Nino POV
Dasar bajingan! Cowok gak punya
malu, ada kerjaan lain gak sih? Bisa-bisanya sampah itu godain Mawar sampai ke
rumahnya segala. Cowok bedebah itu perlu pelajaran deh. Aku gak peduli jika dia
menyentuh cewek-cewek lain, tapi dia mati kalau sudah menyentuh Mawar. Percuma
saja aku ikut berbagai macam cabang beladiri mulai dari taekwondo, karate,
hingga silat jika tidak kugunakkan di saat-saat seperti ini.
Segera aku membuat rencana matang
yang akan menghancurkan Si Faisal itu. Sepulang sekolah rencanaku sudah siap,
sudah gatal rasanya tanganku ingin merasakan gemertak batang hidungnya hancur
dihantam kepalanku. Kali ini akan aku habisi laki-laki bedebah itu sampai ke
akar-akarnya.
Aku awasi Ia sedari masuk sekolah
tadi, karena kelasku berjarak lumayan jauh dari kelasnya maka usaha
pengintaianku menjadi sedikit terhambat, kelasku di XI MIPA 2 dan Faisal di XI
MIPA 6. Namun tak apa. Itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan
kemarahanku saat melihat dia menggoda Mawar. “Sabar…sabar… ada waktunya sendiri
untuk meluapkan kemarahanku. Tahan Nino… tahan…” Ucapku berkali-kali dalam hati
untuk menenangkan diri sendiri.
Ketika saat yang ditunggu-tunggu
akhirnya tiba. Bel sekolah telah berbunyi menandakan rencana besarku untuk
segera dieksekusi. Faisal terlihat keluar dari kelasnya beserta gerombolannya
yang berandalan itu.
Sesuai dugaanku Faisal segera
menuju mobil kesayangannya untuk bergegas pulang, karena dari pengintaianku kemarin
dia ternyata memilikki jadwal kencan dengan salah satu kekasihnya. Ia masuk ke
dalam mobil dan duduk santai di jok supir. Padahal dia tidak sadar bahwa aku
sudah lama menunggu sedari tadi di kursi belakang.
Apakah kalian bertanya-tanya bagaimana
aku bisa masuk mobil yang terkunci? Hahaha jawabannya simple, itu karena
sebelumnya aku telah membuka pintu mobil dan masuk dengan menggunakan kunci
mobil cadangan yang ada di dalam tas Faisal. Dasar anak bodoh, menjaga
barangnya sendiri saja tidak bisa. Mungkin itu karena Ia berpikir bahwa setiap
benda yang dihilangkannya akan selalu diganti dengan papi tersayangnya itu.
Sekarang rasakan akibatnya.
Beberapa menit kemudian aku
langsung membekap mulutnya dari belakang hingga Ia memberontak hebat namun masih
aku tahan dengan kuat. Stimulasi untuk ketakutannya aku tambahkan dengan
berbisik sangat dekat di telingannya. “ Heh anak manja, kalau masih mau
menyimpan nyawamu yang tidak ada harganya itu mending cepat ikut aku sekarang
juga. Yah itu juga kalau memang masih mau hidup sih.”
Si bocah penakut itu mengikuti
perintahku dengan baik. Aku membawanya sampai ke pojok kamar mandi pria yang
terletak di pojok belakang sekolah, berbatasan dengan lapangan parkir siswa.
Begitu Ia berbalik wajahnya dipenuhi dengan keterkejutan karena melihat wajahku.
Seakan-akan tak menyangka bahwa Ia telah diancam seseorang seperti aku. Namun
Ia tak berani berkata-kata untuk menyuarakan keterkejutannya itu.
Kepalanku tangan kananku telah siap
untuk menyambut wajah jeleknya itu ketika salah satu temannya pergi ke kamar
mandi dan bertemu dengan kami berdua. Faisal yang licik itu segera meminta
bantuan, “Woy tolongin dong, suruh panggil anak-anak kesini buat lawan si
brengsek kecil ini.”
Beberapa menit kemudian sekitar lima
atau enam teman faisal memasukki kamar mandi dengan marah. Aku mempersiapkan
diri untuk melawan mereka semua. Mereka kira mereka sudah menang karena unggul
jauh dalam jumlah. Namun itu tak menjadi halangan bagi praktisi beladiri
terlatih seperti aku.
