Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-4


Rapat
3rd person POV
“Assalamualaikum. Wr. Wb.”
Oke teman-teman dengan ini marilah kita membuka rapat agenda tahunan ekskul astronomi dengan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai….
 Berdoa selesai.
                Berhubungan kita mendapat izin sekolah untuk mengadakan kegiatan di luar kota maka akan kita mulai dengan membahas kota mana yang akan kita tuju. Jadi bagaimana teman-teman? Apakah ada usul untuk tujuan pengamatan bintang kita kali ini?
                Keheningan lalu menguasai keadaan rapat hingga tiba-tiba terdapat salah satu suara dari sudut ruangan.
“Di Bali aja Ram, jadi kita bisa liat cewek-cewek bule pakai bikini hehehe.” Sahut salah satu teman Nino, Dony. Disusul dengan tawa serta canda seluruh anggota rapat karena kekonyolan Dony yang minta ampun. Ruangan kemudian menjadi ramai dengan percakapan para peserta rapat yang mulai berbagi pendapat.
Dony memang anaknya begitu, suka berkhayal dan bercanda yang tidak-tidak. Sudah dari dulu begitu, sejak pertama kali Nino dan Mawar berteman dengannya saat kelas sepuluh dulu. Bahkan saat layanan orientasi siswa pun yang dimarahin kakak kelas dia masih sanggup bercanda untuk merubah suasana. Sampai sekarang banyak yang menjadi teman Dony karena semua yang berada di dekatnya seakan diberi tawa kebahagiaan yang bertubi-tubi. Di ekskul astronomi dia juga tak pernah serius, hanya mencari kesenangan dan bercanda saja.
                “Di Malang aja Ram, jadi bisa sekalian main di Jatim Park.” Usul salah satu anggota ekskul astronomi yang bernama Nurul. Dia juga teman Nino dan Mawar sedari kelas sepuluh, orangnya baik dan suka menolong temannya yang kesusahan. Nurul yang bernama lengkap Nurul Hayati ini juga adalah perempuan yang penyayang dan peduli dengan orang-orang disekitarnya.
                “Gak bisa dong kalau di Malang, kita kan harus mengamati fenomena langit malam di tempat yang masih minim polusi udara dan polusi cahaya. Supaya pengamatan bintang menjadi jelas dan maksimal. Sedangkan Malang kan termasuk kota besar.” Ucap Nino sok menjelaskan.
                “Iya betul kata Nino, belum lagi nanti kita saat jadwal pengamatan bintang akan mendokumentasikan tentang komet Halley yang dalam 75 tahun sekali akan terjadi. Jadi sayang dong kalau nanti pengamatan bintang gak akan maksimal hanya karena polusi udara.” Imbuh Ramlan si pemimpin rapat sekaligus ketua ekskul astronomi tegas.
                “Yaudah… kalau aku sih terserah aja, yang penting jangan di Bali kayak usul Dony si hidung belang itu.” Jawab Nurul sambil melayangkan lirikan tajam kepada Dony.
                “Eh walaupun aku hidung belang namun cintaku hanya untukmu Rul.” Goda Dony, disusul dengan tepuk tangan meriah seluruh peserta ekskul.
                “Guys aku saran nih. Kalau misalnya kita nanti pengamatan bintang mending di gunung aja. Karena selain udaranya bersih, kita bisa sekalian camping di sana. “ Saran Mawar.
                “Ide bagus tuh, kalau aku mau usul kita di gunung Lawu aja di Kabupaten Magetan. Dari danau Sarangan kita terus naik ke atas puncak. Gimana?” Kata Nino menambahkan.
                “Oke kalau gitu apakah ada saran lain? Kalau tidak ada maka kita putuskan bahwa agenda tahunan ekskul astronomi yaitu pengamatan bintang akan bertempat di gunung Lawu, tepatnya di Kabupaten Magetan. Untuk detailnya akan kita bahas dalam rapat selanjutnya. Rapat kali ini kita akhiri sampai di sini, atas perhatiannya terima kasih. Wassalamualaikum.” Ucap Ramlan menutup rapat hari itu.
