Nino POV
Aku dan Mawar kemudian sampai di depan rumah
Mawar, rumah yang berukuran lumayan besar dengan halaman yang luas dan rimbun
pula. Mawar lalu turun dari goncengan sepedaku dan berkata, “No, kamu yakin gak
papa pulang malem kayak gini? Aku kasihan sama kamu kalo nanti dimarahin lagi
sama orangtua gara-gara masalah sepele.”
“Yah gak papa lah, santai aja pasti
ada jalan keluarnya kok kalau dijelasin baik-baik.” Jawabku tenang.
“Yakin nih beneran?” Tanya Mawar
tidak yakin.
“Iya iya cerewet, kayak tante-tante
ngomel aja lama-lama kamu itu.” Kataku bercanda, entah kenapa aku dapat
bercanda lepas dengan Mawar, tak ada yang kusembunyikan. Hal yang tak dapat aku
lakukan dengan temanku yang lain.
Mawar lalu masuk ke dalam rumahnya
setelah melambai-lambai kepadaku. beberapa menit kemudian aku selanjutnya pergi
ke rumahku sendiri yang hanya berjarak tak begitu jauh dari rumah Mawar.
Begitu sampai ke depan rumah aku
bergegas masuk ke pintu depan rumah sambil mengucapkan salam.
“Assalamualaikum” Ucapku tanpa ada
sahutan jawaban dari siapapun. Entah ayah ibuku, pembantuku, maupun
adik-adikku.
Rumah sangat sepi, keheningan
mencekam menguasai seisi rumah. Yah memang sering begitu sih, selain ayah
ibukku yang sibuk bekerja mencari uang, tetapi juga pembantuku yang memang
menginap di rumah biasanya pergi keluar rumah tanpa izin, entah apa pula yang
dilakukan pembantuku yang masih berusia seumur anak kuliahan itu. Adik-adikku
juga tak ada keduanya, yang laki-laki dan perempuan. Mungkin mereka juga ada
kegiatan di sekolah, yang laki-laki bersekolah di SMP negri di Surabaya dan
yang perempuan bersekolah di sekolah dasar.
Aku lalu bersantai di ruang tamu
sambil menyatakan televisi, melihat-lihat acara national geographic wild
kesukaanku. Channel yang sering menayangkan tentang kehidupan alam liar yang
belum tersentuh tangan manusia. Hal yang tepat untuk membuat diriku santai
setelah seharian bersekolah.
“Brak” terdengar suara pintu
dibanting. Oh ternyata rumah ini tidak kosong, kali ini aku harap ayah dan
ibukku sedang tidak bertengkar lagi.
“Aji! Sini kamu! Ayo sini.” Kata
suara marah ayahku memanggil adik alki-lakiku dari lantai tiga. Aku terkejut
dan segera menuju ke atas.
“Kenapa yah, ada apa?” Jawab adikku
ketakutan setelah keluar dari kamarnya yang juga berada di lantai tiga.
“Kamu kan yang mengambil uang di
lemari ayah 300 ribu. Ayo ngaku kamu!” Ujar ayahku menginterogasi adikku yang
gemetar ketakutan.
“Bukan yah, bukan aku.” Ucap adikku
terbata-bata.
“Ayo ngaku, bukan sekali ini saja
kan kamu mengambil uang dari lemari ayah. Pasti kamu orangnya, ayah sering
lihat kamu keluar masuk kamar ayah.
“Bukan yah, beneran yah bukan aku
orangnya.” Jawab adik laki-lakiku sambil menangis.
“Kalau bukan kamu siapa? Kamu masih
kecil sudah pintar berbohong ya, mau jadi apa kamu dewasa nanti? Pencuri?
Koruptor?” Ujar ayahku marah. Aku hanya bisa terpaku saat itu, lalu kulihat
ibukku naik ke lantai atas untuk melihat keadaan.
“Ada apa ini ribut-ribut? Ada apa
sih dengan keluarga ini, bisa nggak sekali saja tidak bertengkar?” Tanya
ibukku.
“Ini nih anak kamu, masih kecil
sudah berani mencuri uang. Banyak lagi jumlahnya: 300 ribu, bayangkan itu. Juga
dia mengambil tidak hanya sekali saja.” Jawab ayahku marah.
“Eh, kamu jangan sembarangan
menuduh dong. Kamu belum punya bukti kalau dia yang mencuri kok sudah menuduh.
Ayah macam apa kamu ini.” Bentak ibukku marah.
