Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-24

Penyesalan Selalu Datang Terlambat

3rd person POV
Kelak aku adalah rumput yang
mencium telapak kakimu ketika
kau kelelahan menjemur pakaian
anak-anakmu yang nakal.
Buat apa kuserahkan hidupku
kepada hal-hal lain, jika cinta juga
bisa membunuhku. Berkali-kali dan
berkali-kali lebih perih.
(Aan Mansyur, Kau Membakarku Berkali-kali)
  Detik berganti menit, menti berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Jarum jam kehidupan terus menerus berputar tanpa henti. Rembulan dan mentari terus menerus bergantian muncul di langit mengganti hari. Hingga akhirnya saat ini adalah genap sepuluh tahun sesudah acara pengamatan bintang ekstrakulikuler astronomi SMAN 1 Surabaya.
Sepuluh tahun itu bukan waktu yang sebentar, asal tahu saja, dan konsekuensi dari lamanya waktu adalah perubahan. Entah perubahan fisik, atau yang terpenting perubahan hati. Segala sesuatu membutuhkan waktu, termasuk sembuhnya luka-luka hati yang paling dalam, yang paling mustahil disembuhkan sekalipun.
Sepuluh tahun kemudian adalah waktu yang dijanjikan, waktu untuk berkumpul bersua kembali para anggota ekskul astronomi. Tersebar undangan-undangan di media sosial untuk mengumpulkan kembali teman-teman yang telah lama terpisah itu. Banyak yang hilang kontak tentu saja, namun itu tak menyurutkan semangat untuk reuni kembali di puncak gunung Lawu yang menyimpan banyak kenangan.
Hmm.. kira-kira umur mereka semua berkisar antara akhir 20, jadi tampang mereka masih tidak jauh berbeda dari masa putih abu-abu dahulu. Kecuali kerutan-kerutan tipis yang mulai nampak, juga tumbuhnya janggut dan kumis bagi laki-laki. Hampir sebagian besar telah berkeluarga, dan yang lucu banyak diantara mereka yang ternyata menikahi teman satu SMA. Termasuk Dony dan Nurul yang hubungannya sangat langgeng mesra hingga sampai ke jenjang rumah tangga.
Dan juga termasuk Mawar… Mawar dan Ramlan.
Dimulai dari perasaan Ramlan yang kemudian menggerakkan maksudnya untuk menjalin hubungan dengan gadis cantik itu. Ketika Ramlan telah lulus kuliah kebetulan Ia mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan ternama sebagai arsitek, meski banyak gadis yang ingin bersamanya ia tetap setia pada perasaannya, perasaannya yang tersimpan untuk Mawar.
Hingga akhirnya takdir mempertemukan arsitek ternama itu dengan Mawar yang menjadi salah satu dokter spesialis ketika mereka bertemu di rumah sakit tempat ibu Ramlan dirawat. Hubungan mereka terus berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.
Saat ini mereka kembali mendaki gunung Lawu, menaklukkan puncaknya bersama mantan anggota eksul astronomi lainnya. Setapak dua tapak mereka lewati jalan yang menanjak hingga akhirnya sampai ke tujuan. Mereka selanjutya bergegas untuk mencari kotak harapan yang lama dipendam tanah.
“Ram,kita dah nyampe nih. Mana ya dulu kita naroh kotak harapannya? Astaghfirullah…” Tanya Dony lupa akan tempat meletakkan kotak harapan dulu. Dony juga sekarang bertambah alim, tak tahu mengapa. Mungkin karena bertaubat dari dosa-dosanya dulu sebagai pecandu video porno. Dony sekarang bekerja sebagai pengusaha restaurant ayam goreng ternama yang memilikki banyak cabang.
“Hmm… dimana ya, aku juga lupa. Ada yang inget gak kita dulu ngubur kotak harapan dimana?” Ternyata pak mantan ketua ekskul juga lupa.
