Nino POV
Kerlap kerlip bintang mewarnai
langit kelam ini, ditemani dengan anggunnya rembulan purnama penuh yang
bersinar putih kelabu lembut. Menghasilkan harmoni keindahan alam yang menjadi
satu kesatuan dan ajaibnya semakin kita memandangnya maka semakin kita tidak
dapat mengalihkan pandangan. Bagi kami orang-orang kota yang bosan dengan
segala keramaian dan hiruk pikuk kota, itu adalah mukjizat besar Tuhan,
ditambah lagi kami adalah orang astronom yang memang mendalami seluk beluk
fenomena langit malam.
Kami menggelar tikar di dekat api
unggun tempat kami duduk dan juga berbaring bersantai-santai. Aku meletakkan
kepalaku di pangkuan Mawar dan menunggu saat-saat munculnya komet Halley.
Sekitar 30 menit lagi, komet Halley yang terkenal di seluruh penjuru dunia
sejak jaman dahulu akan menampakkan diri melintas melewati langit malam.
Komet yang malam ini adalah
jadwalnya untuk nampak di seluruh penjuru bagian bumi. Komet yang mengorbit
mengitari matahari dengan lintasan lonjong. Komet yang mengandung berbagai
partikel dan mineral juga zat-zat lain yang masih menjadi misteri.
Detik demi detik berlalu menjadi
menit demi menit, tak terasa kami pun sudah harus mempersiapkan teropong dan
peralatan lain yang akan kami gunakan untuk mengamati komet Halley. Itu semua
juga sebagai bahan yang akan teramat sangat utama dalam laporan pengamatan
kami. Aku sendiri mempersiapkan teropong bintangku yang adalah kado pemberian Mawar
di acara ulangtahunku kemarin. Segala pengaturan teropong telah aku lakukan sesuai
dengan buku panduan untuk mendapatkan gambar yang jelas dan memenuhi kriteria.
Langit mendadak terang, kepala
komet kemudian perlahan-lahan muncul dari ufuk barat. Diikuti dengan bentuk keseluruhan komet yang
lama kelamaan menjadi semakin jelas. Bersinar putih kebiru-biruan terang seakan
menelan cahaya-cahaya di sekitarnya. Sebuah keberuntungan bagi kami sekumpulan
remaja bocah yang dapat mendapat pengalaman menakjubkan dengan memandang komet
yang hadir 75-76 tahun sekali ini. Mungkin sudah banyak aku ceritakan tentang
keindahan dan kuasa Tuhan di sini, tapi sekali lagi dan sekali lagi aku ingin
mengatakan bahwa aku sangat bersyukur kepada Tuhan sehingga dapat dipertemukan
dengan kejadian luar biasa seperti ini.
Air mataku menetes karena haru, tetapi
cepat-sepat aku hapus karena takut ketahuan teman-teman yang masih sibuk
mengamati komet halley. Namun aku tidak bisa menahannya, sungguh indah sekali
ya Tuhan. Aku sadar dan percaya bahwa Tuhan sangat pengasih dan penyayang bagi
semua hambanya, justru kitalah yang sering mengabaikan kuasa-Nya. Aku terus
mengamati melalui teropong bintangku, tidak lupa aku mengambil foto komet
sendiri dan juga kami semua dengan berlatar belakang komet halley.
Setelah puas mengamati komet
Halley, aku dan Mawar mengambil foto kami berdua dengan latar belakang komet
Halley. Entah mengapa pikiranku mulai kacau karena indahnya komet Halley atau
pula diriku bukanlah yang dulu lagi, namun perasaan yang selama ini berhasil
kutahan kembali muncul ke permukaan lagi. Perasaan yang telah aku kubur
dalam-dalam di palung samudra hatiku, mendadak merangkak keluar menghirup udara
bebas.
Entah setan jenis apa yang kuasa merasukiku
sehingga berpikiran seperti itu. Tetapi yang jelas saat itu aku sangat ingin
jujur dengan diriku sendiri dan aku sangat ingin dekat dengan Mawar, bukan
sebagai sahabat yang menjadi peran yang berhasil aku mainkan selama ini,
melainkan lebih dari itu.
Dimulai saat kami berjalan-jalan
berdua, dan bodohnya kenapa saat itu aku juga menggandeng tangannya. Lalu
pikiranku mulai berjalan ngawur dan menjadi semakin ngawur, mungkin karena selama
ini aku telah melewati batas-batas norma persahabatan yang seharusnya. Atau
juga aku yang memang tidak cukup kuat untuk mempertahankan kokohnya benteng
perasaanku.
Saat kami sudah terpisah jauh dari
rombongan pikiranku menjadi hanya berisi Mawar saja, hanya itu. Tidak ada yang
lain.
Detik demi detik berlalu menjadi
menit. Pikiranku bergejolak semakin gila dan akhirnya yang selama ini aku tahan-tahan
akhirnya tumpah keluar, bagai langit mendung yang menolak menahan turunnya
hujan deras. Dan itu dimulai hanya dari beberapa kata,
“War, aku mau menyatakan sesuatu ke
kamu.”
