Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-9

Mimpi yang Menjadi Nyata
Nino POV
Di dalam alam bawah sadarku aku mulai bermimpi. Mimpi tentang perasaan cintaku yang tak terungkap kepada Mawar. Tentang perasaan senang ketika semua penderitaannya hilang menjadi penderitaanku. Ketika senyum mulai terlukis di bibirnya karena segala sesuatu yang entah kenapa juga membuatku tersenyum.
Aku bukannya tak ingin memilikkinya. Namun Ia bagaikan emas di ujung pelangi yang mustahil aku ambil. Mungkin dengan sejalannya waktu aku akan menemukan cara agar kita berdua dapat bahagia bersama, tanpa saling memilikki.
Sebelum aku ingin mimpi itu berakhir tanpa kusadari aku telah terbangun. Merasakan sakit hebat di pipiku dan di dada kiriku. Tetapi segala rasa sakit itu sirna ketika aku memandang wajahnya yang penuh cemas melihat kepadaku. Aku sadari ternyata aku telah terbaring di atas sofa rumah Mawar, dan saat ini kepalaku sedang berada di pangkuannya.
Dengan lembut Ia mengoleskan sesuatu yang perih di atas luka-lukaku, mungkin obat, ataupun racun juga aku tidak peduli. Aku telah percaya sepenuh hati kepadanya, dan tidak ada lagi momen yang lebih indah daripada saat-saat seperti ini. Ketika aku berada dekat sepenuhnya dengan Mawar. Kedua mataku hanya fokus terpaku pada wajahnya yang sedang mengerutkan alis tanda prihatin ketika mengobati luka di pipiku.
“Haduh Nino, kenapa sih kamu jadi kayak gini. Jadi ilang kan gantengnya.” Ucapnya sambil mengusap pipiku yang luka.
“Yaelah Mawar, kalau lagi gini aja dibaik-baikin. Biasannya aja dibilangin jelek kayak temennya Spongebob itu… siapa namanya? Patrick?” Kataku sedikit bercanda membalas perkataan Mawar, berusaha agar mengubah suasana.
“Yaiyalah aku baik sama kamu. Kaget tau gak sih tiba-tiba kamu jatuh di depan rumah aku. Udah di rumah lagi gak ada siapa-siapa. Aku buru-buru masukkin kamu ke dalam rumah. Aku takut ada apa-apa sama kamu No. Kamu jahat banget bikin aku khawatir kayak gini. Emangnya kamu seneng ya No lihat aku sedih. Kamu harusnya sadar dong dengan kamu menyakiti diri kamu sendiri kamu sama dengan menyakiti aku. Itu yang kupelajari dari persahabatan kita selama ini, apa mungkin kamu menganggap persahabatan kita bukan apa-apa?” Isak Mawar sambil menahan air mata. Tetapi kemudian setetes dua tetes mulai mengalir menuruni kedua pipinya yang lembut itu. Membuat hatiku hancur dipenuhi rasa bersalah.
“Eh.. kok malah nangis, aku kan anak kuat. Diinjek gajahpun aku masih tetap utuh. Jadi jangan nangis kayak gitu dong. Maafin aku ya udah buat kamu khawatir gini.” Kataku seraya mengusap air mata Mawar di pipinya.
“Hiks..hiks.. emangnya kok bisa sih sampai kamu pingsan kayak gitu, aku kan jadi takut kamu kenapa-napa.” Tanya Mawar kepadaku.
“Oh, itu cuman jatuh tadi pas naik sepeda. Mungkin tadi aku kepleset batu atau apa gitu, terus pas jatuh kepala aku kayak kebentur sesuatu yang keras banget. Jadinya aku pingsan deh.” Ucapku ringan. Maafkan aku Mawar, entah sudah keberapa kali aku berbohong kepadamu. Tapi aku harap kamu mengerti jika semua ini hanya untuk kebaikanmu semata.
“Makannya kamu yang hati-hati dong. Jarang banget kamu kena musibah kayak gini, kalau naik sepeda matanya jangan ngelihatin cewek terus biar focus.” Kata Mawar yang sekarang mulai bisa mengendalikan isak tangisnya.
“Iya, iya cerewet. Lagian juga aku gak liat cewek-cewek. Malah cewek-cewek yang pada ngelihatin aku.” Ucapku bercanda.

“Ih percaya diri banget sih.” Balas Mawar sambil menepuk pundakku pelan. Membawa perasaan lega kepadaku ketika tangisnya telah berubah kembali ke tawa candanya yang biasa. Seperti Mawar periang yang selama ini aku kenal.

No comments:

Post a Comment