“Yah kita sia-sia dong yang kesini capek-capek ke puncaknya malah lupa dimana narohnya. Ya diinget-inget dulu tho sebelum naik ke puncak, biar nanti seandainya naik gak pulang dengan tangan hampa.” Kata Mawar menyayangkan.
“Iya yang, jangan marah gitu dong… sebentar lagi juga inget.” Jawab Ramlan.
“Kalau gak salah kita dulu narohnya di sekitar pohon yang ditandai deh.” Ujar Nurul mengingatkan kembali. Asal informasi saja Nurul sekarang bekerja sebagai ibu rumah tangga yang sabar.
“Dimana ya..” Gumam Ramlan sambil terus mencari.
“Eh disini bukan sih, kita kan nandain pohonnya dengan gambar bintang. Inget kan?” Sahut temanku yang bernama Bayu, sambil memegang sebuah pohon yang ada ukiran bintang. Sekarang Ia bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi negri di Surabaya.
“Oh iya ya. Kalau aku sih ingetnya cuma saat kamu nahan buang air aja Yu, kalau yang itu inget gak? Yang kamu hampir buang air besar di pohon, wkwkwkw.” Kata Dony melawak seperti biasa.
“Anjrit yang diinget cuman yang itu aja, itu mah masa lalu. Pas itu untung aja ada Nino yang nunjukkin rumahnya. Oh iya Nino mana kok gak ikut sama kita.” Tanya bayu yang dijawab dengan keheningan total. Ramlan yang berada disebelahnya menyenggol rusuk Bayu keras-keras.
“Oh iya, Nino mana ya? Kok perasaan gak ketemu dari tadi. Kamu tahu nggak yang?” Tanya Mawar pada Ramlan.
“Hm.. gimana ya, lost kontak mungkin. Nanti aja aku jelasin pas turun ke bawah, tapi dia titip ke aku untuk ngasih kotak harapannya ke kamu.” Jawab Ramlan hati-hati.
Mereka lalu menggali tanah tempat mereka menimbun kotak harapan dulu, tentu kotak harapan yang adalah kotak bekas biscuit sudah banyak yang berkarat dan rusak dikarenakan usia.
“Eh ini dia punyaku, disini aku nulis mau masuk Unair dan lulus dengan ip cumlaude.” Kata Dony girang.
“Sama mas punyaku juga gitu.” Ucap Nurul kepada suaminya.
Banyak dari temanku yang menulis impiannya disana, yang mau jadi dokter, insinyur, arsitek (Ramlan), masuk surga (Bayu), dan lain sebagainya. Juga impian untuk masuk ke perguruan tingga yang diharapkan, dan yang anehnya hampir semua kotak harapan terkabul menjadi kenyataan. Termasuk punya Mawar.
Mawar menolak membuka kotak harapannya sekarang. Meskipun dipaksa oleh teman-temannya, Mawar beralasan bahwa ini adalah masalah pribadi. Karena Mawar ingat dengan jelas apa yang Ia tulis disana. Ia ingat jelas tentang semua kenangan yang terjadi disini, yang mungkin sudah tak menyisakan luka lagi di hatinya. Mungkin saja isi surat yang sepuluh tahun ditulisnya itu Ia rasa agak berlebihan.
Segera setalah reuni teman lama itu berlangsung, Mawar dan Ramlan segera pulang ke rumah mereka di Surabaya. Ramlan menolak menjelaskan tentang Nino hingga mereka sampai di rumah orangtua Mawar, rumah Mawar terdahulu.
Langsung saja mereka disambut hangat oleh kedua orangtua Mawar, apalagi pembahasan kedua orang yang sudah tua itu kecuali minta seorang cucu. Yah.. suasana jadi awkward deh.
Setelah itu mereka pergi ke rumah Nino yang terletak sangat dekat dengan rumah Mawar. “Ram, kita gak papa nih masuk ke sini? Ninonya ada atau enggak?” Tanya Mawar heran.
