Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-17

Kenapa Aku Melakukannya?
Nino POV
Aku masih tak dapat melupakannya, tak bisa ku bayangkan betapa bodohnya diriku saat itu. Kejadian yang akan menjadi tanggungan di hatiku hingga nanti bertahun-tahun lamanya. Aku menyesal telah melakukannya. Selain aku yang telah selangkah lagi menuju dosa, aku juga menyesal menyakiti perasaannya.
Hari sudah menjelang tengah malam. Tetapi rasa kantuk seakan tak sudi datang kepadaku. Terlihat Ramlan di luar tenda sedang duduk-duduk mengamati bintang.
“Eh Nino, ngapain belum tidur? Udah malem lho.”
“Gak papa Ram, aku masih belum ngantuk.” Jawabku singkat.
“Kalo belum ngantuk sini aja bro main catur sama aku, kamu kan jagoan catur sekolah.”
Aku dan Ramlan lalu duduk berhadap-hadapan dengan papan catur diantara kita berdua. Kita memulai permainan dengan menentukan siapa yang memegang bidak putih dan hitam dengan suit terlebih dahulu. Ternyata setelah suit tiga kali Ramlanlah yang memegang bidak putih dan aku kedapatan bidak catur yang berwarna hitam. Kemudian ketua ekskul astronomi itu memulai langkah pertamanya.
“Tadi ngapain aja No, kok gak kelihatan pas waktu foto bareng sama komet halley?” Tanya Ramlan sambil menggerakkan pion di depan ratunya ke depan dua langkah.
“Oh enggak ngapa-ngapain kok, cuman ngomong sebentar sama Mawar.” Ucapku berbohong mulus sambil melakukan langkah yang sama di bidak caturku.
“Ngomong masalah apa?” Tanya Ramlan menjurus kepadaku.
“Hmm biasa lah masalah pelajaran di sekolah, Mawar kan gak bisa pelajaran fisika.” Jawabku santai sambil terus melanjutkan permainan.
Lalu keheningan menguasai kami berdua, permainan terus berlanjut sengit diantara kami yang memang merupakan penggemar berat catur. Beberapa menit kemudian Ramlan akhirnya memecah keheningan.
“Jangan bohong No.” Kata Ramlan membuatku menghentikan nafas. Aku hanya diam tak berkata-kata.
“Aku tahu semuanya, aku sudah heran karena gak melihat kalian berdua diantara anggota ekskul lainnya. Begitu aku menemukan kalian, kalian sudah berduaan dan akan bertemu bibir layaknya sepasang kekasih. Tapi brengseknya kamu, kamu malah menghindar dan melepaskan diri. Apakah aku salah?” Skak dari Ramlan. Bukan hanya di permainan namun juga di kata-kata.
Aku kembali diam membisu, seolah-olah tak terjadi apa-apa dan aku terus melanjutkan permainan.
“Apakah ada yang salah denganmu, hingga tega-teganya kamu No cowok yang selama ini aku anggap lelaki sejati untuk menyakiti Mawar sedemikian rupa. Kamu juga melanggar norma-norma persahabatan dan yang terlebih lagi adalah norma agama No.” Ucap Ramlan yang aku tahu berasal dari keluarga berlatar agama yang kuat itu.
“Aku nggak habis pikir No, sahabat setiaku yang selama ini aku anggap orang baik-baik ternyata bukan dirinya lagi.” Suasana makin memanas demikian juga permainan catur.
“Itu bukan urusan kamu Ram.” Jawabku tenang sambil melangkahkan rajaku menghindari skak.
“Tentu saja itu urusan aku.” Katanya ngotot.
“Kenapa jadi urusan kamu hah?” Kataku sambil melayangkan serangan ke pertahanan Ramlan.
