganga, karena masuk ke
PTN itu adalah seperti menggapai bintang paling terang. Hanya dua orang dari
sekolah kami yang berhasil masuk ke ITB, dan dua-duanya menggunakan jalur
SBMPTN. Kedua orang jenius itu adalah Ramlan dan Nino.
Aku tidak tahu mengapa masih berat
rasanya melepas sahabat karibku itu ke tempat yang sejauh itu. Yah… tapi apa
boleh buat, mungkin itu juga keputusan Nino untuk menghindari dan menjauhiku.
Tetapi tidak mengapa, kalau memang itu maunya. Berarti tidak usah saja kita
bertemu lagi. Seandainya nanti kita berpapasan di jalan anggap saja kita adalah
dua orang yang tidak saling kenal, yang satu berpaling berjalan ke kanan dan
satu lagi berjalan ke kiri. Putuslah sudah semua tali ikatan kita yang terjalin
selama hamper 14 tahun ini. Yang lalu biarlah berlalu, hidup harus terus
dijalani dan bumi masih berputar. Konstelasi bintang tak akan berubah ketika
dua insan manusia berpisah, gedung tak kan runtuh, kesibukkan kota kan masih
seperti biasa. Biarlah semua berlalu seperti ini, hingga akhir masa berhenti.

No comments:
Post a Comment