“Ninonya sih sudah pasti gak ada” Jawab Ramlan sedih, “Tapi rumah ini sekarang ditempati sama adiknya Nino yang kebetulan lagi kuliah di Surabaya.” Lanjut Ramlan.
“Aji, assalamualaikum.” Sapa Ramlan.
“Eh kak Ramlan, kak Mawar, waalaikumussalam ayo kak masuk.” Jawab adik laki-laki Nino mempersilakan masuk, Aji nampak mirip sekali dengan kakaknya, menjadikan ingatan Mawar tertang Nino kembali lagi muncul.
Kedua pasangan suami-istri itu melihat-lihat seluruh isi ruangan rumah Nino yang besar dan megah itu. Begitu banyak ingatan Mawar yang timbul, karena dulu disini adalah tempatnya bermain dulu, entah menghabiskan waktu luang atau hanya kesepian tidak punya teman untuk diajak bermain. Nino selalu ada untuknya, selalu siap membantunya. Entah mengerjakan PR atau tugas-tugas lainnya.
Lalu sampailah mereka pada sebuah benda yang tertutup kain putih, berukuran lumayan besar. Ketika bersama-sama mereka buka ternyata itu adalah teropong bintang. Pemberian Mawar kepada Nino ketika ulangtahun sahabat terbaiknya itu yang ke-limabelas. Mata Mawar menjadi berkaca-kaca, mengingat seluruh kenangan suka dan duka yang sederhana namun itulah yang menghiasi kehidupannya dulu. Sosok seseorang yang selalu ada untuknya, yang dengan mudahnya Ia lupakan ketika beranjak dewasa.
“Nino… sudah terlebih dahulu meninggalkan kita semua War.” Ucap Ramlan lirih.
Dan hancur sudah semua pertahanan hati Mawar, Ia menangis sejadi-jadinya.
“Kamu bercanda kan yang, kamu pasti bohong deh. Kalau kamu bercanda kamu keterlaluan.” Kata Mawar disela tangisnya masih tersenyum seakan-akan itu adalah permainan Ramlan saja. Mawar masih tidak percaya sahabat yang terlihat tegar dan gagah itu telah dibalut kain kafan dikubur di dalam tanah.
“Aku nggak bercanda yang, aku minta maaf aku gak ngomong ke kamu sebelumnya. Namun itu semua demi menjaga pesan Nino kepadaku, untuk tidak memberitahukan tentang kematiannya kepada Mawar sebelum kamu menerima kotak harapannya. Kami semua sudah tahu War, kami mengunjungi pemakamannya di Bandung. Tapi kami sengaja nggak beritahu kamu, karena memang itu pesan Nino kepada kita semua. Aku minta maaf War.” Kata Ramlan menyesal. Ia lalu bergerak untuk memeluk Mawar, menenangkan isak tangisnya.
Mawar masih berlutut ambruk ke tanah. Betapa ia tidak menyadari yang selama ini selalu bersamanya. Memang kita tak pernah menyadari sesuatu yang berharga, selalu bersama kita, selalu setia, selalu mencintai kita, hingga kelak kita akan merasakan sakitnya kehilangan. Betapa besar jasa Nino pada kehidupan Mawar, dan dia seenaknya sendiri melupakan jasa sahabatnya itu karena kesalahan kecil yang dibuatnya.
“Kamu tahu War, inget gak dulu pas kamu telat itu?” Tanya Ramlan.
“Yang mana, aku telat sering banget, hiks.. hiks…” Jawab Mawar disela isak tangisnya.
“Oh iya ya, aku lupa kamu dulu sering telat. Yang itu loh, pas kamu manjat gerbang sama Nino.” Kata Ramlan sambil tersenyum mengingatnya.
“Iya hiks…hiks.. kenapa?” Kata Mawar yang bertambah pedih rasanya hatinya mengingat segala kenangan.