“Lho kok kamu malah membela anak
kurang ajar ini? kalau bukan dia siapa lagi yang sering keluar-masuk kamar
kita. Pasti dia pencurinya, dan ini semua karena kamu yang salah mendidik anak.
Terlalu memanjakan anak.” Balas ayahku sengit.
“Kenapa kamu ujung-ujungnya selalu
menyalahkan aku. Apa-apa selalu menyalahkan aku, padahal kamu sendiri tak bisa
mengurusi apapun kalau bukan karena bantuanku. Kamu harusnya sadar diri, semua
pertengkaran kita itu bukan karena aku seorang, tapi juga kesalahan kamu!”
“Oh jadi gitu ya, kita sudah
membahas ini sebelumnya kan. Kita sudah sepakat cerai hanya jika anak-anak
sudah lulus sekolah. Gak usahlah kamu bahas masalah itu, hanya bikin emosi
saja. Nah lihat kan, senang anak ini melihat kita tengkar sendiri, sekarang ayo
mengaku kamu!” Tanya ayahku sambil mengayunkan tangannya menampar pipi adik
laki-lakiku sebegitu kerasnya hingga terjungkal. Tangisnya semakin
menjadi-jadi.
Adik perempuanku yang kebetulan
juga berdiri tidak jauh dari situ juga menangis memandang kakaknya ditampar
sedemikian rupa. Siapa yang tidak miris memandang pertengkaran seperti ini? dan
nasib buruk, inilah ujian tuhan kepada keadaanku yang harus aku hadapi hampir
setiap hari dalam hidupku ini.
Aku segera mengambil tindakan,
“Bukan yah, bukan Aji yang mengambil uangnya. Tetapi aku sendiri yang
mengambilnya, aku membutuhkannya untuk pergi bersenang-senang bersama
teman-teman.”
Keheningan kemudian terjadi
beberapa menit lamanya. Seakan semua orang yang terlibat dalam pembicaraan itu
tidak percaya dengan apa yang aku katakana barusan. Setelah itu baru ayahku
yang memulai lagi pembicaraan.
“Oh jadi
kamu ya, ayah gak menyangka anak yang selama ini penurut ternyata seorang
pencuri. Mencuri uang ayahnya sendiri pula! Sudah tak usah dibahas lagi, jangan
harap ayah ingin menganggapmu anak lagi.” Kata ayah sambil menuju kamarnya dan
membanting pintu kamar. Aku tahu hatinya terluka mendengar ucapanku. Tapi aku
tak punya pilihan lain aku terpaksa berbohong untuk melindungi adikku. Segera
setelah itu aku menanyai adikku tentang hal yang sebenarnya di dalam kamarnya.
“Apa ya
memang kamu Ji, yang mengambil uang ayah?” Tanyaku lemah lembut.
“Iya mas,
aku terpaksa melakukannya. Aku gak tahu harus bagaimana lagi.” Jawab adikku
lesu.
“Lho
kenapa kok bisa begitu, cerita dong sama mas Nino.”
“Jadi
gini kak, aku di sekolah kan menjadi pengurus OSIS. Nah pas aku kebagian
menjadi bendahara aku gak sengaja menghilangkan dana buat acara sekolah
sejumlah 300 ribu. Saat itu aku bingung sekali mas karena harus mengganti uang
yang aku hilangkan. Aku takut kalau bilang terus terang kepada Ayah aku akan
dimarahi, karena kita semua tahu Ayah tidak peduli dengan semua alasan yang
kita bilang. Ya jadinya aku terpaksa mengambil diam-diam uang Ayah yang ada di
lemari.”
“Oh jadi
begitu ya, kenapa kamu nggak bilang mas Nino aja kalo ada masalah? Mas Nino
pasti bantu kok.” Kataku terus terang.
“Aku
nggak enak sama mas Nino, mas Nino sudah banyak bantuin aku tapi aku malah
nyusahin mas Nino. Mas Nino jangan gini terus, gak ada gunanya berkorban demi
adik sebodoh aku.” Ucapnya sambil kembali meneteskan air mata.
“Loh kamu jangan gitu, kalau
kamu gak bisa berterus terang sama ayah kamu bisa berterus terang sama mas
Nino. Nah lihat sendiri kan akibatnya kalau kamu nggak berterus terang.” Kataku
menjelaskan.
“Iya mas,
maafin Aji ya mas.” Katanya meminta maaf.
“Oke dek,
gak papa kok.” Gumamku sambil mengelus lembut rambutnya.

No comments:
Post a Comment