Nino POV
Aku masih tak dapat melupakannya,
tak bisa ku bayangkan betapa bodohnya diriku saat itu. Kejadian yang akan
menjadi tanggungan di hatiku hingga nanti bertahun-tahun lamanya. Aku menyesal
telah melakukannya. Selain aku yang telah selangkah lagi menuju dosa, aku juga
menyesal menyakiti perasaannya.
Hari sudah menjelang tengah malam.
Tetapi rasa kantuk seakan tak sudi datang kepadaku. Terlihat Ramlan di luar
tenda sedang duduk-duduk mengamati bintang.
“Eh Nino, ngapain belum tidur? Udah
malem lho.”
“Gak papa Ram, aku masih belum
ngantuk.” Jawabku singkat.
“Kalo belum ngantuk sini aja bro main
catur sama aku, kamu kan jagoan catur sekolah.”
Aku dan Ramlan lalu duduk
berhadap-hadapan dengan papan catur diantara kita berdua. Kita memulai
permainan dengan menentukan siapa yang memegang bidak putih dan hitam dengan suit
terlebih dahulu. Ternyata setelah suit tiga kali Ramlanlah yang memegang bidak
putih dan aku kedapatan bidak catur yang berwarna hitam. Kemudian ketua ekskul
astronomi itu memulai langkah pertamanya.
“Tadi ngapain aja No, kok gak
kelihatan pas waktu foto bareng sama komet halley?” Tanya Ramlan sambil
menggerakkan pion di depan ratunya ke depan dua langkah.
“Oh enggak ngapa-ngapain kok, cuman
ngomong sebentar sama Mawar.” Ucapku berbohong mulus sambil melakukan langkah
yang sama di bidak caturku.
“Ngomong masalah apa?” Tanya Ramlan
menjurus kepadaku.
“Hmm biasa lah masalah pelajaran di
sekolah, Mawar kan gak bisa pelajaran fisika.” Jawabku santai sambil terus
melanjutkan permainan.
Lalu keheningan menguasai kami
berdua, permainan terus berlanjut sengit diantara kami yang memang merupakan
penggemar berat catur. Beberapa menit kemudian Ramlan akhirnya memecah
keheningan.
“Jangan bohong No.” Kata Ramlan
membuatku menghentikan nafas. Aku hanya diam tak berkata-kata.
“Aku tahu semuanya, aku sudah heran
karena gak melihat kalian berdua diantara anggota ekskul lainnya. Begitu aku
menemukan kalian, kalian sudah berduaan dan akan bertemu bibir layaknya
sepasang kekasih. Tapi brengseknya kamu, kamu malah menghindar dan melepaskan
diri. Apakah aku salah?” Skak dari Ramlan. Bukan hanya di permainan namun juga
di kata-kata.
Aku kembali diam membisu,
seolah-olah tak terjadi apa-apa dan aku terus melanjutkan permainan.
“Apakah ada yang salah denganmu,
hingga tega-teganya kamu No cowok yang selama ini aku anggap lelaki sejati
untuk menyakiti Mawar sedemikian rupa. Kamu juga melanggar norma-norma
persahabatan dan yang terlebih lagi adalah norma agama No.” Ucap Ramlan yang
aku tahu berasal dari keluarga berlatar agama yang kuat itu.
“Aku nggak habis pikir No, sahabat
setiaku yang selama ini aku anggap orang baik-baik ternyata bukan dirinya
lagi.” Suasana makin memanas demikian juga permainan catur.
“Itu bukan urusan kamu Ram.”
Jawabku tenang sambil melangkahkan rajaku menghindari skak.
“Tentu saja itu urusan aku.”
Katanya ngotot.
“Kenapa jadi urusan kamu hah?”
Kataku sambil melayangkan serangan ke pertahanan Ramlan.