“Nah pas itu kan aku heran, kok Nino liatin gerbang terus mondar-mandir pas baru sampe sekolah. Terus beberapa lama dia tiba-tiba keluar dari gerbang, pas itu aku pikir dia udah sinting atau apaan, orang udah mau bel kok malah keluar. Eh ternyata dia bantuin kamu untuk pergi cepet ke sekolah, karena dia khawatir sama kamu.” Ujar Ramlan.
“Hiks…hiks… bodoh banget ya aku, gak menyadarinya. Aku seakan cewek tolol yang hanya memanfaatkan dia aja. Dia saat itu bilang bahwa ban sepedanya bocor, tapi..tapi.. dia balik buat nolong cewek ceroboh kayak aku, hiks…” Sesal Mawar berulang kali.
“Iya yang, terus inget gak saat kamu dibully Faisal?” Tanya Ramlan sambil tersenyum mengingat jasa sahabatnya itu.
“Iya cowok brengsek itu kan, jangan bilang kalau aku dibantuin Nino juga.” Ucap Mawar curiga.
“Nah betul sekali War, Faisal sama gengnya itu dipukulin habis-habisan sama Nino karena dia gangguin kamu.” Kata Ramlan.
“A..a..ku kok bo..doh banget ya, bahkan aku saat itu gak sadar dia berkorban buat aku. Meski aku tahu dia jatuh di depan rumahku, seharusnya aku tahu Ram, seharusnya.. aku.. aku…” Kata Mawar disusul isak tangis hebat. Penyesalan selalu datang terlambat, nasi telah menjadi bubur. Orang yang selalu ada untuknya sekarang telah kembali ke hadapan tuhan. Hanya doa yang terus menerus dapat dipanjatkannya.
“Kak Mawar barusan tahu ya, kalau kak Nino sudah meninggal. Sudah lama kok kak, sudah sekitar tiga tahun yang lalu.” Kata Aji, adik Nino yang terlihat sangat tegar.
Namun sesunggunya Ia juga kehilangan, Ia juga kehilangan sosok kakak yang selalu melindunginya. Bahkan saat Ia mencuri uang sekalipun, kakaknya mengakui kesalahan adiknya sebagai kesalahannya, dan sebagai akibatnya kakaknya itu menjadi seakan tidak dianggap ketika masalah perceraian datang. Tidak ada yang mengurusnya, bahkan ketika kakaknya itu sakit parah dan dilarikan ke rumah sakit. Aji dan adik perempuannya juga tidak diberitahu tentang hal itu, atau mungkin sengaja tidak diberitahu. Sehingga munculah penyesalan hebat, yang membuatnya ingin mengenang masa-masa bersama kakaknya di rumah ini. itulah alasan Ia tetap setia di rumah ini.
“Kak Nino divonis terkena penyakit jantung oleh dokter. Sebenarnya Kak Nino sudah tahu dari lama, namun kak Nino sengaja merahasiakannya dari kita semua.” Kata Aji, lalu tangisnya pecah.
“Aku sungguh salut dengan Nino, Ia sanggup menanggung derita yang sebegitu besarnya. Bahkan hingga ke akhir hayatnya. Karena itu War, maafkanlah Nino, maafkanlah segala kesalahannya, mungkin kamu masih menyimpan dendam dari kejadian saat pengamatan bintang dahulu. Namun itu karena dia khilaf, dia lupa kalau kamu adalah sahabatnya, dia lupa dengan pendiriannya sendiri bahwa jika kamu terus bersamanya maka kamu akan terkena penderitaan karena menangisi kepergiannya. Oleh karena itu War, dia memilih menjauh darimu dan memutuskan segala kontak. Tapi itu semua demi kebaikanmu War, percayalah. Maka dari itu maafkanlah sahabatmu yang malang itu.” Kata Ramlan memelas.
Mawar tidak langsung menjawab, Ia membuka terlebih dahulu kotak harapan miliknya yang saat itu Ia bawa. Ia baca surat yang penuh dengan kebencian itu, Ia serapi satu persatu katanya. Lalu diberikanlah surat itu kepada suaminya itu.
