Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-5


Broken Home, But I Love Them All
Nino POV
Aku  dan Mawar kemudian sampai di depan rumah Mawar, rumah yang berukuran lumayan besar dengan halaman yang luas dan rimbun pula. Mawar lalu turun dari goncengan sepedaku dan berkata, “No, kamu yakin gak papa pulang malem kayak gini? Aku kasihan sama kamu kalo nanti dimarahin lagi sama orangtua gara-gara masalah sepele.”
“Yah gak papa lah, santai aja pasti ada jalan keluarnya kok kalau dijelasin baik-baik.” Jawabku tenang.
“Yakin nih beneran?” Tanya Mawar tidak yakin.
“Iya iya cerewet, kayak tante-tante ngomel aja lama-lama kamu itu.” Kataku bercanda, entah kenapa aku dapat bercanda lepas dengan Mawar, tak ada yang kusembunyikan. Hal yang tak dapat aku lakukan dengan temanku yang lain.
Mawar lalu masuk ke dalam rumahnya setelah melambai-lambai kepadaku. beberapa menit kemudian aku selanjutnya pergi ke rumahku sendiri yang hanya berjarak tak begitu jauh dari rumah Mawar. Begitu  sampai ke depan rumah aku bergegas masuk ke pintu depan rumah sambil mengucapkan salam.
“Assalamualaikum” Ucapku tanpa ada sahutan jawaban dari siapapun. Entah ayah ibuku, pembantuku, maupun adik-adikku.
Rumah sangat sepi, keheningan mencekam menguasai seisi rumah. Yah memang sering begitu sih, selain ayah ibukku yang sibuk bekerja mencari uang, tetapi juga pembantuku yang memang menginap di rumah biasanya pergi keluar rumah tanpa izin, entah apa pula yang dilakukan pembantuku yang masih berusia seumur anak kuliahan itu. Adik-adikku juga tak ada keduanya, yang laki-laki dan perempuan. Mungkin mereka juga ada kegiatan di sekolah, yang laki-laki bersekolah di SMP negri di Surabaya dan yang perempuan bersekolah di sekolah dasar.
Aku lalu bersantai di ruang tamu sambil menyatakan televisi, melihat-lihat acara national geographic wild kesukaanku. Channel yang sering menayangkan tentang kehidupan alam liar yang belum tersentuh tangan manusia. Hal yang tepat untuk membuat diriku santai setelah seharian bersekolah.
“Brak” terdengar suara pintu dibanting. Oh ternyata rumah ini tidak kosong, kali ini aku harap ayah dan ibukku sedang tidak bertengkar lagi.
“Aji! Sini kamu! Ayo sini.” Kata suara marah ayahku memanggil adik alki-lakiku dari lantai tiga. Aku terkejut dan segera menuju ke atas.
“Kenapa yah, ada apa?” Jawab adikku ketakutan setelah keluar dari kamarnya yang juga berada di lantai tiga.
“Kamu kan yang mengambil uang di lemari ayah 300 ribu. Ayo ngaku kamu!” Ujar ayahku menginterogasi adikku yang gemetar ketakutan.
“Bukan yah, bukan aku.” Ucap adikku terbata-bata.
“Ayo ngaku, bukan sekali ini saja kan kamu mengambil uang dari lemari ayah. Pasti kamu orangnya, ayah sering lihat kamu keluar masuk kamar ayah.
“Bukan yah, beneran yah bukan aku orangnya.” Jawab adik laki-lakiku sambil menangis.
“Kalau bukan kamu siapa? Kamu masih kecil sudah pintar berbohong ya, mau jadi apa kamu dewasa nanti? Pencuri? Koruptor?” Ujar ayahku marah. Aku hanya bisa terpaku saat itu, lalu kulihat ibukku naik ke lantai atas untuk melihat keadaan.
“Ada apa ini ribut-ribut? Ada apa sih dengan keluarga ini, bisa nggak sekali saja tidak bertengkar?” Tanya ibukku.
“Ini nih anak kamu, masih kecil sudah berani mencuri uang. Banyak lagi jumlahnya: 300 ribu, bayangkan itu. Juga dia mengambil tidak hanya sekali saja.” Jawab ayahku marah.
“Eh, kamu jangan sembarangan menuduh dong. Kamu belum punya bukti kalau dia yang mencuri kok sudah menuduh. Ayah macam apa kamu ini.” Bentak ibukku marah.
“Lho kok kamu malah membela anak kurang ajar ini? kalau bukan dia siapa lagi yang sering keluar-masuk kamar kita. Pasti dia pencurinya, dan ini semua karena kamu yang salah mendidik anak. Terlalu memanjakan anak.” Balas ayahku sengit.
