Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-8

Another Side Of Nino
Nino POV
Dasar bajingan! Cowok gak punya malu, ada kerjaan lain gak sih? Bisa-bisanya sampah itu godain Mawar sampai ke rumahnya segala. Cowok bedebah itu perlu pelajaran deh. Aku gak peduli jika dia menyentuh cewek-cewek lain, tapi dia mati kalau sudah menyentuh Mawar. Percuma saja aku ikut berbagai macam cabang beladiri mulai dari taekwondo, karate, hingga silat jika tidak kugunakkan di saat-saat seperti ini.
Segera aku membuat rencana matang yang akan menghancurkan Si Faisal itu. Sepulang sekolah rencanaku sudah siap, sudah gatal rasanya tanganku ingin merasakan gemertak batang hidungnya hancur dihantam kepalanku. Kali ini akan aku habisi laki-laki bedebah itu sampai ke akar-akarnya.
Aku awasi Ia sedari masuk sekolah tadi, karena kelasku berjarak lumayan jauh dari kelasnya maka usaha pengintaianku menjadi sedikit terhambat, kelasku di XI MIPA 2 dan Faisal di XI MIPA 6. Namun tak apa. Itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemarahanku saat melihat dia menggoda Mawar. “Sabar…sabar… ada waktunya sendiri untuk meluapkan kemarahanku. Tahan Nino… tahan…” Ucapku berkali-kali dalam hati untuk menenangkan diri sendiri.
Ketika saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Bel sekolah telah berbunyi menandakan rencana besarku untuk segera dieksekusi. Faisal terlihat keluar dari kelasnya beserta gerombolannya yang berandalan itu.
Sesuai dugaanku Faisal segera menuju mobil kesayangannya untuk bergegas pulang, karena dari pengintaianku kemarin dia ternyata memilikki jadwal kencan dengan salah satu kekasihnya. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk santai di jok supir. Padahal dia tidak sadar bahwa aku sudah lama menunggu sedari tadi di kursi belakang.
Apakah kalian bertanya-tanya bagaimana aku bisa masuk mobil yang terkunci? Hahaha jawabannya simple, itu karena sebelumnya aku telah membuka pintu mobil dan masuk dengan menggunakan kunci mobil cadangan yang ada di dalam tas Faisal. Dasar anak bodoh, menjaga barangnya sendiri saja tidak bisa. Mungkin itu karena Ia berpikir bahwa setiap benda yang dihilangkannya akan selalu diganti dengan papi tersayangnya itu. Sekarang rasakan akibatnya.
Beberapa menit kemudian aku langsung membekap mulutnya dari belakang hingga Ia memberontak hebat namun masih aku tahan dengan kuat. Stimulasi untuk ketakutannya aku tambahkan dengan berbisik sangat dekat di telingannya. “ Heh anak manja, kalau masih mau menyimpan nyawamu yang tidak ada harganya itu mending cepat ikut aku sekarang juga. Yah itu juga kalau memang masih mau hidup sih.”
Si bocah penakut itu mengikuti perintahku dengan baik. Aku membawanya sampai ke pojok kamar mandi pria yang terletak di pojok belakang sekolah, berbatasan dengan lapangan parkir siswa. Begitu Ia berbalik wajahnya dipenuhi dengan keterkejutan karena melihat wajahku. Seakan-akan tak menyangka bahwa Ia telah diancam seseorang seperti aku. Namun Ia tak berani berkata-kata untuk menyuarakan keterkejutannya itu.
Kepalanku tangan kananku telah siap untuk menyambut wajah jeleknya itu ketika salah satu temannya pergi ke kamar mandi dan bertemu dengan kami berdua. Faisal yang licik itu segera meminta bantuan, “Woy tolongin dong, suruh panggil anak-anak kesini buat lawan si brengsek kecil ini.”
Beberapa menit kemudian sekitar lima atau enam teman faisal memasukki kamar mandi dengan marah. Aku mempersiapkan diri untuk melawan mereka semua. Mereka kira mereka sudah menang karena unggul jauh dalam jumlah. Namun itu tak menjadi halangan bagi praktisi beladiri terlatih seperti aku.