“Inilah kebodohanku dulu, bacalah kebodohanku. Aku sungguh bodoh sekali, aku sudah memaafkannya bahkan sebelum kamu memintanya. Justru aku cewek egois yang ingin mengharapkan maafnya dengan tulus. Namun apa daya, kata maaf tak dapat aku ucapkan, mungkin hanya dapat aku ucapkan di batu nisannya.”
Kemudian Ia buka perlahan kotak harapan milik sahabat sejatinya Nino Fachrurrozy. Ia cermati isi surat di dalamnya. Namun surat itu kosong… dan di dalam kotak hanya setangkai bunga edelweiss berwarna putih indah, yang masih belum layu, masih terlihat segar.
“Apa maskudnya ini, kenapa surat ini kosong tanpa meninggalkan satu titikpun. Apakah aku yang terlalu bodoh untuk memahami ini atau apa?” Tanya Mawar yang mengharapkan isi surat berupa pesan-pesan.
“Aku juga tidak tahu, Ia memang saat waktu penulisan surat sengaja memisah diri. Namun dugaanku Ia berpikir keras, saking kerasnya Ia tak tahu pesan apa yang hendak disampaikan. Sepertinya Ia juga tak tahu mau berbicara apa. Atau mungkin surat putih polos itu menggambarkan hatinya yang suci, yang bersih tulus mencintai kamu, tulus ketika mencintai. Tak mengharapkan balasan. Sosok cinta yang sederhana, namun maksudnya yang sesungguhnya aku masih belum tahu.” Jelas Ramlan.
“Lalu bunga edelweiss ini?”
“Itu sudah jelas, bunga edelweiss adalah bunga abadi, bunga yang tak pernah layu meski telah mati sekalipun. Aku memang melihat Nino membawanya, Nino meletakkannnya untuk menjelaskan keabadian, entah itu cintanya, entah itu jasanya terhadap kita, entah itu yang bahkan adalah Ia sendiri yang abadi. Senantiasa tak pernah mati, terkenang dalam memori dan lubuk hati kita yang terdalam. Bunga edelweiss juga menggambarkan pengorbanan, karena untuk mengambilnya harus mendaki sampai ke puncak gunung yang memang habitat aslinya.” Jelas Ramlan untuk yang kedua kalinya.
“Tak perlu dipikir kak dalam menghadapi masalah seperti itu, karena pada dasarnya mas Nino adalah sosok yang sederhana. Ia tergantung pada persepsi orang yang melihatnya, seperti layaknya melihat cermin sendiri. Pesan kak Nino sebetulnya telah kita terima masing-masing, dan pesannya berbeda untuk setiap orang. Karena pesan kak Nino hidup dalam jasanya, hidup dalam cintanya. Hanyut di bawa angin dan ombak, dibawa keindahan alam. Disitulah kita mengerti, inilah pesan mas Nino kepada kita. Satu paket cinta yang tak terbatas.” Ucap Aji menjelaskan. Meskipun Ia masih duduk di bangku kuliah Ia terlihat sangat dewasa, membuat siapapun memuji kedewasaannya.
Mereka mengerti, bahwa untuk mencapai keabadian bukanlah dengan abadi secara fisik, namun dengan cinta dan pengorbanan. Bukan kematian yang memisahkan mereka, namun mereka pasti berkumpul kembali. Yang menjadi satu-satunya pembeda adalah kehendak tuhan, yang menentukan tempat kita kembali. Di surga atau neraka.

Tak usah berpikir tentang pahitnya kematian, karena semua orang pasti mati. Namun apakah jasa yang ditinggalkan. Di cerita ini semua terekam dengan indah, terpatri dengan begitu kuatnya dalam memori. Teropong bintang, tempat awal dan akhir cerita.

No comments:

Post a Comment