Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-15

Kesalahan Terbesarku
Nino POV
Kerlap kerlip bintang mewarnai langit kelam ini, ditemani dengan anggunnya rembulan purnama penuh yang bersinar putih kelabu lembut. Menghasilkan harmoni keindahan alam yang menjadi satu kesatuan dan ajaibnya semakin kita memandangnya maka semakin kita tidak dapat mengalihkan pandangan. Bagi kami orang-orang kota yang bosan dengan segala keramaian dan hiruk pikuk kota, itu adalah mukjizat besar Tuhan, ditambah lagi kami adalah orang astronom yang memang mendalami seluk beluk fenomena langit malam.
Kami menggelar tikar di dekat api unggun tempat kami duduk dan juga berbaring bersantai-santai. Aku meletakkan kepalaku di pangkuan Mawar dan menunggu saat-saat munculnya komet Halley. Sekitar 30 menit lagi, komet Halley yang terkenal di seluruh penjuru dunia sejak jaman dahulu akan menampakkan diri melintas melewati langit malam.
Komet yang malam ini adalah jadwalnya untuk nampak di seluruh penjuru bagian bumi. Komet yang mengorbit mengitari matahari dengan lintasan lonjong. Komet yang mengandung berbagai partikel dan mineral juga zat-zat lain yang masih menjadi misteri.
Detik demi detik berlalu menjadi menit demi menit, tak terasa kami pun sudah harus mempersiapkan teropong dan peralatan lain yang akan kami gunakan untuk mengamati komet Halley. Itu semua juga sebagai bahan yang akan teramat sangat utama dalam laporan pengamatan kami. Aku sendiri mempersiapkan teropong bintangku yang adalah kado pemberian Mawar di acara ulangtahunku kemarin. Segala pengaturan teropong telah aku lakukan sesuai dengan buku panduan untuk mendapatkan gambar yang jelas dan memenuhi kriteria.
Langit mendadak terang, kepala komet kemudian perlahan-lahan muncul dari ufuk barat.  Diikuti dengan bentuk keseluruhan komet yang lama kelamaan menjadi semakin jelas. Bersinar putih kebiru-biruan terang seakan menelan cahaya-cahaya di sekitarnya. Sebuah keberuntungan bagi kami sekumpulan remaja bocah yang dapat mendapat pengalaman menakjubkan dengan memandang komet yang hadir 75-76 tahun sekali ini. Mungkin sudah banyak aku ceritakan tentang keindahan dan kuasa Tuhan di sini, tapi sekali lagi dan sekali lagi aku ingin mengatakan bahwa aku sangat bersyukur kepada Tuhan sehingga dapat dipertemukan dengan kejadian luar biasa seperti ini.
Air mataku menetes karena haru, tetapi cepat-sepat aku hapus karena takut ketahuan teman-teman yang masih sibuk mengamati komet halley. Namun aku tidak bisa menahannya, sungguh indah sekali ya Tuhan. Aku sadar dan percaya bahwa Tuhan sangat pengasih dan penyayang bagi semua hambanya, justru kitalah yang sering mengabaikan kuasa-Nya. Aku terus mengamati melalui teropong bintangku, tidak lupa aku mengambil foto komet sendiri dan juga kami semua dengan berlatar belakang komet halley.
Setelah puas mengamati komet Halley, aku dan Mawar mengambil foto kami berdua dengan latar belakang komet Halley. Entah mengapa pikiranku mulai kacau karena indahnya komet Halley atau pula diriku bukanlah yang dulu lagi, namun perasaan yang selama ini berhasil kutahan kembali muncul ke permukaan lagi. Perasaan yang telah aku kubur dalam-dalam di palung samudra hatiku, mendadak merangkak keluar menghirup udara bebas.
 Entah setan jenis apa yang kuasa merasukiku sehingga berpikiran seperti itu. Tetapi yang jelas saat itu aku sangat ingin jujur dengan diriku sendiri dan aku sangat ingin dekat dengan Mawar, bukan sebagai sahabat yang menjadi peran yang berhasil aku mainkan selama ini, melainkan lebih dari itu.
Dimulai saat kami berjalan-jalan berdua, dan bodohnya kenapa saat itu aku juga menggandeng tangannya. Lalu pikiranku mulai berjalan ngawur dan menjadi semakin ngawur, mungkin karena selama ini aku telah melewati batas-batas norma persahabatan yang seharusnya. Atau juga aku yang memang tidak cukup kuat untuk mempertahankan kokohnya benteng perasaanku.
Saat kami sudah terpisah jauh dari rombongan pikiranku menjadi hanya berisi Mawar saja, hanya itu. Tidak ada yang lain.
