Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-20

Aku Tidak Menyesalinya (?)
Nino POV
“Aku tidak akan menyesali keputusanku. Sudah aku katakan berkali-kali kalau hatiku tak bisa dibohongi. Aku memang suka Mawar, aku cinta dia. Seluruh kekurangan dan kelebihannya. Aku selalu ingin bersamanya. Tetapi aku ingin dia bahagia, setidaknya aku yang menanggung semua ini.” Ucap Nino untuk yang kesekian kalinya.
“Aku tahu No, aku tahu. Karena aku juga merasakan rasa yang sama yang ada di hatimu saat ini. Ialah rasa itu yang meracuni pikiranmu, membuat kacau keputusanmu. Apakah belum cukup pengorbanan yang sudah kamu lakukan untuk Mawar? Mesti berapa banyak lagi?” Tanya Ramlan kepadaku.
“Kalau perlu sampai mengeruk gunung pun aku lakukan. Menguras berliter-liter air laut pun aku lakukan. Masuk ke goa terdalam juga aku lakukan hanya demi mencari sapu tangan yang Ia jatuhkan. Aku sudah menyerahkan hatiku sepenuhnya, mana mungkin aku mengingkari semua itu. Aku akan selalu berkorban untuk Mawar, meski aku tak sanggup lagi.” Jawabku sambil membendung rasa sakit di hati.
“Tapi No, kamu berhak mendapat cinta sebagai bayaran atas semua pengorbanan yang telah kamu lakukan. Kamu tahu semua akan baik-baik saja jika kamu menerimanya.” Tegas Ramlan.
“Baik-baik saja apanya! Kamu tahu sendiri kan kejadian saat pengamatan bintang dahulu. Sudah cukup takdir membuatku seperti ini, jika ia nantinya bersanding di sampingku sudah tentu Ia akan terluka kehilanganku. Setidaknya aku dapat menghabiskan sisa hidupku yang nanti pada akhirnya takkan melihatnya menangis. Biarlah saja semua kenangan itu hanyut di antara langit penuh bintang.” Kataku sambil meneteskan air mata yang sedari tadi kutahan, lalu mengalir deras tanpa bisa aku menghentikannya.
“Tapi kamu tahu kan konsekuensinya. Penyakit lemah jantungmu akan menghentikan hidupmu tanpa pernah diberikan kesempatan untuk melihat wajahnya lagi, bahkan pada saat-saat terakhirmu.” Ujar Ramlan.
“…aku siap” Ucapku lemah, meski hatiku menjerit ngilu kesakitan, menjelma menjadi suatu kuasa yang membuat mataku tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.

Ramlan telah mengetahui segalanya juga perasaanku, pengorbananku, sampai penyakit yang selama ini menggerogoti tubuhku. Aku merasa lega memilikinya sebagai tempat bergantung, karena sekarang aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi karena keluargaku telah berpisah semua diakibatkan perceraian kedua orangtuaku. Semua itu berawal karena Ramlan adalah temanku satu kost, dan juga karena Ramlan yang sangat cerdas Ia jadi bisa menyelidiki seluruh rahasiaku bagai buku yang terbuka lebar. Ia mengetahuinya, mulai dari buku harianku sampai obat yang biasa aku minum hanya untuk menunda mautku. Satu hal yang pasti, semakin aku mencintai Mawar, semakin sakit aku menjadi.

No comments:

Post a Comment