Mawar POV
Hanya ada satu yang bersemayam di
benakku saat itu. Rasa bingung yang teramat sangat dan ternyata itu dapat
menjelma serupa rasa sakit yang membunuhmu perlahan. Rasa bingung yang membuat
pikiranku dan benakku kacau, tentang hubungan kita selama ini, juga tentang
segala rasa. Rasa bingung yang membuatku takut akan kehilangan sahabat
terbaikku itu.
Aku bertindak pasif selama ini
bukan berarti aku tak pernah merasakan adanya getaran yang takkan mungkin dapat
terjadi pada hubungan persahabatan biasa. Aku memang telah menyadari hal itu
sepenuhnya, tetapi betapa aku bingung akan menyikapinya. Aku bingung akan
berbuat apa jikalau hal yang seperti ini datang. Siapakah Nino bagiku? Teman, sahabat, atau memang lebih dari itu
semua?
Air mataku mengalir deras seakan
tidak mau berhenti. Semakin aku memaksanya berhenti, semakin rasa itu
menjadi-jadi. Selama ini menurutku aku telah berhasil menjadi sosok wanita
tangguh yang selalu aku inginkan, namun mengapa disaat seperti ini hatiku
hancur lebur tak bersisa?
Jika memang terdapat perasaan di
antara kita, mengapa kita tidak menerimanya saja dengan tangan lapang. Mengapa Nino
menolak perasaannya dan menjatuhkan hatiku seperti itu, aku sangat membencinya
karena itu. Namun di sisi lain Nino adalah satu-satunya pegangan yang selalu
ada di kala aku membutuhkannya. Aku takut kehilangan dia, aku takut jika
segalanya tak akan sama seperti dahulu lagi. Ketika kita hanyalah dua remaja
polos yang tumbuh bersama-sama. Namun mengetahui fakta bahwa Ia adalah sahabat
terbaikku, mengapa ia sampai hati melakukan semua ini padaku?
Aku tak ingat kejadiannya namun
kini aku sudah jauh meninggalkan tempatnya berdiri saat ini. Aku berlari untuk
bersembunyi, tidak hanya dari semua anggota ekskul astronomi tapi juga
bersembunyi dari segala rasa perasaanku yang aku tahu dapat meledak
sewaktu-waktu.
Aku menangis sendirian di ujung
tenda. Isak tangisku seakan-akan telah membentuk suatu melodi kesedihan yang
menyayat hatiku sendir. Waktu seakan tak terasa berputar lagi, aku tak tahu
sudah berapa lama aku duduk di situ. Aku berharap tiada siapapun yang
menemukanku di sini, namun takdir berkata lain. Nurul tiba-tiba keluar dari
tenda dan menyadari keberadaanku. Ia langsung menuju padaku dan merangkul
pundakku yang sedang bergetar hebat karena tangis.
“Kenapa War, kamu kan gak pernah
kayak gini. Kenapa kamu tiba-tiba jadi gini. Aku tahu aku gak punya hak untuk
memperoleh informasi apapun dari kamu. Tetapi siapa tahu dengan bercerita
kepadaku sebagai teman perempuanmu
mungkin akan membuatmu merasa lebih baik.” Kata Nurul penuh dengan rasa
pengertian.
“Aku bingung Rul, aku bingung. Aku
tidak tahu lagi.” Kataku dalam tangisanku.
“Bingung kenapa War, cerita dong
sama aku.” Ucap Nurul sambil mengusap puncak kepalaku.
“Nino…” ujarku terbata-bata.
“Nino kenapa War?”
“Nino…Nino… membuat keadaan kita
berubah.” Kataku pelan diselingi dengan isak tangis hebat.
“Gini ajadeh, mungkin saat ini yang
paling kamu butuhkan adalah sendirian. Jadi aku akan ninggalin kamu di sini. Eh
tapi Ramlan udah manggilin kita tuh, katanya mau disuruh ngisi kotak harapan,
gak tau lagi deh itu apaan.” Ucap Nurul. Lalu Nurul berdiri perlahan dan
meninggalkanku sendiri lagi.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan
berusaha mengendalikan perasaan dan isak tangisku. Aku merasa acara pengamatan
bintang kali ini akan sia-sia saja jika aku hanya bersedih. Dasar Nino bajingan
yang membuatku seperti ini. Aku bertekad untuk kembali bersama teman-teman dan
mengikuti acara sampai selesai.