Detik demi detik berlalu menjadi menit. Pikiranku bergejolak semakin gila dan akhirnya yang selama ini aku tahan-tahan akhirnya tumpah keluar, bagai langit mendung yang menolak menahan turunnya hujan deras. Dan itu dimulai hanya dari beberapa kata,
“War, aku mau menyatakan sesuatu ke kamu.”
Dag..dig..dug.. detak jantungku meningkat jauh melebihi batas normal biasannya. Aku dapat merasakan deru kencang aliran darah memenuhi seluruh bagian tubuhku. Rasa panas kemudian perlahan naik menjalari wajahku.
“Apaan No, ngomong aja gak papa kok. Biasannya juga ceplas-ceplos kalau sama aku.”
“War, aku selama ini…” kata-kataku tak dapat dilanjutkan lagi, rasa itu malah berubah menjadi tindakan bodohku yang lebih berbahaya beribu kali lipat.
“War, aku..aku..”
Aku mendekat dan semakin mendekat lagi. Mawar yang terdiam semakin terlihat bingung. Namun aku semakin mendekat, oh apakah aku sadar atau tidak waktu itu.
Lalu tanganku bergerak memegang tangannya yang lembut itu. Seketika itu pula pandangan Mawar memancarkan cahaya pengertian atas tindakanku. Dan itu bukan pandangan penolakkan.
“Nino…”
Pegangan tangan kananku pada tangannya lalu bergeser ke atas pada pundaknya. Tangan kiriku di atas pipinya yang lembut itu. Hanya satu pada pikiranku, yaitu jujur pada diri sendiri. Aku menganggap aku berhak atas pengorbananku selama ini.
Kami berdua bergerak maju mendekatkan kepala kami dan saling menutup mata. Sama-sama yakin atas tindakkan kami yang dapat dibenarkan. Sama-sama yakin atas rasa yang selama ini ada di dalam hati kami berdua.
Sedetik kemudian jarak kami hanya tinggal sejengkal. Aku bisa merasakan wangi tubuh Mawar. Aku bisa menghirup nafasnya yang segar.
Aku bisa mendengarkan detak jantungku sendiri yang menderu sedemikian rupa. Tempo detak jantungku semakin mengingkat dan meningkat seakan ingin melompat lepas dari tempatnya, lalu diiringi dengan rasa sakit yang menusuk-nusuk.
Tergambar kemudian senyuman Mawar yang selama ini kujaga. Teringat juga kenangan dan canda tawanya. Aku tidak mau merusaknya. Aku tidak mau bertindak egois.
Mungkin itu pula yang menyadarkanku. Tapi itu pula yang menambah luka di hatiku. Mungkin ini akan menjadi kesalahanku yang mesti aku bayar dengan seumur hidupku.
Di saat jarak kami hanya berkisar beberapa centimeter aku menjauh dan melepaskan diri dari pelukan hangatnya. Seketika itu pula semua tubuhku menjadi beku, meskipun aku mengenakan jaket tebal. Melainkan bukan tubuh yang beku, namun hati ini yang berkali-kali dan berkali-kali lebih sakit.
Aku menjauh sepenuhnya dari Mawar. Aku tahu ini akan menyakiti hatinya. Terpancar rasa bingung dan kepedihan di mata Mawar. Aku tahu aku yang telah melambungkan perasaannya, dan aku pula yang telah menghancurkannya.
Mawar selama ini tidak pernah terbuka terhadap teman lelaki manapun selain aku seorang. Sudah bisa aku bayangkan rasa sakit di hatinya yang terlihat kokoh di luar namun sebenarnya sangat rapuh di dalam itu, sehingga aku tahu beberapa goncangan kecil saja akan menghancurkan segalanya.
Maafkan aku Mawar, maafkan aku. Itu semua kesalahanku. Maafkan cowok brengsek ini yang bahkan nggak bisa menjaga perasaan kamu. Maafkan aku Mawar maafkan. Itu yang ingin aku ucap, namun kerongkonganku terasa tercekat.
Mawar mulai berkaca-kaca dan akhirnya meneteskan air mata. Ia berlari meninggalkanku. Meninggalkanku sendiri. Aku, sendiri. Tanpa Mawar lagi.
Aku jatuh berlutut. Semua sudah tak dapat diperbaiki, mungkin ini jalan yang terbaik. Tapi…betapa besar rasa patah hati menusuk menggerogoti jantung. Seakan ada yang hilang dari organ tubuhku selama ini. Ada yang lenyap, dan tak mungkin kembali.
Aku malu terhadap diriku sendiri, dan janji terucap yang akan selalu menjaga Mawar. Tetapi aku lebih malu kepada tuhan yang maha kuasa, yang dalam beberapa hari ini telah menunjukkan rahmatnya kepadaku namun dengan keji aku melanggar perintahnya.

Air mata terlambat menetes, penyesalan diam tak terucap, cinta konstan yang tak pernah terbayar, hati yang patah berkeping-keping tanpa ada jalan untuk membuatnya utuh kembali.

No comments:

Post a Comment