“Kenapa kamu ujung-ujungnya selalu menyalahkan aku. Apa-apa selalu menyalahkan aku, padahal kamu sendiri tak bisa mengurusi apapun kalau bukan karena bantuanku. Kamu harusnya sadar diri, semua pertengkaran kita itu bukan karena aku seorang, tapi juga kesalahan kamu!”
“Oh jadi gitu ya, kita sudah membahas ini sebelumnya kan. Kita sudah sepakat cerai hanya jika anak-anak sudah lulus sekolah. Gak usahlah kamu bahas masalah itu, hanya bikin emosi saja. Nah lihat kan, senang anak ini melihat kita tengkar sendiri, sekarang ayo mengaku kamu!” Tanya ayahku sambil mengayunkan tangannya menampar pipi adik laki-lakiku sebegitu kerasnya hingga terjungkal. Tangisnya semakin menjadi-jadi.
Adik perempuanku yang kebetulan juga berdiri tidak jauh dari situ juga menangis memandang kakaknya ditampar sedemikian rupa. Siapa yang tidak miris memandang pertengkaran seperti ini? dan nasib buruk, inilah ujian tuhan kepada keadaanku yang harus aku hadapi hampir setiap hari dalam hidupku ini.
Aku segera mengambil tindakan, “Bukan yah, bukan Aji yang mengambil uangnya. Tetapi aku sendiri yang mengambilnya, aku membutuhkannya untuk pergi bersenang-senang bersama teman-teman.”
Keheningan kemudian terjadi beberapa menit lamanya. Seakan semua orang yang terlibat dalam pembicaraan itu tidak percaya dengan apa yang aku katakana barusan. Setelah itu baru ayahku yang memulai lagi pembicaraan.
“Oh jadi kamu ya, ayah gak menyangka anak yang selama ini penurut ternyata seorang pencuri. Mencuri uang ayahnya sendiri pula! Sudah tak usah dibahas lagi, jangan harap ayah ingin menganggapmu anak lagi.” Kata ayah sambil menuju kamarnya dan membanting pintu kamar. Aku tahu hatinya terluka mendengar ucapanku. Tapi aku tak punya pilihan lain aku terpaksa berbohong untuk melindungi adikku. Segera setelah itu aku menanyai adikku tentang hal yang sebenarnya di dalam kamarnya.
“Apa ya memang kamu Ji, yang mengambil uang ayah?” Tanyaku lemah lembut.
“Iya mas, aku terpaksa melakukannya. Aku gak tahu harus bagaimana lagi.” Jawab adikku lesu.
“Lho kenapa kok bisa begitu, cerita dong sama mas Nino.”
“Jadi gini kak, aku di sekolah kan menjadi pengurus OSIS. Nah pas aku kebagian menjadi bendahara aku gak sengaja menghilangkan dana buat acara sekolah sejumlah 300 ribu. Saat itu aku bingung sekali mas karena harus mengganti uang yang aku hilangkan. Aku takut kalau bilang terus terang kepada Ayah aku akan dimarahi, karena kita semua tahu Ayah tidak peduli dengan semua alasan yang kita bilang. Ya jadinya aku terpaksa mengambil diam-diam uang Ayah yang ada di lemari.”
“Oh jadi begitu ya, kenapa kamu nggak bilang mas Nino aja kalo ada masalah? Mas Nino pasti bantu kok.” Kataku terus terang.
“Aku nggak enak sama mas Nino, mas Nino sudah banyak bantuin aku tapi aku malah nyusahin mas Nino. Mas Nino jangan gini terus, gak ada gunanya berkorban demi adik sebodoh aku.” Ucapnya sambil kembali meneteskan air mata.

“Loh kamu jangan gitu, kalau kamu gak bisa berterus terang sama ayah kamu bisa berterus terang sama mas Nino. Nah lihat sendiri kan akibatnya kalau kamu nggak berterus terang.” Kataku menjelaskan.
“Iya mas, maafin Aji ya mas.” Katanya meminta maaf.
“Oke dek, gak papa kok.” Gumamku sambil mengelus lembut rambutnya.
Sebenarnya aku sangat sayang dengan seluruh anggota keluargaku, melebihi hidupku sendiri. Aku bersyukur aku diberikan keluarga yang serba berkecukupan, meskipun terkadang kurang harmonis. Aku telah jatuh cinta kepada mereka berulang kali, meski terkadang mereka tak dapat merasakannya

No comments:

Post a Comment