Nino POV
Hari ini adalah hari ketiga kami
berada di gunung Lawu ini, tepatnya di telaga Sarangan. Telaga indah yang
terbentuk ratusan tahun lalu karena aktivitas vulkanis gunung Lawu. Telaga ini
menjadi daya tarik wisata dan menjadi ladang pencarian nafkah oleh penduduk
sekitar, mulai dari penyewaan kuda, penyewaan speedboat, restaurant, hingga
kios-kios cinderamata. Untungnya kami tidak mengunjungi telaga sarangan saat
libur-libur panjang, karena jika kami mengunjungi sarangan pada saat libur
panjang dapat dipastikan akan sangat padat pengunjung yang berdesakkan di
kios-kios sekitar telaga Sarangan.
Pagi hari ini aku awali dengan
sholat shubuh. Saat itu aku berdoa agar acara pendakian gunung nanti diberi
kemudahan dan kelancaran oleh yang maha kuasa. Setelah mengakhiri sholat
shubuh, aku mempersiapkan barang bawaan untuk pendakian gunung nanti. Juga aku
masukkan ke dalam tas bunga edelweiss yang kemarin aku beli diam-diam. Aku lalu
bergegas mandi terlebih dahulu agar nanti tidak berebut kamar mandi dengan
temanku yang masih tidur pulas. Sesudah aku membersihkan diri, baru aku membangunkan
teman-teman sekamarku yang masih tertidur.
Kami semua telah siap untuk
berangkat mendaki gunung pukul 05.00, kami terlebih dahulu sarapan di
restaurant hotel bersama sama. Tidak lupa aku juga meminum obatku yang tentunya
harus aku minum setiap hari. Lalu jadwal kami lanjutkan dengan mulai memasukki
rute pendakian gunung yang tersedia.
Rencana kami adalah untuk mendaki
gunung yang sudah tidak aktif ini sampai puncaknya, jadi sebelum kami memulai
pendakian kami bertanya apakah semuanya sanggup untuk mendaki sampai puncak.
Ternyata sepuluh anak yang kebanyakan adalah perempuan menyatakan tidak akan
sanggup jika mendaki gunung sejauh itu. Jadi sekarang hanya tersisa kami
bersepuluh yang akan meneruskan pendakian sampai ke puncak.
Kami bersyukur sudah tersedia
tangga untuk mendaki, jadi kami tidak akan kesusahan untuk berjalan. Aku
berjalan dengan perlahan di samping Mawar, berjaga-jaga kalau nanti Ia jatuh
terpleset karena jalan yang memang licin sehabis hujan kemarin. Kalau jatuh
bisa bahaya, karena disamping kami sudah menganga jurang yang tentu manusia
tidak mungkin selamat jika jatuh kesana.
Tetapi di sisi lain kami di
sepanjang perjalanan disuguhi oleh pemandangan pesawahan juga hutan yang
menyejukkan setiap mata yang memandang. Juga sungai-sungai berair jernih
berukuran besar dan kecil yang kami lewati menambah rasa takjub kami terhadap
alam. Setiap penduduk local yang berpapasan dengan kami, entah sedang lewat
atau juga mencuci baju di pinggir sungai selalu melayangkan senyuman manis
kepada kami dengan sangat ramah. “Monggo bu.” Kataku sambil tersenyum sopan
mempersilakan Ibu-ibu yang mungkin sehabis mencuci pakaian untuk lewat.
Tiba-tiba di tengah jalan Bayu,
salah satu temanku, ingin buang air besar. Tentu saja kami sangat kebingungan
mencari toilet di tempat seperti itu. Aku menoleh kesana-kemari untuk mencari
toilet umum yang disewakan untuk pengunjung. Namun hasilnya nihil. “Ya masa mau
pup di hutan sih.” Kata Bayu yang mulai putus asa menahan untuk buang air
besar. “Gak papa sih Yu kamu mau pup di hutan, tapi kasian nanti monyet-monyet
pada lari semua karena gak tahan sama baunya hahahaah.” Kata Dony disusul
dengan tawa kami semua, kecuali Bayu tentunya.
Bayu akhirnya menemukan salah satu
rumah penduduk (yang untungnya aku tunjukkan) yang kemudian dengan baik hati
mempersilakan Ia meminjam kamar mandi miliknya. Aku sangat kagum dengan
kebaikan hati penduduk sini. Memang ternyata penduduk desa lebih ramah dan
mulia hatinya dibandingkan dengan orang kota yang hanya bersaing satu sama
lain. Ditambah lagi arogansi penduduk kota yang jauh lebih tinggi daripada
penduduk desa.
