Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-16


Mawar Benci Nino
Mawar POV
Hanya ada satu yang bersemayam di benakku saat itu. Rasa bingung yang teramat sangat dan ternyata itu dapat menjelma serupa rasa sakit yang membunuhmu perlahan. Rasa bingung yang membuat pikiranku dan benakku kacau, tentang hubungan kita selama ini, juga tentang segala rasa. Rasa bingung yang membuatku takut akan kehilangan sahabat terbaikku itu.
Aku bertindak pasif selama ini bukan berarti aku tak pernah merasakan adanya getaran yang takkan mungkin dapat terjadi pada hubungan persahabatan biasa. Aku memang telah menyadari hal itu sepenuhnya, tetapi betapa aku bingung akan menyikapinya. Aku bingung akan berbuat apa jikalau hal yang seperti ini datang. Siapakah Nino bagiku?  Teman, sahabat, atau memang lebih dari itu semua?
Air mataku mengalir deras seakan tidak mau berhenti. Semakin aku memaksanya berhenti, semakin rasa itu menjadi-jadi. Selama ini menurutku aku telah berhasil menjadi sosok wanita tangguh yang selalu aku inginkan, namun mengapa disaat seperti ini hatiku hancur lebur tak bersisa?
Jika memang terdapat perasaan di antara kita, mengapa kita tidak menerimanya saja dengan tangan lapang. Mengapa Nino menolak perasaannya dan menjatuhkan hatiku seperti itu, aku sangat membencinya karena itu. Namun di sisi lain Nino adalah satu-satunya pegangan yang selalu ada di kala aku membutuhkannya. Aku takut kehilangan dia, aku takut jika segalanya tak akan sama seperti dahulu lagi. Ketika kita hanyalah dua remaja polos yang tumbuh bersama-sama. Namun mengetahui fakta bahwa Ia adalah sahabat terbaikku, mengapa ia sampai hati melakukan semua ini padaku?
Aku tak ingat kejadiannya namun kini aku sudah jauh meninggalkan tempatnya berdiri saat ini. Aku berlari untuk bersembunyi, tidak hanya dari semua anggota ekskul astronomi tapi juga bersembunyi dari segala rasa perasaanku yang aku tahu dapat meledak sewaktu-waktu.
Aku menangis sendirian di ujung tenda. Isak tangisku seakan-akan telah membentuk suatu melodi kesedihan yang menyayat hatiku sendir. Waktu seakan tak terasa berputar lagi, aku tak tahu sudah berapa lama aku duduk di situ. Aku berharap tiada siapapun yang menemukanku di sini, namun takdir berkata lain. Nurul tiba-tiba keluar dari tenda dan menyadari keberadaanku. Ia langsung menuju padaku dan merangkul pundakku yang sedang bergetar hebat karena tangis.
“Kenapa War, kamu kan gak pernah kayak gini. Kenapa kamu tiba-tiba jadi gini. Aku tahu aku gak punya hak untuk memperoleh informasi apapun dari kamu. Tetapi siapa tahu dengan bercerita kepadaku sebagai teman perempuanmu  mungkin akan membuatmu merasa lebih baik.” Kata Nurul penuh dengan rasa pengertian.
“Aku bingung Rul, aku bingung. Aku tidak tahu lagi.” Kataku dalam tangisanku.
“Bingung kenapa War, cerita dong sama aku.” Ucap Nurul sambil mengusap puncak kepalaku.
“Nino…” ujarku terbata-bata.
“Nino kenapa War?”
“Nino…Nino… membuat keadaan kita berubah.” Kataku pelan diselingi dengan isak tangis hebat.
“Gini ajadeh, mungkin saat ini yang paling kamu butuhkan adalah sendirian. Jadi aku akan ninggalin kamu di sini. Eh tapi Ramlan udah manggilin kita tuh, katanya mau disuruh ngisi kotak harapan, gak tau lagi deh itu apaan.” Ucap Nurul. Lalu Nurul berdiri perlahan dan meninggalkanku sendiri lagi.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan berusaha mengendalikan perasaan dan isak tangisku. Aku merasa acara pengamatan bintang kali ini akan sia-sia saja jika aku hanya bersedih. Dasar Nino bajingan yang membuatku seperti ini. Aku bertekad untuk kembali bersama teman-teman dan mengikuti acara sampai selesai.
