Kelak aku adalah rumput yang
mencium telapak kakimu ketika
kau kelelahan menjemur pakaian
anak-anakmu yang nakal.
Buat apa kuserahkan hidupku
kepada hal-hal lain, jika cinta juga
bisa membunuhku. Berkali-kali dan
berkali-kali lebih perih.
(Aan Mansyur, Kau Membakarku
Berkali-kali)
Detik
berganti menit, menti berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan,
bulan berganti tahun. Jarum jam kehidupan terus menerus berputar tanpa henti.
Rembulan dan mentari terus menerus bergantian muncul di langit mengganti hari.
Hingga akhirnya saat ini adalah genap sepuluh tahun sesudah acara pengamatan
bintang ekstrakulikuler astronomi SMAN 1 Surabaya.
Sepuluh tahun itu bukan waktu yang
sebentar, asal tahu saja, dan konsekuensi dari lamanya waktu adalah perubahan.
Entah perubahan fisik, atau yang terpenting perubahan hati. Segala sesuatu
membutuhkan waktu, termasuk sembuhnya luka-luka hati yang paling dalam, yang
paling mustahil disembuhkan sekalipun.
Sepuluh tahun kemudian adalah waktu
yang dijanjikan, waktu untuk berkumpul bersua kembali para anggota ekskul
astronomi. Tersebar undangan-undangan di media sosial untuk mengumpulkan
kembali teman-teman yang telah lama terpisah itu. Banyak yang hilang kontak
tentu saja, namun itu tak menyurutkan semangat untuk reuni kembali di puncak
gunung Lawu yang menyimpan banyak kenangan.
Hmm.. kira-kira umur mereka semua
berkisar antara akhir 20, jadi tampang mereka masih tidak jauh berbeda dari
masa putih abu-abu dahulu. Kecuali kerutan-kerutan tipis yang mulai nampak,
juga tumbuhnya janggut dan kumis bagi laki-laki. Hampir sebagian besar telah
berkeluarga, dan yang lucu banyak diantara mereka yang ternyata menikahi teman
satu SMA. Termasuk Dony dan Nurul yang hubungannya sangat langgeng mesra hingga
sampai ke jenjang rumah tangga.
Dan juga termasuk Mawar… Mawar dan
Ramlan.
Dimulai dari perasaan Ramlan yang
kemudian menggerakkan maksudnya untuk menjalin hubungan dengan gadis cantik
itu. Ketika Ramlan telah lulus kuliah kebetulan Ia mendapat pekerjaan di salah
satu perusahaan ternama sebagai arsitek, meski banyak gadis yang ingin
bersamanya ia tetap setia pada perasaannya, perasaannya yang tersimpan untuk
Mawar.
Hingga akhirnya takdir
mempertemukan arsitek ternama itu dengan Mawar yang menjadi salah satu dokter
spesialis ketika mereka bertemu di rumah sakit tempat ibu Ramlan dirawat.
Hubungan mereka terus berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.
Saat ini mereka kembali mendaki
gunung Lawu, menaklukkan puncaknya bersama mantan anggota eksul astronomi
lainnya. Setapak dua tapak mereka lewati jalan yang menanjak hingga akhirnya
sampai ke tujuan. Mereka selanjutya bergegas untuk mencari kotak harapan yang
lama dipendam tanah.
“Ram,kita dah nyampe nih. Mana ya
dulu kita naroh kotak harapannya? Astaghfirullah…” Tanya Dony lupa akan tempat
meletakkan kotak harapan dulu. Dony juga sekarang bertambah alim, tak tahu
mengapa. Mungkin karena bertaubat dari dosa-dosanya dulu sebagai pecandu video
porno. Dony sekarang bekerja sebagai pengusaha restaurant ayam goreng ternama
yang memilikki banyak cabang.
“Hmm… dimana ya, aku juga lupa. Ada
yang inget gak kita dulu ngubur kotak harapan dimana?” Ternyata pak mantan
ketua ekskul juga lupa.
