3rd Person POV
Kehidupan tidak selalu indah bak
sinetron dan buku dongeng bagi Nino dan Mawar. Terdapat banyak rintangan yang
harus mereka hadapi dengan pengorbanan dan kerja sama mereka. Tetapi mereka
bersyukur memiliki satu sama lain. Di saat hidup mulai memainkan mereka, selalu
ada tempat untuk mencurahkan segala rasa dan juga menenangkan hati yang
bergejolak. Seakan menaungi mereka dari panasnya permasalahan hidup dengan
sebuah payung teduh yang dinamai kata persahabatan.
Diceritakan di suatu waktu di SMAN
1 Surabaya terdapat seorang remaja. Sosok yang tampan, sehingga membuat semua
mata gadis ingin berlama-lama memandangnya. Sosok yang karismatik, lengkap
dengan kulit putih mulus dan postur badan yang ideal yang sangat cocok sebagai
model iklan televisi seandainya dilirik sutradara dan produsen. Ia seakan-akan
menjadi magnet bagi seluruh gadis di sekitarnya. Belum lagi dompet tebal yang
kian menambah pesonanya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Faisal
untuk menghabiskan waktu untuk menaklukkan hati wanita. Prinsipnya: “Tak ada
mobil terlalu mahal dikendarai, tak ada uang yang terlalu banyak dinikmati, tak
ada pula hati yang terlalu sulit dimilikki. Kesetiaan itu pasti dapat dibeli
asal dompet selalu terisi.”
Hanya Mawar, gadis sederhana namun
perfect di semua bidang itu yang berani-beraninya menolak cintanya. Ia menjadi
seperti duri di dalam daging, ketika seorang Faisal yang menjadi penakluk para
gadis, (bahkan ada rumor meskipun laki-laki namun jikalau ditaklukkan hatinya
oleh Faisal maka Ia rela menjadi gay) Mawar menjadi satu-satunya gadis yang
tidak terpengaruh sama sekali dengan pesona Faisal. Mau ditaruh mana harga diri
Faisal ketika penakluk hati wanita nomer wahid di sekolah itu tidak dapat
memilikki hati seorang gadis ceroboh yang bahkan satu kelas selama dua tahun dengannya.
Ia dan Mawar hanya berjarak beberapa meja namun tangannya bagai tak sampai
untuk meraih cintanya.
Pernah di suatu ketika dalam
upayanya meraih hati seorang Mawar Ia mencoba untuk mengantarnya pulang. Dengan
bermodal mobil Fortunernya yang baru dibeli bulan lalu, Ia mendekati Mawar yang
sedang menunggu jemputan, berdiri sendiri di pinggir trotoar.
“Din, din..” bunyi klakson mobil
Faisal. Lalu Dia menurunkan kaca samping dan berkata, “Hai War! Sendirian aja
nih? Pulang bareng yuk. Jok mobilku yang besar terasa sepi kalau hanya diisi
aku sendiri. Lagian rumahmu di deket-deket sini kan?” kata Faisal menawarkan
dengan halus bak salesman sambil membukakan pintu samping depan untuk
penumpang. Sebenarnya tekniknya sudah cukup untuk membuat siapa saja jatuh
hati, mulai dari mobil hitamnya yang mengkilap, sampai skill senyum manis
penakluk hati yang sudah level tinggi. Namun sayangnya cewek bermental baja itu
menolak ajakan tersebut mentah-mentah.
“Hih males banget tau gak sih. Mau
sampai kapan ngejar-ngejar aku terus. Mending aku naik ojek aja yang wajahnya
pas-pasan tapi gak licik kayak kamu.” Ucap Mawar risih.
“Sayang jangan gitu dong, kita kan
temen sekelas. Jadi wajar dong kalau aku nganterin kamu. Lagian apasih
kekuranganku? Coba sebutin satu aja. Kok kamu segitu bencinya sama aku.” Kata
Faisal mencoba membalikkan keadaan.
“Kekurangan kamu cuman satu, yaitu
gak punya kelebihan. Yaiyalah aku benci, orang kamu sukanya godain aku
terus-terusan. Seharusnya kamu itu malu sama diri kamu sendiri.” Ujar Mawar
lalu membanting pintu mobil yang sudah dibukakan Faisal sekeras yang Ia bisa.
Tak pelak kejadian yang dilihat
semua orang disitu menjadi awal mula kehancuran segala reputasi baik Si Faisal
Penakluk Wanita. Dimulai dari perbincangan kecil sampai seluruh sekolah tahu
bahwa Faisal telah dicampakkan sepenuh hati oleh Mawar.
Mulai
saat itu Faisal berjanji akan melakukan segala cara yang mungkin untuk
menaklukkan hati Mawar. Meskipun jalan satu-satunya adalah dengan kekerasan dan
juga aksi terror.

No comments:
Post a Comment