Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-22

Sebatang Kara
Nino POV
Mudik adalah hal yang turun temurun sebagai tradisi dari negri ini yang masih lestari sampai sekarang. Entah itu tukang becak, tukang ojek, kuli bangunan, pejabat negara, pengusaha, sampai presidenpun ikut mudik jika waktu lebaran datang. Hari ini adalah hari raya idul fitri, yang entah telah tahun ke-berapa yang telah aku rayakan. Di bandung kuliah diliburkan dan teman-teman kostku yang kebanyakan dari luar kota pergi pulang kampung.
Kost terasa sepi tanpa kehadiran penghuninya, termasuk Ramlan yang juga temanku satu kamar kost. Ramlan pulang ke Surabaya untuk mengunjungi keluarganya yang memang sudah rindu dengan Ramlan, rindu dengan canda tawanya, rindu dengan segalanya tentang dia. Begitu pula dengan kerinduan Ramlan yang juga tak terbendung dengan keluarganya, yang sering ia sampaikan ketika curhat kepadaku. Oh, begitu indahnya punya keluarga untuk dirindukan, punya rumah untuk dikunjungi. Tak seperti aku, tinggal sendiri disini.
Memang kamar terasa luas sih, tak seperti hari-hari biasannya. Tapi rasa kesendirian itu bertambah sedemikian rupa hingga membuatku tak dapat menahannya. Bukan karena apa-apa, melainkan karena kenangan tentang keluarga itu sendiri, juga kerinduan dengan seluruh anggota keluargaku.
Jika kuulang-ulang ingatanku tentang keluarga aku sudah tentu berpikir jika aku sudah melakukan segala yang terbaik bagi mereka. Aku cinta dengan mereka, aku melakukan apa yang seharusnya, aku melindungi adik-adikku dengan seluruh jiwa dan raga serta menghormati kedua orangtuaku dengan segala keputusan mereka. Kecuali yang satu itu, ketika mereka memutuskan untuk bercerai.
Meski sudah terdengar di telingaku tentang perceraian orangtuaku, aku masih tidak sanggup menerimanya. Meski mereka telah sering menyebut cerai dalam setiap pertengkaran yang mereka lakukan, aku masih sabar dan menerima hingga titik aku sadar akan rasa sakit yang perlahan-lahan mencekik leherku membuat sesak, apalagi kalau bukan ditimbulkan dari keluargaku yang pecah belah itu. Keluargaku yang telah hancur, yang entah berada dimana lagi.
Setelah kedua orangtuaku bercerai mereka pergi meninggalkan kota Surabaya. Kedua adikku yang teramat sangat aku cintai dan aku sayangi dibawa ibukku ke luar negri. Tepatnya di negara sakura jepang, karena ibukku memang banyak memiliki jaringan bisnis yang besar disana. Lalu ayahku pergi ke salah satu pulau terpencil di daerah Kalimantan untuk membangun proyek besar karena potensi pariwisata disana. Tinggal aku disini, sendiri setelah kelulusanku SMA aku seakan tidak diperdulikan lagi.
Memang aku mendapat bagian warisan yang besar, termasuk harta benda, mobil, dan rumah mewah. Namun apalah artinya dibanding kekayaan cinta dari keluarga yang selalu membuatmu tahu tempat untuk kembali. Tempat untuk bernaung ketika badai menerpa, atau ketika panas terik siksaan kehidupan, setidaknya kamu selalu memilikki seseorang yang selalu bersamamu, yang mengerti keadaanmu, yang menjadi tempat sejuta kenangan. Namun aku tak dapat merasakannya lagi.
Hanya aku disini, di hari idul fitri. Aku menjadi sering ke masjid entah mengapa, untuk memohon ampun ke tuhan yang maha kuasa. Atas segala dosa, atas dosaku terhadap Mawar, atas dosaku terhadap keluargaku, bahkan atas dosaku terhadap Faisal. Aku berdoa atas segala kesalahan yang telah aku berbuat, sengaja atau tidak, di hari yang suci ini. Di hari tuhan mendengarkan semua taubat manusia, dan aku sendiri memang hanya ditemani tuhan yang selalu ada untukku. Allah yang dengan rahmatnya memperbolehkan aku mencicipi manis pahitnya dunia, membimbingku ke jalan yang benar hingga saat ini.

Aku bersujud lama sekali, demi tuhan dan segala kebesarannya aku bertaubat. Demi tuhan pemilik bintang-bintang. Pemilik alam semesta. Pemilik seluruh hati dan pencipta perasaan yang dinamakan cinta. Aku tahu diriku ini, insan yang lemah hanya setitik kecil debu jika dibandingkan alam yang luas, dengan beribu galaksi dan konstelasi, supernova dan black hole, apalagi big bang yang dahsyat. Maka dari itu aku takluk pada-Nya, pencipta dan pemilik alam semesta raya.

No comments:

Post a Comment