Nino POV
Mudik adalah hal yang turun temurun
sebagai tradisi dari negri ini yang masih lestari sampai sekarang. Entah itu
tukang becak, tukang ojek, kuli bangunan, pejabat negara, pengusaha, sampai
presidenpun ikut mudik jika waktu lebaran datang. Hari ini adalah hari raya
idul fitri, yang entah telah tahun ke-berapa yang telah aku rayakan. Di bandung
kuliah diliburkan dan teman-teman kostku yang kebanyakan dari luar kota pergi
pulang kampung.
Kost terasa sepi tanpa kehadiran
penghuninya, termasuk Ramlan yang juga temanku satu kamar kost. Ramlan pulang
ke Surabaya untuk mengunjungi keluarganya yang memang sudah rindu dengan
Ramlan, rindu dengan canda tawanya, rindu dengan segalanya tentang dia. Begitu
pula dengan kerinduan Ramlan yang juga tak terbendung dengan keluarganya, yang
sering ia sampaikan ketika curhat kepadaku. Oh, begitu indahnya punya keluarga
untuk dirindukan, punya rumah untuk dikunjungi. Tak seperti aku, tinggal
sendiri disini.
Memang kamar terasa luas sih, tak
seperti hari-hari biasannya. Tapi rasa kesendirian itu bertambah sedemikian
rupa hingga membuatku tak dapat menahannya. Bukan karena apa-apa, melainkan
karena kenangan tentang keluarga itu sendiri, juga kerinduan dengan seluruh
anggota keluargaku.
Jika kuulang-ulang ingatanku
tentang keluarga aku sudah tentu berpikir jika aku sudah melakukan segala yang
terbaik bagi mereka. Aku cinta dengan mereka, aku melakukan apa yang
seharusnya, aku melindungi adik-adikku dengan seluruh jiwa dan raga serta
menghormati kedua orangtuaku dengan segala keputusan mereka. Kecuali yang satu
itu, ketika mereka memutuskan untuk bercerai.
Meski sudah terdengar di telingaku
tentang perceraian orangtuaku, aku masih tidak sanggup menerimanya. Meski
mereka telah sering menyebut cerai dalam setiap pertengkaran yang mereka
lakukan, aku masih sabar dan menerima hingga titik aku sadar akan rasa sakit
yang perlahan-lahan mencekik leherku membuat sesak, apalagi kalau bukan ditimbulkan
dari keluargaku yang pecah belah itu. Keluargaku yang telah hancur, yang entah
berada dimana lagi.
Setelah kedua orangtuaku bercerai
mereka pergi meninggalkan kota Surabaya. Kedua adikku yang teramat sangat aku
cintai dan aku sayangi dibawa ibukku ke luar negri. Tepatnya di negara sakura
jepang, karena ibukku memang banyak memiliki jaringan bisnis yang besar disana.
Lalu ayahku pergi ke salah satu pulau terpencil di daerah Kalimantan untuk
membangun proyek besar karena potensi pariwisata disana. Tinggal aku disini,
sendiri setelah kelulusanku SMA aku seakan tidak diperdulikan lagi.
Memang aku mendapat bagian warisan
yang besar, termasuk harta benda, mobil, dan rumah mewah. Namun apalah artinya
dibanding kekayaan cinta dari keluarga yang selalu membuatmu tahu tempat untuk
kembali. Tempat untuk bernaung ketika badai menerpa, atau ketika panas terik
siksaan kehidupan, setidaknya kamu selalu memilikki seseorang yang selalu
bersamamu, yang mengerti keadaanmu, yang menjadi tempat sejuta kenangan. Namun
aku tak dapat merasakannya lagi.
Hanya aku disini, di hari idul
fitri. Aku menjadi sering ke masjid entah mengapa, untuk memohon ampun ke tuhan
yang maha kuasa. Atas segala dosa, atas dosaku terhadap Mawar, atas dosaku
terhadap keluargaku, bahkan atas dosaku terhadap Faisal. Aku berdoa atas segala
kesalahan yang telah aku berbuat, sengaja atau tidak, di hari yang suci ini. Di
hari tuhan mendengarkan semua taubat manusia, dan aku sendiri memang hanya
ditemani tuhan yang selalu ada untukku. Allah yang dengan rahmatnya
memperbolehkan aku mencicipi manis pahitnya dunia, membimbingku ke jalan yang
benar hingga saat ini.
Aku
bersujud lama sekali, demi tuhan dan segala kebesarannya aku bertaubat. Demi
tuhan pemilik bintang-bintang. Pemilik alam semesta. Pemilik seluruh hati dan
pencipta perasaan yang dinamakan cinta. Aku tahu diriku ini, insan yang lemah
hanya setitik kecil debu jika dibandingkan alam yang luas, dengan beribu
galaksi dan konstelasi, supernova dan black hole, apalagi big bang yang dahsyat.
Maka dari itu aku takluk pada-Nya, pencipta dan pemilik alam semesta raya.

No comments:
Post a Comment