Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-19

Kelulusan
Mawar POV
3 tahun telah berlalu di masa Sekolah Menengah Atas ini. Layaknya kebanyakan orang aku merasa waktu-waktu tiap detik yang terlewatkan di rumah keduaku ini terasa sangat singkat. Seperti kemarin rasanya aku baru masuk sekolah ini memulai masa putih abu-abu dan mengikuti orientasi siswa yang rasa-rasanya meremukkan seluruh tulangku itu. Seperti minggu lalu aku pergi berkemah di puncak gunung Lawu, mengamati komet Halley, menukmati indahnya telaga sarangan, meski akhirnya harus berakhir dengan keadaan yang amat sangat tidak menyenangkan.
Hubunganku dengan Nino terus memburuk sejak saat itu, aku bukannya bermusuhan dengan sahabatku itu. Namun seperti hubungan kita tidak bisa diperbaiki kembali seperti sedia kala. Bagaimana mungkin kami dapat kembali sebagai sahabat biasa ketika dua hati diantara kita menyimpan perasaan terhadap satu sama lain?
Entah mengapa selama tiga tahun ini aku merasa kecerobohanku menjalani titik puncaknya. Kemudian entah kenapa pula aku selalu selamat dari segala masalah secara misterius. Malah Nino yang biasannya berhati-hati seringkali terkena hukuman dari guru-guru killer, mungkin itu yang dinamakan karma hehehe. Yah… meskipun nilai UN Nino jauh lebih tinggi dari pada aku sih.
Rupanya kali ini Nino menyampaikan pidatonya sebagai wisudawan terbaik di aula SMAN 1 Surabaya. Acara perpisahan ini sudah lengkap ditambah hidangan mewah dan semua temanku yang berdandan rapi. Aku sendiri ingin tidak perlu repot-repot untuk mendandani diriku sendiri, hmm… karena memang dasarnya aku gak suka dandan sih. Tetapi karena ayah dan ibuku memaksa dengan alasan ini adalah hari spesialku, jadi aku dengan sangat berat hati menghabiskan dua jam yang berharga hanya untuk membuatku tampil seperti tante-tante. Ruangan aula tempat acara perpisahan juga dipenuhi dengan berbagai macam bau parfum yang beraneka rupa, jadi secara keseluruhan acara ini menjadi agak berlebihan.
Lalu secara urut pembawa acara memanggil nama kami satu persatu, sambil menyebutkan nilai dan universitas tempat kami diterima. Aku diterima di universitas airlangga di bidang kedokteran, dengan nilai yang lumayan. Aku bersyukur dapat diterima sesuai dengan rencanaku, aku yakin ini adalah yang terbaik untukku.
Tetapi lain halnya bagi Nino, anak titisan Einstein itu ternyata diterima di Institut Teknologi Bandung di jurusan teknik sipil. Hal yang sangat membuat kami terkejut ternganga, karena masuk ke PTN itu adalah seperti menggapai bintang paling terang. Hanya dua orang dari sekolah kami yang berhasil masuk ke ITB, dan dua-duanya menggunakan jalur SBMPTN. Kedua orang jenius itu adalah Ramlan dan Nino.
Aku tidak tahu mengapa masih berat rasanya melepas sahabat karibku itu ke tempat yang sejauh itu. Yah… tapi apa boleh buat, mungkin itu juga keputusan Nino untuk menghindari dan menjauhiku. Tetapi tidak mengapa, kalau memang itu maunya. Berarti tidak usah saja kita bertemu lagi. Seandainya nanti kita berpapasan di jalan anggap saja kita adalah dua orang yang tidak saling kenal, yang satu berpaling berjalan ke kanan dan satu lagi berjalan ke kiri. Putuslah sudah semua tali ikatan kita yang terjalin selama hamper 14 tahun ini. Yang lalu biarlah berlalu, hidup harus terus dijalani dan bumi masih berputar. Konstelasi bintang tak akan berubah ketika dua insan manusia berpisah, gedung tak kan runtuh, kesibukkan kota kan masih seperti biasa. Biarlah semua berlalu seperti ini, hingga akhir masa berhenti.


No comments:

Post a Comment