Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-13

Menaklukkan Puncak Gunung Lawu
Nino POV
Hari ini adalah hari ketiga kami berada di gunung Lawu ini, tepatnya di telaga Sarangan. Telaga indah yang terbentuk ratusan tahun lalu karena aktivitas vulkanis gunung Lawu. Telaga ini menjadi daya tarik wisata dan menjadi ladang pencarian nafkah oleh penduduk sekitar, mulai dari penyewaan kuda, penyewaan speedboat, restaurant, hingga kios-kios cinderamata. Untungnya kami tidak mengunjungi telaga sarangan saat libur-libur panjang, karena jika kami mengunjungi sarangan pada saat libur panjang dapat dipastikan akan sangat padat pengunjung yang berdesakkan di kios-kios sekitar telaga Sarangan.
Pagi hari ini aku awali dengan sholat shubuh. Saat itu aku berdoa agar acara pendakian gunung nanti diberi kemudahan dan kelancaran oleh yang maha kuasa. Setelah mengakhiri sholat shubuh, aku mempersiapkan barang bawaan untuk pendakian gunung nanti. Juga aku masukkan ke dalam tas bunga edelweiss yang kemarin aku beli diam-diam. Aku lalu bergegas mandi terlebih dahulu agar nanti tidak berebut kamar mandi dengan temanku yang masih tidur pulas. Sesudah aku membersihkan diri, baru aku membangunkan teman-teman sekamarku yang masih tertidur.
Kami semua telah siap untuk berangkat mendaki gunung pukul 05.00, kami terlebih dahulu sarapan di restaurant hotel bersama sama. Tidak lupa aku juga meminum obatku yang tentunya harus aku minum setiap hari. Lalu jadwal kami lanjutkan dengan mulai memasukki rute pendakian gunung yang tersedia.
Rencana kami adalah untuk mendaki gunung yang sudah tidak aktif ini sampai puncaknya, jadi sebelum kami memulai pendakian kami bertanya apakah semuanya sanggup untuk mendaki sampai puncak. Ternyata sepuluh anak yang kebanyakan adalah perempuan menyatakan tidak akan sanggup jika mendaki gunung sejauh itu. Jadi sekarang hanya tersisa kami bersepuluh yang akan meneruskan pendakian sampai ke puncak.
Kami bersyukur sudah tersedia tangga untuk mendaki, jadi kami tidak akan kesusahan untuk berjalan. Aku berjalan dengan perlahan di samping Mawar, berjaga-jaga kalau nanti Ia jatuh terpleset karena jalan yang memang licin sehabis hujan kemarin. Kalau jatuh bisa bahaya, karena disamping kami sudah menganga jurang yang tentu manusia tidak mungkin selamat jika jatuh kesana.
Tetapi di sisi lain kami di sepanjang perjalanan disuguhi oleh pemandangan pesawahan juga hutan yang menyejukkan setiap mata yang memandang. Juga sungai-sungai berair jernih berukuran besar dan kecil yang kami lewati menambah rasa takjub kami terhadap alam. Setiap penduduk local yang berpapasan dengan kami, entah sedang lewat atau juga mencuci baju di pinggir sungai selalu melayangkan senyuman manis kepada kami dengan sangat ramah. “Monggo bu.” Kataku sambil tersenyum sopan mempersilakan Ibu-ibu yang mungkin sehabis mencuci pakaian untuk lewat.
Tiba-tiba di tengah jalan Bayu, salah satu temanku, ingin buang air besar. Tentu saja kami sangat kebingungan mencari toilet di tempat seperti itu. Aku menoleh kesana-kemari untuk mencari toilet umum yang disewakan untuk pengunjung. Namun hasilnya nihil. “Ya masa mau pup di hutan sih.” Kata Bayu yang mulai putus asa menahan untuk buang air besar. “Gak papa sih Yu kamu mau pup di hutan, tapi kasian nanti monyet-monyet pada lari semua karena gak tahan sama baunya hahahaah.” Kata Dony disusul dengan tawa kami semua, kecuali Bayu tentunya.
Bayu akhirnya menemukan salah satu rumah penduduk (yang untungnya aku tunjukkan) yang kemudian dengan baik hati mempersilakan Ia meminjam kamar mandi miliknya. Aku sangat kagum dengan kebaikan hati penduduk sini. Memang ternyata penduduk desa lebih ramah dan mulia hatinya dibandingkan dengan orang kota yang hanya bersaing satu sama lain. Ditambah lagi arogansi penduduk kota yang jauh lebih tinggi daripada penduduk desa.