                Setelah rapat ditutup maka semua peserta rapat merapikan barang-barang mereka untuk kemudian bersiap pulang. Termasuk juga Nino dan Mawar. Mereka keluar kelas dan menuju parkiran sepeda Nino yang terletak di belakang sekolah.
                Tetapi setelah sampai di pintu belakang ternyata sudah dalam keadaan terkunci oleh bapak penjaga sekolah. Mereka terpaksa memutar jalan melewati pintu depan sekolah. Termasuk melewati koridor kelas 12 dan aula.
Banyak rumor yang mengatakan kedua tempat itu sangat berhantu karena telah dibangun sejak jaman penjajahan belanda kuno. Serta telah terjadi pembantaian pelajar besar-besaran disana. Banyak hal menyeramkan telah terjadi di koridor kelas 12 dan aula, mulai dari suara-suara derap kaki dan mesin ketik tua tanpa ada sosoknya, hingga penampakkan pocong meloncat-loncat yang melintas di aula. Hal itu menambah rasa takut Mawar untuk melewati kedua tempat tersebut. Ditambah lagi dengan waktu yang memang telah menjelang maghrib. Serta berdasarkan buku horror yang dibaca Mawar ternyata waktu menjelang malam adalah waktu bagi mahluk halus untuk pulang ke alamnya.
“Nino jangan pergi jauh-jauh dong, tungguin aku….” Kata Mawar yang memang sangat penakut sedari kecil.
“Mawar kamu penakut banget sih, yang namanya hantu itu gak mungkin gangguin kamu kalau kamu gak ngelakuin yang aneh-aneh untuk menggoda perhatian mereka.” Ujar Nino yang memang tidak takut sedikitpun dengan yang namanya mahluk halus. Karena ia berpikir menggunakan logika dan rasionalitas, bukan tahayul dan rumor. Bagi Nino rasa takut adalah kelemahan manusia yang merupakan faktor utama mereka gagal untuk bergerak menuju kemajuan.
“Tapi kan mana mungkin hantu yang gak suka sama cewek secantik aku. Kalau nanti hantunya suka sama aku, terus ngikutin aku gimana? Entar kalau aku punya pacar digangguin lagi sama hantunya soalnya dia cemburu. Nino aku takut…” Ucap Mawar mengada-ada.
“Ih kamu percaya diri banget sih hantunya suka sama kamu. Gini ajadeh, sekarang kamu gandeng tangan aku biar gak ketakutan.” Usul Nino menawarkan sambil mengulurkan lengannya.
“Nino gitu ya, masih sempet-sempetnya modus di saat seperti ini.” Jawab Mawar kesal, sambil memanyunkan bibirnya yang malah membuatnya kelihatan lucu.
“Yaudah kalau gak mau. Jalan sendiri aja sana gandengan sama mbak kuntilanak.” Kata Nino sambil mengambil langkah panjang berjalan dengan santai meninggalkan Mawar.
“Huwaaa Nino jangan gitu dong… ttunggu aku…” Teriak Mawar ketakutan sambil berlari menyusul Nino dan memegang tangan kanannya.

Pada akhirnya Nino dan Mawar sampai di parkiran. Langit yang pada mulanya masih bersemu jingga telah berubah kelam seutuhnya. Hanya diterangi bintang dan bulan yang bersinar malas-malasan. Mereka lalu lekas pulang naik sepeda kesayangan Nino dengan bergoncengan. Roda sepeda berputar diatas jalan aspal yang familiar, sesekali bel sepeda dibunyikan ketika menghadapi pengendara lain yang seenaknya sendiri memotong jalan. Bersama membelah kegelapan dan hiruk-pikuk jalanan malam kota Surabaya dengan keceriaan dan canda tawa mereka berdua. Sebentuk kebahagiaan yang kecil sederhana namun berarti lebih dari yang dapat dibayangkan. 

No comments:

Post a Comment