Kemudian kudapati diriku disini bersama anggota ekskul astronomi lainnya, aku yang pada kenyataannya duduk bersama teman-temanku tapi entah mengapa aku merasakan kesendirian yang begitu hebatnya. Kami semua lalu memikirkan hal apa yang akan ditulis di dalam sepucuk surat rahasia yang akan kami masukkan ke dalam kotak kaleng biskuit yang disebut kotak harapan.
Aku kemudian berpikiran kacau balau, aku memaki dan terus memaki Nino dalam surat itu. Tidak lupa aku menyatakan keegoisannya yang mementingkan perasaannya sendiri. Aku mengatakan bahwa dia adalah cowok paling brengsek sedunia, bahkan melebihi Faisal. Semua perasaan benciku aku luapkan dalam surat itu dan menjadikannya penuh dengan rasa amarah bercampur dengan kesedihan yang teramat sangat. Aku benci. Aku sangat benci Nino.
Aku meletakkan suratku di dalam kotak harapan dan aku tutup rapat-rapat. Kami semua lalu menguburkannya di tanah dekat pohon yang sudah ditandai tak jauh dari situ. Ramlan mengatakan jika kita mempunyai kesempatan maka 10 tahun lagi kita akan kembali ke sini ke tempat yang sama. Lalu bersama-sama kami akan membuka ungkapan perasaan kami bertahun-tahun lalu. Ini adalah ide bagus yang membuatku akan senantiasa akan teringat akan apa yang Nino lakukan padaku hari ini.
Banyak dari kami yang mengatakan bahwa di surat di kotak harapannya mereka menulis tentang universitas tujuan masing-masing. Ada yang di UNAIR, UBAYA, ITS, dan perguruan tinggi negri lainnya.
Anehnya Nino tidak terlihat pada acara kali ini. Aku juga tidak peduli, aku sudah menghabiskan semua perasaanku padanya di isak tangisku tadi.
Aku lelah dengan hari ini. Aku bergegas masuk ke dalam tenda dan tidur dengan pulas. Aku berharap bahwa ini semua adalah mimpi dan dengan tertidur aku dapat kembali ke kenyataan yang lebih indah. Namun harapan gadis pemimpi hanya harapan, tak mungkin jadi kenyataan.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buat kamu, cowok yang sudah rela menghabiskan waktunya untuk cewek bodoh seperti aku. Mulai dari awal dulu kita bertemu saat masih dalam masa polos anak TK hingga sudah tumbuh sebesar ini. Kita yang bertempat tinggal hanya berjarak beberapa rumah dan selalu bersama kemanapun kita pergi. Kamu yang bersama-sama kita telah menghabiskan berbagai ukiran kenangan dan impian bersama. Kamu yang denganmu aku leluasa menyampaikan semua keluh kesahku, penat di hatiku, segala perasaanku. Kamu yang mungkin di antara kita saling menyimpan perasaan kepada satu sama lain, yang tak terungkap, yang terpendam lama.
Lalu kamu, kamu yang tega-teganya mengkhianati perasaanku. Kamu yang menghiasi hatiku dengan sejuta bunga, hanya untuk menginjak-injaknya rata dengan tanah. Kamu yang dengan kasarnya memadamkan api yang menggelora di dalam hatiku dengan guyuran air es yang dingin membekukan. Kamu yang meletakkanku di puncak menara hatimu yang paling tinggi, hanya untuk melihatku jatuh dan terluka.
Aku mengerti bahwa semua orang berubah, karena pada dasarnya segala bentuk perubahan itu pasti. Aku juga sadar terdapat perubahan diantara kita. Tapi aku tak habis pikir bisa-bisanya matahari sore yang hangat dapat berubah menjadi es kutub yang paling dingin. Aku tak habis pikir kamu yang merupakan satu-satunya melambungkan segala perasaanku dan kamu adalah orang brengsek yang sama yang  menghancurkan hatiku hingga berserakkan berkeping-keping. Apakah ini hasil dari persahabatan yang terjadi selama ini? Apakah kamu ingin memutuskan sepihak hubungan kita selama ini?

Jika mungkin hubungan kita selama ini adalah hanya menuju kepada kerusakkan. Lebih baik aku menjauhi cowok brengsek seperti kamu. Cowok yang paling bajingan yang pernah aku kenal. Cowok yang aku harap aku tidak menemui wajahnya lagi. Cowok yang telah menghiasi hatiku, dan telah mematahkannya seakan tanpa beban demi kepentingamu sendiri. Aku selalu berharap yang terburuk untukmu. SELAMANYA.

No comments:

Post a Comment