“Yah kita sia-sia dong yang kesini
capek-capek ke puncaknya malah lupa dimana narohnya. Ya diinget-inget dulu tho
sebelum naik ke puncak, biar nanti seandainya naik gak pulang dengan tangan
hampa.” Kata Mawar menyayangkan.
“Iya yang, jangan marah gitu dong…
sebentar lagi juga inget.” Jawab Ramlan.
“Kalau gak salah kita dulu narohnya
di sekitar pohon yang ditandai deh.” Ujar Nurul mengingatkan kembali. Asal informasi
saja Nurul sekarang bekerja sebagai ibu rumah tangga yang sabar.
“Dimana ya..” Gumam Ramlan sambil
terus mencari.
“Eh disini bukan sih, kita kan
nandain pohonnya dengan gambar bintang. Inget kan?” Sahut temanku yang bernama
Bayu, sambil memegang sebuah pohon yang ada ukiran bintang. Sekarang Ia bekerja
sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi negri di Surabaya.
“Oh iya ya. Kalau aku sih ingetnya
cuma saat kamu nahan buang air aja Yu, kalau yang itu inget gak? Yang kamu
hampir buang air besar di pohon, wkwkwkw.” Kata Dony melawak seperti biasa.
“Anjrit yang diinget cuman yang itu
aja, itu mah masa lalu. Pas itu untung aja ada Nino yang nunjukkin rumahnya. Oh
iya Nino mana kok gak ikut sama kita.” Tanya bayu yang dijawab dengan
keheningan total. Ramlan yang berada disebelahnya menyenggol rusuk Bayu
keras-keras.
“Oh iya, Nino mana ya? Kok perasaan
gak ketemu dari tadi. Kamu tahu nggak yang?” Tanya Mawar pada Ramlan.
“Hm.. gimana ya, lost kontak
mungkin. Nanti aja aku jelasin pas turun ke bawah, tapi dia titip ke aku untuk
ngasih kotak harapannya ke kamu.” Jawab Ramlan hati-hati.
Mereka lalu menggali tanah tempat
mereka menimbun kotak harapan dulu, tentu kotak harapan yang adalah kotak bekas
biscuit sudah banyak yang berkarat dan rusak dikarenakan usia.
“Eh ini dia punyaku, disini aku
nulis mau masuk Unair dan lulus dengan ip cumlaude.” Kata Dony girang.
“Sama mas punyaku juga gitu.” Ucap
Nurul kepada suaminya.
Banyak dari temanku yang menulis
impiannya disana, yang mau jadi dokter, insinyur, arsitek (Ramlan), masuk surga
(Bayu), dan lain sebagainya. Juga impian untuk masuk ke perguruan tingga yang
diharapkan, dan yang anehnya hampir semua kotak harapan terkabul menjadi
kenyataan. Termasuk punya Mawar.
Mawar menolak membuka kotak
harapannya sekarang. Meskipun dipaksa oleh teman-temannya, Mawar beralasan
bahwa ini adalah masalah pribadi. Karena Mawar ingat dengan jelas apa yang Ia
tulis disana. Ia ingat jelas tentang semua kenangan yang terjadi disini, yang
mungkin sudah tak menyisakan luka lagi di hatinya. Mungkin saja isi surat yang
sepuluh tahun ditulisnya itu Ia rasa agak berlebihan.
Segera setalah reuni teman lama itu
berlangsung, Mawar dan Ramlan segera pulang ke rumah mereka di Surabaya. Ramlan
menolak menjelaskan tentang Nino hingga mereka sampai di rumah orangtua Mawar,
rumah Mawar terdahulu.
Langsung saja mereka disambut
hangat oleh kedua orangtua Mawar, apalagi pembahasan kedua orang yang sudah tua
itu kecuali minta seorang cucu. Yah.. suasana jadi awkward deh.
Setelah itu mereka pergi ke rumah
Nino yang terletak sangat dekat dengan rumah Mawar. “Ram, kita gak papa nih
masuk ke sini? Ninonya ada atau enggak?” Tanya Mawar heran.
