Nino POV
Di dalam alam bawah sadarku aku
mulai bermimpi. Mimpi tentang perasaan cintaku yang tak terungkap kepada Mawar.
Tentang perasaan senang ketika semua penderitaannya hilang menjadi penderitaanku.
Ketika senyum mulai terlukis di bibirnya karena segala sesuatu yang entah
kenapa juga membuatku tersenyum.
Aku bukannya tak ingin
memilikkinya. Namun Ia bagaikan emas di ujung pelangi yang mustahil aku ambil.
Mungkin dengan sejalannya waktu aku akan menemukan cara agar kita berdua dapat
bahagia bersama, tanpa saling memilikki.
Sebelum aku ingin mimpi itu
berakhir tanpa kusadari aku telah terbangun. Merasakan sakit hebat di pipiku
dan di dada kiriku. Tetapi segala rasa sakit itu sirna ketika aku memandang
wajahnya yang penuh cemas melihat kepadaku. Aku sadari ternyata aku telah
terbaring di atas sofa rumah Mawar, dan saat ini kepalaku sedang berada di
pangkuannya.
Dengan lembut Ia mengoleskan
sesuatu yang perih di atas luka-lukaku, mungkin obat, ataupun racun juga aku
tidak peduli. Aku telah percaya sepenuh hati kepadanya, dan tidak ada lagi
momen yang lebih indah daripada saat-saat seperti ini. Ketika aku berada dekat
sepenuhnya dengan Mawar. Kedua mataku hanya fokus terpaku pada wajahnya yang
sedang mengerutkan alis tanda prihatin ketika mengobati luka di pipiku.
“Haduh Nino, kenapa sih kamu jadi
kayak gini. Jadi ilang kan gantengnya.” Ucapnya sambil mengusap pipiku yang
luka.
“Yaelah Mawar, kalau lagi gini aja
dibaik-baikin. Biasannya aja dibilangin jelek kayak temennya Spongebob itu…
siapa namanya? Patrick?” Kataku sedikit bercanda membalas perkataan Mawar,
berusaha agar mengubah suasana.
“Yaiyalah aku baik sama kamu. Kaget
tau gak sih tiba-tiba kamu jatuh di depan rumah aku. Udah di rumah lagi gak ada
siapa-siapa. Aku buru-buru masukkin kamu ke dalam rumah. Aku takut ada apa-apa
sama kamu No. Kamu jahat banget bikin aku khawatir kayak gini. Emangnya kamu
seneng ya No lihat aku sedih. Kamu harusnya sadar dong dengan kamu menyakiti
diri kamu sendiri kamu sama dengan menyakiti aku. Itu yang kupelajari dari
persahabatan kita selama ini, apa mungkin kamu menganggap persahabatan kita
bukan apa-apa?” Isak Mawar sambil menahan air mata. Tetapi kemudian setetes dua
tetes mulai mengalir menuruni kedua pipinya yang lembut itu. Membuat hatiku
hancur dipenuhi rasa bersalah.
“Eh.. kok malah nangis, aku kan
anak kuat. Diinjek gajahpun aku masih tetap utuh. Jadi jangan nangis kayak gitu
dong. Maafin aku ya udah buat kamu khawatir gini.” Kataku seraya mengusap air
mata Mawar di pipinya.
“Hiks..hiks.. emangnya kok bisa sih
sampai kamu pingsan kayak gitu, aku kan jadi takut kamu kenapa-napa.” Tanya Mawar
kepadaku.
“Oh, itu cuman jatuh tadi pas naik
sepeda. Mungkin tadi aku kepleset batu atau apa gitu, terus pas jatuh kepala
aku kayak kebentur sesuatu yang keras banget. Jadinya aku pingsan deh.” Ucapku
ringan. Maafkan aku Mawar, entah sudah keberapa kali aku berbohong kepadamu.
Tapi aku harap kamu mengerti jika semua ini hanya untuk kebaikanmu semata.
“Makannya kamu yang hati-hati dong.
Jarang banget kamu kena musibah kayak gini, kalau naik sepeda matanya jangan
ngelihatin cewek terus biar focus.” Kata Mawar yang sekarang mulai bisa
mengendalikan isak tangisnya.
“Iya, iya cerewet. Lagian juga aku
gak liat cewek-cewek. Malah cewek-cewek yang pada ngelihatin aku.” Ucapku
bercanda.
“Ih
percaya diri banget sih.” Balas Mawar sambil menepuk pundakku pelan. Membawa
perasaan lega kepadaku ketika tangisnya telah berubah kembali ke tawa candanya
yang biasa. Seperti Mawar periang yang selama ini aku kenal.

No comments:
Post a Comment