Dag..dig..dug.. detak jantungku
meningkat jauh melebihi batas normal biasannya. Aku dapat merasakan deru
kencang aliran darah memenuhi seluruh bagian tubuhku. Rasa panas kemudian perlahan
naik menjalari wajahku.
“Apaan No, ngomong aja gak papa
kok. Biasannya juga ceplas-ceplos kalau sama aku.”
“War, aku selama ini…” kata-kataku
tak dapat dilanjutkan lagi, rasa itu malah berubah menjadi tindakan bodohku
yang lebih berbahaya beribu kali lipat.
“War, aku..aku..”
Aku mendekat dan semakin mendekat
lagi. Mawar yang terdiam semakin terlihat bingung. Namun aku semakin mendekat,
oh apakah aku sadar atau tidak waktu itu.
Lalu tanganku bergerak memegang
tangannya yang lembut itu. Seketika itu pula pandangan Mawar memancarkan cahaya
pengertian atas tindakanku. Dan itu bukan pandangan penolakkan.
“Nino…”
Pegangan tangan kananku pada
tangannya lalu bergeser ke atas pada pundaknya. Tangan kiriku di atas pipinya
yang lembut itu. Hanya satu pada pikiranku, yaitu jujur pada diri sendiri. Aku
menganggap aku berhak atas pengorbananku selama ini.
Kami berdua bergerak maju mendekatkan
kepala kami dan saling menutup mata. Sama-sama yakin atas tindakkan kami yang
dapat dibenarkan. Sama-sama yakin atas rasa yang selama ini ada di dalam hati
kami berdua.
Sedetik kemudian jarak kami hanya
tinggal sejengkal. Aku bisa merasakan wangi tubuh Mawar. Aku bisa menghirup
nafasnya yang segar.
Aku bisa mendengarkan detak
jantungku sendiri yang menderu sedemikian rupa. Tempo detak jantungku semakin
mengingkat dan meningkat seakan ingin melompat lepas dari tempatnya, lalu
diiringi dengan rasa sakit yang menusuk-nusuk.
Tergambar kemudian senyuman Mawar
yang selama ini kujaga. Teringat juga kenangan dan canda tawanya. Aku tidak mau
merusaknya. Aku tidak mau bertindak egois.
Mungkin itu pula yang
menyadarkanku. Tapi itu pula yang menambah luka di hatiku. Mungkin ini akan
menjadi kesalahanku yang mesti aku bayar dengan seumur hidupku.
Di saat jarak kami hanya berkisar
beberapa centimeter aku menjauh dan melepaskan diri dari pelukan hangatnya.
Seketika itu pula semua tubuhku menjadi beku, meskipun aku mengenakan jaket
tebal. Melainkan bukan tubuh yang beku, namun hati ini yang berkali-kali dan
berkali-kali lebih sakit.
Aku menjauh sepenuhnya dari Mawar.
Aku tahu ini akan menyakiti hatinya. Terpancar rasa bingung dan kepedihan di
mata Mawar. Aku tahu aku yang telah melambungkan perasaannya, dan aku pula yang
telah menghancurkannya.
Mawar selama ini tidak pernah
terbuka terhadap teman lelaki manapun selain aku seorang. Sudah bisa aku
bayangkan rasa sakit di hatinya yang terlihat kokoh di luar namun sebenarnya
sangat rapuh di dalam itu, sehingga aku tahu beberapa goncangan kecil saja akan
menghancurkan segalanya.
Maafkan aku Mawar, maafkan aku. Itu
semua kesalahanku. Maafkan cowok brengsek ini yang bahkan nggak bisa menjaga perasaan
kamu. Maafkan aku Mawar maafkan. Itu yang ingin aku ucap, namun kerongkonganku
terasa tercekat.
Mawar mulai berkaca-kaca dan
akhirnya meneteskan air mata. Ia berlari meninggalkanku. Meninggalkanku
sendiri. Aku, sendiri. Tanpa Mawar lagi.
Aku jatuh berlutut. Semua sudah tak
dapat diperbaiki, mungkin ini jalan yang terbaik. Tapi…betapa besar rasa patah
hati menusuk menggerogoti jantung. Seakan ada yang hilang dari organ tubuhku
selama ini. Ada yang lenyap, dan tak mungkin kembali.
Aku malu terhadap diriku sendiri,
dan janji terucap yang akan selalu menjaga Mawar. Tetapi aku lebih malu kepada
tuhan yang maha kuasa, yang dalam beberapa hari ini telah menunjukkan rahmatnya
kepadaku namun dengan keji aku melanggar perintahnya.
Air mata
terlambat menetes, penyesalan diam tak terucap, cinta konstan yang tak pernah terbayar,
hati yang patah berkeping-keping tanpa ada jalan untuk membuatnya utuh kembali.

No comments:
Post a Comment