“Ninonya sih sudah pasti gak ada”
Jawab Ramlan sedih, “Tapi rumah ini sekarang ditempati sama adiknya Nino yang
kebetulan lagi kuliah di Surabaya.” Lanjut Ramlan.
“Aji, assalamualaikum.” Sapa
Ramlan.
“Eh kak Ramlan, kak Mawar,
waalaikumussalam ayo kak masuk.” Jawab adik laki-laki Nino mempersilakan masuk,
Aji nampak mirip sekali dengan kakaknya, menjadikan ingatan Mawar tertang Nino
kembali lagi muncul.
Kedua pasangan suami-istri itu
melihat-lihat seluruh isi ruangan rumah Nino yang besar dan megah itu. Begitu
banyak ingatan Mawar yang timbul, karena dulu disini adalah tempatnya bermain
dulu, entah menghabiskan waktu luang atau hanya kesepian tidak punya teman
untuk diajak bermain. Nino selalu ada untuknya, selalu siap membantunya. Entah
mengerjakan PR atau tugas-tugas lainnya.
Lalu sampailah mereka pada sebuah
benda yang tertutup kain putih, berukuran lumayan besar. Ketika bersama-sama
mereka buka ternyata itu adalah teropong bintang. Pemberian Mawar kepada Nino
ketika ulangtahun sahabat terbaiknya itu yang ke-limabelas. Mata Mawar menjadi
berkaca-kaca, mengingat seluruh kenangan suka dan duka yang sederhana namun
itulah yang menghiasi kehidupannya dulu. Sosok seseorang yang selalu ada
untuknya, yang dengan mudahnya Ia lupakan ketika beranjak dewasa.
“Nino… sudah terlebih dahulu
meninggalkan kita semua War.” Ucap Ramlan lirih.
Dan hancur sudah semua pertahanan
hati Mawar, Ia menangis sejadi-jadinya.
“Kamu bercanda kan yang, kamu pasti
bohong deh. Kalau kamu bercanda kamu keterlaluan.” Kata Mawar disela tangisnya
masih tersenyum seakan-akan itu adalah permainan Ramlan saja. Mawar masih tidak
percaya sahabat yang terlihat tegar dan gagah itu telah dibalut kain kafan
dikubur di dalam tanah.
“Aku nggak bercanda yang, aku minta
maaf aku gak ngomong ke kamu sebelumnya. Namun itu semua demi menjaga pesan
Nino kepadaku, untuk tidak memberitahukan tentang kematiannya kepada Mawar
sebelum kamu menerima kotak harapannya. Kami semua sudah tahu War, kami
mengunjungi pemakamannya di Bandung. Tapi kami sengaja nggak beritahu kamu,
karena memang itu pesan Nino kepada kita semua. Aku minta maaf War.” Kata
Ramlan menyesal. Ia lalu bergerak untuk memeluk Mawar, menenangkan isak
tangisnya.
Mawar masih berlutut ambruk ke
tanah. Betapa ia tidak menyadari yang selama ini selalu bersamanya. Memang kita
tak pernah menyadari sesuatu yang berharga, selalu bersama kita, selalu setia,
selalu mencintai kita, hingga kelak kita akan merasakan sakitnya kehilangan.
Betapa besar jasa Nino pada kehidupan Mawar, dan dia seenaknya sendiri
melupakan jasa sahabatnya itu karena kesalahan kecil yang dibuatnya.
“Kamu tahu War, inget gak dulu pas
kamu telat itu?” Tanya Ramlan.
“Yang mana, aku telat sering
banget, hiks.. hiks…” Jawab Mawar disela isak tangisnya.
“Oh iya ya, aku lupa kamu dulu
sering telat. Yang itu loh, pas kamu manjat gerbang sama Nino.” Kata Ramlan
sambil tersenyum mengingatnya.
“Iya hiks…hiks.. kenapa?” Kata Mawar
yang bertambah pedih rasanya hatinya mengingat segala kenangan.