Ramlan lalu terlihat ragu-ragu,
tetapi ia masih menghendaki berlanjutnya pembicaraan. Terbersit di hatinya rasa
yang selama ini dipendam baik-baik, yang mungkin dengan rasa ini dunia seketika
berputar-putar perlahan seperti komedi putar indah di masa anak-anak dulu. Rasa
yang selalu membawa sejuta kupu-kupu hinggap menggelitik hatinya. Rasa yang
juga memberikan rasa sakit dalam yang tak dapat ditemukan asal muasalnya.
“Karena…karena…aku suka Mawar. Dari
mulai selama yang bisa aku ingat. Dari senyumannya, hingga tatapannya yang
dihiasi sejuta bintang.” Jawab Ramlan lirih.
“Hm..seperti itu” Jawabku yang
lagi-lagi terdengar santai.
“Mengapa kamu gak terkejut sama
sekali?” Tanya Ramlan heran.
“Aku sudah tahu Ram, aku sudah tahu
ada yang berbeda dari pandanganmu ke Mawar dan itu lebih dari sekedar teman
biasa. Aku tahu kamu bahkan tidak bisa bersikap seperti biasa ketika bersama Mawar,
seolah-olah kamu kehilangan semua amarahmu meski Mawar melakukan tindakan yang
teramat konyol sekalipun. Aku tahu Ram, dan aku maklumi itu sebagai sahabat
yang selama 2 tahun masa SMA ini selalu bersamamu.” Ucapku menjelaskan.
“Tapi…” lanjut Nino, “ Aku hanya
ingin kamu yang nanti menjaga dia Ram, aku tahu kamu dapat dan mencukupi tanpa
kekurangan suatu apapun untuk selalu setia di hatinya. Aku menyaksikan dengan
jelas suci dan bersihnya hatimu, tulus putih cintamu. Aku telah gagal mengawal
hatinya, mungkin sekarang giliran kamu.” Skak mat aku lancarkan di permainan.
Permainan malam ini berakhir, aku sebagai pemenang.
“BRAK” suara papan catur yang
digebrak Ramlan tiba-tiba dengan begitu kerasnya. Tak ayal papan catur
berhamburan kesana-kemari tak tentu arahnya. Lalu Ramlan berujar dengan marah
“Mana mungkin itu menjadi alasan sikap kamu selama ini No, kamu itu cowok
brengsek yang aku sedikitpun gak mengerti tentang kamu. Aku sudah tahu No,
sudah tahu segalanya. Semua pengorbanan kamu.” Ujar Ramlan dengan marahnya.
Kemudian Ramlan melanjutkan, “Kamu
kan orang yang sama yang telah rela mengorbankan waktumu saat kamu tahu saat
itu Mawar terlambat dan kamu juga yang was-was menunggu di sekolah lalu dengan
yakin tanpa ragu pergi kembali menyusul Mawar hanya untuk memastikan Ia masuk
sekolah tanpa terlambat. Aku tahu karena aku disana mengawasi kamu saat itu.”
Bang… tahu deh dia rahasiaku.
“Kamu kan orang yang sama yang
telah mengorbankan tenagamu dengan melawan Faisal beserta gengnya demi
menyelamatkan harga diri Mawar yang telah diusiknya itu.”
“Bagaimana mungkin kamu adalah
orang yang sama yang telah melakukan semua itu. Bagaimana mungkin manusia dapat
berubah perilakunya sedemikian rupa, yang bahkan menyakiti hati yang selama ini
kamu jaga. Aku benar-benar gak mengerti kamu No.” Kata Ramlan dengan lantang
kepadaku. Jiwaku yang selama ini masih tenang mulai bergoncang tak bisa
kuhentikan. Aku terdiam tak bisa berkata-kata, meskipun aku menang dalam
peperangan bidak catur, namun aku kalah dalam perang hati kami berdua dengan lubuk
hatiku terdalam sebagai korban.
Ramlan lalu bergegas pergi masuk ke
dalam tendanya, meninggalkanku termenung sedih tentang perkataannya tadi.
Benakku kalut akan keguncangan batin, Nino yang selama ini kuanggap ada mungkin
sudah tidak terdapat pada diriku lagi…

No comments:
Post a Comment