Setelah setengah jam lebih mendaki,
jalan mulai tidak ada tangganya namun setidaknya masih ada jalan tanah yang
dapat kami lewati. Tetapi kemudian jalan bertambah licin karena batu tempat
kami berpijak ditumbuhi lumut-lumut hijau. Aku juga sangat kesulitan berjalan
karena membawa teropong bintang yang lumayan berat terasa di pundakku. Tidak
lama kemudian tiba-tiba Mawar salah memijakkan kakinya karena kurang
memperhatikan. “Slip..” Ia akan terpleset tetapi dengan sigap aku yang
disampingnya langsung menahan tubuhnya. Sudah menjadi kewajibanku untuk
melindunginya, apapun resikonya.
Kami lalu melanjutkan perjalanan. “No, aku pegangan
sama kamu ya biar nanti gak jatuh lagi. Kamu jangan mikir yang macem-macem ya.
Aku cuman gak mau mati sekarang soalnya
masih banyak dosaku itu.” Kata Mawar yang takut terjatuh lagi lalu memegang
lenganku erat-erat.
Sesudah mendaki dan terus mendaki
akhirnya kami sampai juga ke air terjun Sarangan. Checkpoint pertama kami untuk
sampai ke puncak. Air terjun yang berada dibalik pegunungan yang berliku-liku
itu memiliki air yang sungguh jernih namun sangat dingin. “Splash, splash..”
Suara cipratan air saat kami bermain air. Mendorong satu sama lain hingga jatuh
ke dalam air, meskipun air terasa dingin namun kami tetap menikmati
berlangsungnya permainan itu.
Aku dijegal Bayu yang menyebabkan
baju dan celanaku basah kuyup semua. Aku balas mendorong siapapun yang kutemui,
akhirnya kami semua menggigil kedinginan. Selain mendorong satu sama lain aku
juga meniru gaya-gaya bertapa yang aku lihat di film, yaitu bertapa dibawah
guyuran air terjun. Tetapi itu sepertinya tidak mungkin, karena guyuran air
yang sangat deras mengakibatkan aku terjatuh dan terjatuh lagi.
Lima belas menit kemudian kami
mengakhiri permainan kami di air terjun yang sangat menawan mata itu. Tubuh
yang basah kuyup tidak menjadi masalah karena kami membawa baju ganti yang
cocok untuk di udara dingin seperti ini. Masalahnya adalah tempat untuk
mengganti baju yang kesulitan kami temui. Setelah mencari beberapa lami
akhirnya kami menemui kios-kios yang masih tutup yang bisa kami gunakan untuk
mengganti pakaian. Sesudah mengganti pakaian kami pun melanjutkan pendakian
kami.
Perjalanan menjadi semakin dan
semakin sulit. Itu dikarenakan jalan setapak dan kios-kios ataupun tanda-tanda
kependudukan lainnya yang berangsur-angsur menghilang. Beruntung satu dua kali
kami masih menemui penduduk lokal yang dapat kami tanyai ketika kami kehilangan
arah. Perjalanan terus berlanjut hingga akhirnya kami murni berada di alam
liar.
Hari sudah menjelang sore, tanda
bagi kami untuk segera mencari lokasi yang pas untuk berkemah menghabiskan
malam. Tempat kemah yang kami cari berdasarkan buku panduan berkemah yang
dibawa Ramlan. Harus dekat sumber air juga terlindung dari gangguan hewan liar.
Sesudah menemukan tempat yang sangat sesuai dengan kriteria dan standar kami,
kami pun mendirikan kemah yang telah kami bawa.
Kami mendirikan empat tenda
terpisah bagi laki-laki dan perempuan. Tenda kami buat dalam tempo yang sangat
singkat karena langit sudah mulai bersinar kemerahan dan matahari akan kembali
ke peraduannya. Tenda sudah jadi ketika langit sudah gelap sepenuhnya, sialnya
kami jadi tidak punya waktu untuk mencari kayu bakar untuk dibuat api unggun.
Dengan terpaksa alih-alih membuat api unggun kami menyalakan kompor portable
yang kami harap bertahan sampai nanti pagi menjelang. Kompor portable ini kami
rasa cukup untuk menerangi malam dan menjauhkan gangguan hewan dan serangga
-terutama nyamuk, aku sangat benci nyamuk- serta kami harap tidak ada hal yang
melenceng dari rencana.
Kami berkumpul di sekitar api unggun (atau
bisa dibilang begitu) dan menikmati indahnya langit malam. Ditambah lengkap
dengan Dony yang memainkan gitar dan kami bernyanyi bersama. Dony dan Nurul
terlihat dekat sekali, dugaanku sih mereka mungkin juga telah pacaran. Kami
menyanyikan berbagai lagu, Aku dan
Bintang karya Noah, Count On Me
dari Bruno Mars, Butiran Debu dari Rumor, dan berbagai lagu lain.
Dengan syarat harus galau.
Kami bernyanyi sampai larut malam,
ditemani dengan alunan musik alam mulai dari suara jangkrik dan hewan-hewan
kecil lainnya hingga lolongan hewan yang kami tidak tahu jenisnya. Akhirnya
Ramlan bergerak memerintahkan kami untuk segera tidur karena besok pagi kami
akan pergi sebelum matahari terbit.

No comments:
Post a Comment