“Nah pas itu kan aku heran, kok
Nino liatin gerbang terus mondar-mandir pas baru sampe sekolah. Terus beberapa
lama dia tiba-tiba keluar dari gerbang, pas itu aku pikir dia udah sinting atau
apaan, orang udah mau bel kok malah keluar. Eh ternyata dia bantuin kamu untuk
pergi cepet ke sekolah, karena dia khawatir sama kamu.” Ujar Ramlan.
“Hiks…hiks… bodoh banget ya aku,
gak menyadarinya. Aku seakan cewek tolol yang hanya memanfaatkan dia aja. Dia
saat itu bilang bahwa ban sepedanya bocor, tapi..tapi.. dia balik buat nolong
cewek ceroboh kayak aku, hiks…” Sesal Mawar berulang kali.
“Iya yang, terus inget gak saat
kamu dibully Faisal?” Tanya Ramlan sambil tersenyum mengingat jasa sahabatnya
itu.
“Iya cowok brengsek itu kan, jangan
bilang kalau aku dibantuin Nino juga.” Ucap Mawar curiga.
“Nah betul sekali War, Faisal sama
gengnya itu dipukulin habis-habisan sama Nino karena dia gangguin kamu.” Kata
Ramlan.
“A..a..ku kok bo..doh banget ya,
bahkan aku saat itu gak sadar dia berkorban buat aku. Meski aku tahu dia jatuh
di depan rumahku, seharusnya aku tahu Ram, seharusnya.. aku.. aku…” Kata Mawar
disusul isak tangis hebat. Penyesalan selalu datang terlambat, nasi telah
menjadi bubur. Orang yang selalu ada untuknya sekarang telah kembali ke hadapan
tuhan. Hanya doa yang terus menerus dapat dipanjatkannya.
“Kak Mawar barusan tahu ya, kalau
kak Nino sudah meninggal. Sudah lama kok kak, sudah sekitar tiga tahun yang
lalu.” Kata Aji, adik Nino yang terlihat sangat tegar.
Namun sesunggunya Ia juga
kehilangan, Ia juga kehilangan sosok kakak yang selalu melindunginya. Bahkan
saat Ia mencuri uang sekalipun, kakaknya mengakui kesalahan adiknya sebagai
kesalahannya, dan sebagai akibatnya kakaknya itu menjadi seakan tidak dianggap
ketika masalah perceraian datang. Tidak ada yang mengurusnya, bahkan ketika
kakaknya itu sakit parah dan dilarikan ke rumah sakit. Aji dan adik
perempuannya juga tidak diberitahu tentang hal itu, atau mungkin sengaja tidak
diberitahu. Sehingga munculah penyesalan hebat, yang membuatnya ingin mengenang
masa-masa bersama kakaknya di rumah ini. itulah alasan Ia tetap setia di rumah
ini.
“Kak Nino divonis terkena penyakit
jantung oleh dokter. Sebenarnya Kak Nino sudah tahu dari lama, namun kak Nino
sengaja merahasiakannya dari kita semua.” Kata Aji, lalu tangisnya pecah.
“Aku sungguh salut dengan Nino, Ia
sanggup menanggung derita yang sebegitu besarnya. Bahkan hingga ke akhir
hayatnya. Karena itu War, maafkanlah Nino, maafkanlah segala kesalahannya, mungkin
kamu masih menyimpan dendam dari kejadian saat pengamatan bintang dahulu. Namun
itu karena dia khilaf, dia lupa kalau kamu adalah sahabatnya, dia lupa dengan
pendiriannya sendiri bahwa jika kamu terus bersamanya maka kamu akan terkena
penderitaan karena menangisi kepergiannya. Oleh karena itu War, dia memilih
menjauh darimu dan memutuskan segala kontak. Tapi itu semua demi kebaikanmu
War, percayalah. Maka dari itu maafkanlah sahabatmu yang malang itu.” Kata
Ramlan memelas.
Mawar tidak langsung menjawab, Ia
membuka terlebih dahulu kotak harapan miliknya yang saat itu Ia bawa. Ia baca
surat yang penuh dengan kebencian itu, Ia serapi satu persatu katanya. Lalu
diberikanlah surat itu kepada suaminya itu.
