3rd person POV
“Assalamualaikum. Wr. Wb.”
Oke teman-teman dengan ini marilah
kita membuka rapat agenda tahunan ekskul astronomi dengan berdoa menurut agama
dan kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai….
Berdoa selesai.
Berhubungan
kita mendapat izin sekolah untuk mengadakan kegiatan di luar kota maka akan
kita mulai dengan membahas kota mana yang akan kita tuju. Jadi bagaimana
teman-teman? Apakah ada usul untuk tujuan pengamatan bintang kita kali ini?
Keheningan
lalu menguasai keadaan rapat hingga tiba-tiba terdapat salah satu suara dari
sudut ruangan.
“Di Bali aja Ram, jadi kita bisa
liat cewek-cewek bule pakai bikini hehehe.” Sahut salah satu teman Nino, Dony.
Disusul dengan tawa serta canda seluruh anggota rapat karena kekonyolan Dony
yang minta ampun. Ruangan kemudian menjadi ramai dengan percakapan para peserta
rapat yang mulai berbagi pendapat.
Dony memang anaknya begitu, suka
berkhayal dan bercanda yang tidak-tidak. Sudah dari dulu begitu, sejak pertama
kali Nino dan Mawar berteman dengannya saat kelas sepuluh dulu. Bahkan saat
layanan orientasi siswa pun yang dimarahin kakak kelas dia masih sanggup
bercanda untuk merubah suasana. Sampai sekarang banyak yang menjadi teman Dony
karena semua yang berada di dekatnya seakan diberi tawa kebahagiaan yang
bertubi-tubi. Di ekskul astronomi dia juga tak pernah serius, hanya mencari
kesenangan dan bercanda saja.
“Di
Malang aja Ram, jadi bisa sekalian main di Jatim Park.” Usul salah satu anggota
ekskul astronomi yang bernama Nurul. Dia juga teman Nino dan Mawar sedari kelas
sepuluh, orangnya baik dan suka menolong temannya yang kesusahan. Nurul yang
bernama lengkap Nurul Hayati ini juga adalah perempuan yang penyayang dan
peduli dengan orang-orang disekitarnya.
“Gak
bisa dong kalau di Malang, kita kan harus mengamati fenomena langit malam di
tempat yang masih minim polusi udara dan polusi cahaya. Supaya pengamatan
bintang menjadi jelas dan maksimal. Sedangkan Malang kan termasuk kota besar.”
Ucap Nino sok menjelaskan.
“Iya
betul kata Nino, belum lagi nanti kita saat jadwal pengamatan bintang akan mendokumentasikan
tentang komet Halley yang dalam 75 tahun sekali akan terjadi. Jadi sayang dong
kalau nanti pengamatan bintang gak akan maksimal hanya karena polusi udara.”
Imbuh Ramlan si pemimpin rapat sekaligus ketua ekskul astronomi tegas.
“Yaudah…
kalau aku sih terserah aja, yang penting jangan di Bali kayak usul Dony si
hidung belang itu.” Jawab Nurul sambil melayangkan lirikan tajam kepada Dony.
“Eh
walaupun aku hidung belang namun cintaku hanya untukmu Rul.” Goda Dony, disusul
dengan tepuk tangan meriah seluruh peserta ekskul.
“Guys
aku saran nih. Kalau misalnya kita nanti pengamatan bintang mending di gunung
aja. Karena selain udaranya bersih, kita bisa sekalian camping di sana. “ Saran
Mawar.
“Ide
bagus tuh, kalau aku mau usul kita di gunung Lawu aja di Kabupaten Magetan.
Dari danau Sarangan kita terus naik ke atas puncak. Gimana?” Kata Nino
menambahkan.
“Oke
kalau gitu apakah ada saran lain? Kalau tidak ada maka kita putuskan bahwa
agenda tahunan ekskul astronomi yaitu pengamatan bintang akan bertempat di
gunung Lawu, tepatnya di Kabupaten Magetan. Untuk detailnya akan kita bahas
dalam rapat selanjutnya. Rapat kali ini kita akhiri sampai di sini, atas
perhatiannya terima kasih. Wassalamualaikum.” Ucap Ramlan menutup rapat hari
itu.