Segera setelah itu tendangan dan pukulan saling beradu dalam nyaringnya teriakan kemarahan. Jumlah mereka yang banyak justru semakin memecah belah serangan mereka semua. Aku dengan santai namun pasti menggunakan ajaran jiu jitsu yang sudah aku pelajari untuk membanting mereka semua. Juga taekwondo dan karate untuk melayangkan berbagai jurus pukulan, tangkisan, hingga tendangan yang bervariasi. Berbeda jauh dengan mereka yang bermodal nekat saja.
Tak pelak beberapa menit saja satu persatu dari mereka kurobohkan, hingga akhirnya tersisa Faisal sebagai hidangan terakhir dan penutup. Sambil berdiri gemetar ketakutan di sana, Faisal mulai memohon-mohon agar diampuni dan berjanji tak akan menggangguku lagi. Namun bukan itu yang kumau.
“No, m-maafin aku No, aku janji bakal baik sama kamu, aku janji bakal turuti semua permintaanmu, tolong No aku gak mau masuk rumah sakit No, Huwaaa.” Tangis Faisal ketakutan.
Aku semakin benci oleh bocah lelaki itu yang harga dirinya hanya di luar saja, namun pada saat-saat seperti ini harga dirinya seakan telah terkikis habis semuanya sehingga rela Ia merengek-rengek seperti itu.
“Aku sih sebenarnya gak ada masalah sama kamu, tapi yang paling aku perhatikan adalah Mawar. Sudah beberapa kali ini Mawar sudah kamu buat kesal dengan godaan-godaanmu yang keterlaluan. Apalagi saat kamu godain dia di rumahnya segala. Aku ingin kamu gak pernah nyentuh Mawar lagi. Bahkan kalau perlu kamu harus pura-pura tidak kenal dengan dia. Ingat ya, aku selalu bersama Mawar, bahkan ketika lebah menyengat dia aku sudah langsung tahu. Kalau sampai ketahuan kamu godain Mawar lagi kamu gak bakal berakhir di rumah sakit aja tapi berakhir di kuburan. Ingat itu!” Kataku penuh ancaman kepada Faisal yang semakin ketakutan.
“I-iya, No aku janji.” Janji faisal untuk tidak mengganggu Mawar lagi.
Setelah mengucap ancamanku sesuai rencana aku menghantamnya dengan keras di bagian rahang. Agar selalu ingat dia akan janjinya itu. Tanpa sadar Ia langsung ambruk pingsan ke belakang.
Tak lupa agar mereka tidak mencoba untuk balas dendam aku mulai mencoret-coret satu persatu wajah mereka dengan lipstick ibuku. Lalu kubuat mereka berpelukkan satu sama lain. Akhirnya kuambil foto mereka semua dengan ponselku sebagai ancaman kalau mereka berani macam-macam akan kusebar foto memalukan itu di media sosial. Memang sudah menjadi kelemahan mereka yaitu rasa gengsi dan harga diri. Mereka yang masih sadar kemudian menuruti perintahku untuk tidak balas dendam.
Puas akan rencanaku yang berjalan lancar pada hari ini, aku bergegas pergi meninggalkan kamar mandi dan menuju lapangan tempat sepeda onthelku diparkir. Aku tidak terluka cukup serius melainkan luka memar di bagian pipi yang tentunya berbeda jauh dengan mereka yang mungkin patah kaki maupun lengan.
Namun entah kenapa semakin aku melangkahkan kaki, langkahku semakin terasa berat. Nafasku juga terasa terengah-engah. Detak jantungku mulai berdegub dalam tempo jauh lebih cepat daripada biasannya. Tetapi aku tetap bersikeras mengendarai sepedaku untuk pulang ke rumah.

Ah, iya. Mungkin itu karena penyakitku yang kambuh kembali karena terpukul salah satu dari gerombolan Faisal tadi. Ayuhan sepedakupun semakin terasa melambat. Aku berjuang untuk sampai ke rumah. Setelah berjarak lumayan dekat dengan rumahku, tepatnya di depan rumah Mawar aku mulai kehilangan kesadaran dan terjatuh dari sepeda.

No comments:

Post a Comment