“Inilah kebodohanku dulu, bacalah
kebodohanku. Aku sungguh bodoh sekali, aku sudah memaafkannya bahkan sebelum
kamu memintanya. Justru aku cewek egois yang ingin mengharapkan maafnya dengan
tulus. Namun apa daya, kata maaf tak dapat aku ucapkan, mungkin hanya dapat aku
ucapkan di batu nisannya.”
Kemudian Ia buka perlahan kotak
harapan milik sahabat sejatinya Nino Fachrurrozy. Ia cermati isi surat di
dalamnya. Namun surat itu kosong… dan di dalam kotak hanya setangkai bunga
edelweiss berwarna putih indah, yang masih belum layu, masih terlihat segar.
“Apa maskudnya ini, kenapa surat
ini kosong tanpa meninggalkan satu titikpun. Apakah aku yang terlalu bodoh
untuk memahami ini atau apa?” Tanya Mawar yang mengharapkan isi surat berupa
pesan-pesan.
“Aku juga tidak tahu, Ia memang
saat waktu penulisan surat sengaja memisah diri. Namun dugaanku Ia berpikir
keras, saking kerasnya Ia tak tahu pesan apa yang hendak disampaikan.
Sepertinya Ia juga tak tahu mau berbicara apa. Atau mungkin surat putih polos
itu menggambarkan hatinya yang suci, yang bersih tulus mencintai kamu, tulus
ketika mencintai. Tak mengharapkan balasan. Sosok cinta yang sederhana, namun
maksudnya yang sesungguhnya aku masih belum tahu.” Jelas Ramlan.
“Lalu bunga edelweiss ini?”
“Itu sudah jelas, bunga edelweiss
adalah bunga abadi, bunga yang tak pernah layu meski telah mati sekalipun. Aku
memang melihat Nino membawanya, Nino meletakkannnya untuk menjelaskan
keabadian, entah itu cintanya, entah itu jasanya terhadap kita, entah itu yang
bahkan adalah Ia sendiri yang abadi. Senantiasa tak pernah mati, terkenang
dalam memori dan lubuk hati kita yang terdalam. Bunga edelweiss juga
menggambarkan pengorbanan, karena untuk mengambilnya harus mendaki sampai ke
puncak gunung yang memang habitat aslinya.” Jelas Ramlan untuk yang kedua
kalinya.
“Tak perlu dipikir kak dalam
menghadapi masalah seperti itu, karena pada dasarnya mas Nino adalah sosok yang
sederhana. Ia tergantung pada persepsi orang yang melihatnya, seperti layaknya
melihat cermin sendiri. Pesan kak Nino sebetulnya telah kita terima masing-masing,
dan pesannya berbeda untuk setiap orang. Karena pesan kak Nino hidup dalam
jasanya, hidup dalam cintanya. Hanyut di bawa angin dan ombak, dibawa keindahan
alam. Disitulah kita mengerti, inilah pesan mas Nino kepada kita. Satu paket
cinta yang tak terbatas.” Ucap Aji menjelaskan. Meskipun Ia masih duduk di
bangku kuliah Ia terlihat sangat dewasa, membuat siapapun memuji kedewasaannya.
Mereka mengerti, bahwa untuk
mencapai keabadian bukanlah dengan abadi secara fisik, namun dengan cinta dan
pengorbanan. Bukan kematian yang memisahkan mereka, namun mereka pasti
berkumpul kembali. Yang menjadi satu-satunya pembeda adalah kehendak tuhan,
yang menentukan tempat kita kembali. Di surga atau neraka.
Tak usah
berpikir tentang pahitnya kematian, karena semua orang pasti mati. Namun apakah
jasa yang ditinggalkan. Di cerita ini semua terekam dengan indah, terpatri
dengan begitu kuatnya dalam memori. Teropong bintang, tempat awal dan akhir
cerita.

No comments:
Post a Comment