Setelah
rapat ditutup maka semua peserta rapat merapikan barang-barang mereka untuk
kemudian bersiap pulang. Termasuk juga Nino dan Mawar. Mereka keluar kelas dan
menuju parkiran sepeda Nino yang terletak di belakang sekolah.
Tetapi
setelah sampai di pintu belakang ternyata sudah dalam keadaan terkunci oleh
bapak penjaga sekolah. Mereka terpaksa memutar jalan melewati pintu depan
sekolah. Termasuk melewati koridor kelas 12 dan aula.
Banyak rumor yang mengatakan kedua
tempat itu sangat berhantu karena telah dibangun sejak jaman penjajahan belanda
kuno. Serta telah terjadi pembantaian pelajar besar-besaran disana. Banyak hal menyeramkan
telah terjadi di koridor kelas 12 dan aula, mulai dari suara-suara derap kaki
dan mesin ketik tua tanpa ada sosoknya, hingga penampakkan pocong meloncat-loncat
yang melintas di aula. Hal itu menambah rasa takut Mawar untuk melewati kedua
tempat tersebut. Ditambah lagi dengan waktu yang memang telah menjelang maghrib.
Serta berdasarkan buku horror yang dibaca Mawar ternyata waktu menjelang malam adalah
waktu bagi mahluk halus untuk pulang ke alamnya.
“Nino jangan pergi jauh-jauh dong,
tungguin aku….” Kata Mawar yang memang sangat penakut sedari kecil.
“Mawar kamu penakut banget sih,
yang namanya hantu itu gak mungkin gangguin kamu kalau kamu gak ngelakuin yang
aneh-aneh untuk menggoda perhatian mereka.” Ujar Nino yang memang tidak takut
sedikitpun dengan yang namanya mahluk halus. Karena ia berpikir menggunakan
logika dan rasionalitas, bukan tahayul dan rumor. Bagi Nino rasa takut adalah
kelemahan manusia yang merupakan faktor utama mereka gagal untuk bergerak
menuju kemajuan.
“Tapi kan mana mungkin hantu yang
gak suka sama cewek secantik aku. Kalau nanti hantunya suka sama aku, terus
ngikutin aku gimana? Entar kalau aku punya pacar digangguin lagi sama hantunya
soalnya dia cemburu. Nino aku takut…” Ucap Mawar mengada-ada.
“Ih kamu percaya diri banget sih
hantunya suka sama kamu. Gini ajadeh, sekarang kamu gandeng tangan aku biar gak
ketakutan.” Usul Nino menawarkan sambil mengulurkan lengannya.
“Nino gitu ya, masih sempet-sempetnya
modus di saat seperti ini.” Jawab Mawar kesal, sambil memanyunkan bibirnya yang
malah membuatnya kelihatan lucu.
“Yaudah kalau gak mau. Jalan
sendiri aja sana gandengan sama mbak kuntilanak.” Kata Nino sambil mengambil
langkah panjang berjalan dengan santai meninggalkan Mawar.
“Huwaaa Nino jangan gitu dong…
ttunggu aku…” Teriak Mawar ketakutan sambil berlari menyusul Nino dan memegang tangan
kanannya.
Pada akhirnya
Nino dan Mawar sampai di parkiran. Langit yang pada mulanya masih bersemu jingga
telah berubah kelam seutuhnya. Hanya diterangi bintang dan bulan yang bersinar
malas-malasan. Mereka lalu lekas pulang naik sepeda kesayangan Nino dengan
bergoncengan. Roda sepeda berputar diatas jalan aspal yang familiar, sesekali
bel sepeda dibunyikan ketika menghadapi pengendara lain yang seenaknya sendiri
memotong jalan. Bersama membelah kegelapan dan hiruk-pikuk jalanan malam kota
Surabaya dengan keceriaan dan canda tawa mereka berdua. Sebentuk kebahagiaan
yang kecil sederhana namun berarti lebih dari yang dapat dibayangkan.

No comments:
Post a Comment