Kemudian kudapati diriku disini
bersama anggota ekskul astronomi lainnya, aku yang pada kenyataannya duduk
bersama teman-temanku tapi entah mengapa aku merasakan kesendirian yang begitu
hebatnya. Kami semua lalu memikirkan hal apa yang akan ditulis di dalam sepucuk
surat rahasia yang akan kami masukkan ke dalam kotak kaleng biskuit yang
disebut kotak harapan.
Aku kemudian berpikiran kacau
balau, aku memaki dan terus memaki Nino dalam surat itu. Tidak lupa aku
menyatakan keegoisannya yang mementingkan perasaannya sendiri. Aku mengatakan
bahwa dia adalah cowok paling brengsek sedunia, bahkan melebihi Faisal. Semua
perasaan benciku aku luapkan dalam surat itu dan menjadikannya penuh dengan
rasa amarah bercampur dengan kesedihan yang teramat sangat. Aku benci. Aku
sangat benci Nino.
Aku meletakkan suratku di dalam
kotak harapan dan aku tutup rapat-rapat. Kami semua lalu menguburkannya di
tanah dekat pohon yang sudah ditandai tak jauh dari situ. Ramlan mengatakan
jika kita mempunyai kesempatan maka 10 tahun lagi kita akan kembali ke sini ke
tempat yang sama. Lalu bersama-sama kami akan membuka ungkapan perasaan kami
bertahun-tahun lalu. Ini adalah ide bagus yang membuatku akan senantiasa akan
teringat akan apa yang Nino lakukan padaku hari ini.
Banyak dari kami yang mengatakan
bahwa di surat di kotak harapannya mereka menulis tentang universitas tujuan
masing-masing. Ada yang di UNAIR, UBAYA, ITS, dan perguruan tinggi negri
lainnya.
Anehnya Nino tidak terlihat pada
acara kali ini. Aku juga tidak peduli, aku sudah menghabiskan semua perasaanku
padanya di isak tangisku tadi.
Aku lelah dengan hari ini. Aku
bergegas masuk ke dalam tenda dan tidur dengan pulas. Aku berharap bahwa ini
semua adalah mimpi dan dengan tertidur aku dapat kembali ke kenyataan yang
lebih indah. Namun harapan gadis pemimpi hanya harapan, tak mungkin jadi kenyataan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buat
kamu, cowok yang sudah rela menghabiskan waktunya untuk cewek bodoh seperti
aku. Mulai dari awal dulu kita bertemu saat masih dalam masa polos anak TK
hingga sudah tumbuh sebesar ini. Kita yang bertempat tinggal hanya berjarak
beberapa rumah dan selalu bersama kemanapun kita pergi. Kamu yang bersama-sama
kita telah menghabiskan berbagai ukiran kenangan dan impian bersama. Kamu yang
denganmu aku leluasa menyampaikan semua keluh kesahku, penat di hatiku, segala
perasaanku. Kamu yang mungkin di antara kita saling menyimpan perasaan kepada
satu sama lain, yang tak terungkap, yang terpendam lama.
Lalu
kamu, kamu yang tega-teganya mengkhianati perasaanku. Kamu yang menghiasi
hatiku dengan sejuta bunga, hanya untuk menginjak-injaknya rata dengan tanah.
Kamu yang dengan kasarnya memadamkan api yang menggelora di dalam hatiku dengan
guyuran air es yang dingin membekukan. Kamu yang meletakkanku di puncak menara
hatimu yang paling tinggi, hanya untuk melihatku jatuh dan terluka.
Aku
mengerti bahwa semua orang berubah, karena pada dasarnya segala bentuk
perubahan itu pasti. Aku juga sadar terdapat perubahan diantara kita. Tapi aku
tak habis pikir bisa-bisanya matahari sore yang hangat dapat berubah menjadi es
kutub yang paling dingin. Aku tak habis pikir kamu yang merupakan satu-satunya
melambungkan segala perasaanku dan kamu adalah orang brengsek yang sama
yang menghancurkan hatiku hingga
berserakkan berkeping-keping. Apakah ini hasil dari persahabatan yang terjadi
selama ini? Apakah kamu ingin memutuskan sepihak hubungan kita selama ini?
Jika mungkin hubungan kita selama ini adalah hanya menuju kepada
kerusakkan. Lebih baik aku menjauhi cowok brengsek seperti kamu. Cowok yang
paling bajingan yang pernah aku kenal. Cowok yang aku harap aku tidak menemui
wajahnya lagi. Cowok yang telah menghiasi hatiku, dan telah mematahkannya
seakan tanpa beban demi kepentingamu sendiri. Aku selalu berharap yang terburuk
untukmu. SELAMANYA.

No comments:
Post a Comment