Segera setelah itu tendangan dan
pukulan saling beradu dalam nyaringnya teriakan kemarahan. Jumlah mereka yang
banyak justru semakin memecah belah serangan mereka semua. Aku dengan santai
namun pasti menggunakan ajaran jiu jitsu yang sudah aku pelajari untuk
membanting mereka semua. Juga taekwondo dan karate untuk melayangkan berbagai
jurus pukulan, tangkisan, hingga tendangan yang bervariasi. Berbeda jauh dengan
mereka yang bermodal nekat saja.
Tak pelak beberapa menit saja satu
persatu dari mereka kurobohkan, hingga akhirnya tersisa Faisal sebagai hidangan
terakhir dan penutup. Sambil berdiri gemetar ketakutan di sana, Faisal mulai
memohon-mohon agar diampuni dan berjanji tak akan menggangguku lagi. Namun
bukan itu yang kumau.
“No, m-maafin aku No, aku janji
bakal baik sama kamu, aku janji bakal turuti semua permintaanmu, tolong No aku
gak mau masuk rumah sakit No, Huwaaa.” Tangis Faisal ketakutan.
Aku semakin benci oleh bocah lelaki
itu yang harga dirinya hanya di luar saja, namun pada saat-saat seperti ini
harga dirinya seakan telah terkikis habis semuanya sehingga rela Ia
merengek-rengek seperti itu.
“Aku sih sebenarnya gak ada masalah
sama kamu, tapi yang paling aku perhatikan adalah Mawar. Sudah beberapa kali
ini Mawar sudah kamu buat kesal dengan godaan-godaanmu yang keterlaluan.
Apalagi saat kamu godain dia di rumahnya segala. Aku ingin kamu gak pernah
nyentuh Mawar lagi. Bahkan kalau perlu kamu harus pura-pura tidak kenal dengan
dia. Ingat ya, aku selalu bersama Mawar, bahkan ketika lebah menyengat dia aku
sudah langsung tahu. Kalau sampai ketahuan kamu godain Mawar lagi kamu gak
bakal berakhir di rumah sakit aja tapi berakhir di kuburan. Ingat itu!” Kataku
penuh ancaman kepada Faisal yang semakin ketakutan.
“I-iya, No aku janji.” Janji faisal
untuk tidak mengganggu Mawar lagi.
Setelah mengucap ancamanku sesuai
rencana aku menghantamnya dengan keras di bagian rahang. Agar selalu ingat dia
akan janjinya itu. Tanpa sadar Ia langsung ambruk pingsan ke belakang.
Tak lupa agar mereka tidak mencoba
untuk balas dendam aku mulai mencoret-coret satu persatu wajah mereka dengan
lipstick ibuku. Lalu kubuat mereka berpelukkan satu sama lain. Akhirnya kuambil
foto mereka semua dengan ponselku sebagai ancaman kalau mereka berani
macam-macam akan kusebar foto memalukan itu di media sosial. Memang sudah
menjadi kelemahan mereka yaitu rasa gengsi dan harga diri. Mereka yang masih
sadar kemudian menuruti perintahku untuk tidak balas dendam.
Puas akan rencanaku yang berjalan
lancar pada hari ini, aku bergegas pergi meninggalkan kamar mandi dan menuju
lapangan tempat sepeda onthelku diparkir. Aku tidak terluka cukup serius
melainkan luka memar di bagian pipi yang tentunya berbeda jauh dengan mereka
yang mungkin patah kaki maupun lengan.
Namun entah kenapa semakin aku
melangkahkan kaki, langkahku semakin terasa berat. Nafasku juga terasa
terengah-engah. Detak jantungku mulai berdegub dalam tempo jauh lebih cepat
daripada biasannya. Tetapi aku tetap bersikeras mengendarai sepedaku untuk
pulang ke rumah.
Ah, iya.
Mungkin itu karena penyakitku yang kambuh kembali karena terpukul salah satu
dari gerombolan Faisal tadi. Ayuhan sepedakupun semakin terasa melambat. Aku
berjuang untuk sampai ke rumah. Setelah berjarak lumayan dekat dengan rumahku,
tepatnya di depan rumah Mawar aku mulai kehilangan kesadaran dan terjatuh dari
sepeda.

No comments:
Post a Comment