Setelah setengah jam lebih mendaki, jalan mulai tidak ada tangganya namun setidaknya masih ada jalan tanah yang dapat kami lewati. Tetapi kemudian jalan bertambah licin karena batu tempat kami berpijak ditumbuhi lumut-lumut hijau. Aku juga sangat kesulitan berjalan karena membawa teropong bintang yang lumayan berat terasa di pundakku. Tidak lama kemudian tiba-tiba Mawar salah memijakkan kakinya karena kurang memperhatikan. “Slip..” Ia akan terpleset tetapi dengan sigap aku yang disampingnya langsung menahan tubuhnya. Sudah menjadi kewajibanku untuk melindunginya, apapun resikonya.
 Kami lalu melanjutkan perjalanan. “No, aku pegangan sama kamu ya biar nanti gak jatuh lagi. Kamu jangan mikir yang macem-macem ya. Aku cuman gak mau mati sekarang  soalnya masih banyak dosaku itu.” Kata Mawar yang takut terjatuh lagi lalu memegang lenganku erat-erat.
Sesudah mendaki dan terus mendaki akhirnya kami sampai juga ke air terjun Sarangan. Checkpoint pertama kami untuk sampai ke puncak. Air terjun yang berada dibalik pegunungan yang berliku-liku itu memiliki air yang sungguh jernih namun sangat dingin. “Splash, splash..” Suara cipratan air saat kami bermain air. Mendorong satu sama lain hingga jatuh ke dalam air, meskipun air terasa dingin namun kami tetap menikmati berlangsungnya permainan itu.
Aku dijegal Bayu yang menyebabkan baju dan celanaku basah kuyup semua. Aku balas mendorong siapapun yang kutemui, akhirnya kami semua menggigil kedinginan. Selain mendorong satu sama lain aku juga meniru gaya-gaya bertapa yang aku lihat di film, yaitu bertapa dibawah guyuran air terjun. Tetapi itu sepertinya tidak mungkin, karena guyuran air yang sangat deras mengakibatkan aku terjatuh dan terjatuh lagi.
Lima belas menit kemudian kami mengakhiri permainan kami di air terjun yang sangat menawan mata itu. Tubuh yang basah kuyup tidak menjadi masalah karena kami membawa baju ganti yang cocok untuk di udara dingin seperti ini. Masalahnya adalah tempat untuk mengganti baju yang kesulitan kami temui. Setelah mencari beberapa lami akhirnya kami menemui kios-kios yang masih tutup yang bisa kami gunakan untuk mengganti pakaian. Sesudah mengganti pakaian kami pun melanjutkan pendakian kami.
Perjalanan menjadi semakin dan semakin sulit. Itu dikarenakan jalan setapak dan kios-kios ataupun tanda-tanda kependudukan lainnya yang berangsur-angsur menghilang. Beruntung satu dua kali kami masih menemui penduduk lokal yang dapat kami tanyai ketika kami kehilangan arah. Perjalanan terus berlanjut hingga akhirnya kami murni berada di alam liar.
Hari sudah menjelang sore, tanda bagi kami untuk segera mencari lokasi yang pas untuk berkemah menghabiskan malam. Tempat kemah yang kami cari berdasarkan buku panduan berkemah yang dibawa Ramlan. Harus dekat sumber air juga terlindung dari gangguan hewan liar. Sesudah menemukan tempat yang sangat sesuai dengan kriteria dan standar kami, kami pun mendirikan kemah yang telah kami bawa.
Kami mendirikan empat tenda terpisah bagi laki-laki dan perempuan. Tenda kami buat dalam tempo yang sangat singkat karena langit sudah mulai bersinar kemerahan dan matahari akan kembali ke peraduannya. Tenda sudah jadi ketika langit sudah gelap sepenuhnya, sialnya kami jadi tidak punya waktu untuk mencari kayu bakar untuk dibuat api unggun. Dengan terpaksa alih-alih membuat api unggun kami menyalakan kompor portable yang kami harap bertahan sampai nanti pagi menjelang. Kompor portable ini kami rasa cukup untuk menerangi malam dan menjauhkan gangguan hewan dan serangga -terutama nyamuk, aku sangat benci nyamuk- serta kami harap tidak ada hal yang melenceng dari rencana.
 Kami berkumpul di sekitar api unggun (atau bisa dibilang begitu) dan menikmati indahnya langit malam. Ditambah lengkap dengan Dony yang memainkan gitar dan kami bernyanyi bersama. Dony dan Nurul terlihat dekat sekali, dugaanku sih mereka mungkin juga telah pacaran. Kami menyanyikan berbagai lagu, Aku dan Bintang karya Noah, Count On Me dari Bruno Mars, Butiran Debu dari Rumor, dan berbagai lagu lain. Dengan syarat harus galau.

Kami bernyanyi sampai larut malam, ditemani dengan alunan musik alam mulai dari suara jangkrik dan hewan-hewan kecil lainnya hingga lolongan hewan yang kami tidak tahu jenisnya. Akhirnya Ramlan bergerak memerintahkan kami untuk segera tidur karena besok pagi kami akan pergi sebelum matahari terbit.

No comments:

Post a Comment