Ramlan lalu terlihat ragu-ragu, tetapi ia masih menghendaki berlanjutnya pembicaraan. Terbersit di hatinya rasa yang selama ini dipendam baik-baik, yang mungkin dengan rasa ini dunia seketika berputar-putar perlahan seperti komedi putar indah di masa anak-anak dulu. Rasa yang selalu membawa sejuta kupu-kupu hinggap menggelitik hatinya. Rasa yang juga memberikan rasa sakit dalam yang tak dapat ditemukan asal muasalnya.
“Karena…karena…aku suka Mawar. Dari mulai selama yang bisa aku ingat. Dari senyumannya, hingga tatapannya yang dihiasi sejuta bintang.” Jawab Ramlan lirih.
“Hm..seperti itu” Jawabku yang lagi-lagi terdengar santai.
“Mengapa kamu gak terkejut sama sekali?” Tanya Ramlan heran.
“Aku sudah tahu Ram, aku sudah tahu ada yang berbeda dari pandanganmu ke Mawar dan itu lebih dari sekedar teman biasa. Aku tahu kamu bahkan tidak bisa bersikap seperti biasa ketika bersama Mawar, seolah-olah kamu kehilangan semua amarahmu meski Mawar melakukan tindakan yang teramat konyol sekalipun. Aku tahu Ram, dan aku maklumi itu sebagai sahabat yang selama 2 tahun masa SMA ini selalu bersamamu.” Ucapku menjelaskan.
“Tapi…” lanjut Nino, “ Aku hanya ingin kamu yang nanti menjaga dia Ram, aku tahu kamu dapat dan mencukupi tanpa kekurangan suatu apapun untuk selalu setia di hatinya. Aku menyaksikan dengan jelas suci dan bersihnya hatimu, tulus putih cintamu. Aku telah gagal mengawal hatinya, mungkin sekarang giliran kamu.” Skak mat aku lancarkan di permainan. Permainan malam ini berakhir, aku sebagai pemenang.
“BRAK” suara papan catur yang digebrak Ramlan tiba-tiba dengan begitu kerasnya. Tak ayal papan catur berhamburan kesana-kemari tak tentu arahnya. Lalu Ramlan berujar dengan marah “Mana mungkin itu menjadi alasan sikap kamu selama ini No, kamu itu cowok brengsek yang aku sedikitpun gak mengerti tentang kamu. Aku sudah tahu No, sudah tahu segalanya. Semua pengorbanan kamu.” Ujar Ramlan dengan marahnya.
Kemudian Ramlan melanjutkan, “Kamu kan orang yang sama yang telah rela mengorbankan waktumu saat kamu tahu saat itu Mawar terlambat dan kamu juga yang was-was menunggu di sekolah lalu dengan yakin tanpa ragu pergi kembali menyusul Mawar hanya untuk memastikan Ia masuk sekolah tanpa terlambat. Aku tahu karena aku disana mengawasi kamu saat itu.” Bang… tahu deh dia rahasiaku.
“Kamu kan orang yang sama yang telah mengorbankan tenagamu dengan melawan Faisal beserta gengnya demi menyelamatkan harga diri Mawar yang telah diusiknya itu.”
“Bagaimana mungkin kamu adalah orang yang sama yang telah melakukan semua itu. Bagaimana mungkin manusia dapat berubah perilakunya sedemikian rupa, yang bahkan menyakiti hati yang selama ini kamu jaga. Aku benar-benar gak mengerti kamu No.” Kata Ramlan dengan lantang kepadaku. Jiwaku yang selama ini masih tenang mulai bergoncang tak bisa kuhentikan. Aku terdiam tak bisa berkata-kata, meskipun aku menang dalam peperangan bidak catur, namun aku kalah dalam perang hati kami berdua dengan lubuk hatiku terdalam sebagai korban.
Ramlan lalu bergegas pergi masuk ke dalam tendanya, meninggalkanku termenung sedih tentang perkataannya tadi. Benakku kalut akan keguncangan batin, Nino yang selama ini kuanggap ada mungkin sudah tidak terdapat pada diriku lagi…


No comments:

Post a Comment