Nino POV
“Aku tidak akan menyesali
keputusanku. Sudah aku katakan berkali-kali kalau hatiku tak bisa dibohongi.
Aku memang suka Mawar, aku cinta dia. Seluruh kekurangan dan kelebihannya. Aku
selalu ingin bersamanya. Tetapi aku ingin dia bahagia, setidaknya aku yang
menanggung semua ini.” Ucap Nino untuk yang kesekian kalinya.
“Aku tahu No, aku tahu. Karena aku
juga merasakan rasa yang sama yang ada di hatimu saat ini. Ialah rasa itu yang
meracuni pikiranmu, membuat kacau keputusanmu. Apakah belum cukup pengorbanan
yang sudah kamu lakukan untuk Mawar? Mesti berapa banyak lagi?” Tanya Ramlan
kepadaku.
“Kalau perlu sampai mengeruk gunung
pun aku lakukan. Menguras berliter-liter air laut pun aku lakukan. Masuk ke goa
terdalam juga aku lakukan hanya demi mencari sapu tangan yang Ia jatuhkan. Aku
sudah menyerahkan hatiku sepenuhnya, mana mungkin aku mengingkari semua itu.
Aku akan selalu berkorban untuk Mawar, meski aku tak sanggup lagi.” Jawabku
sambil membendung rasa sakit di hati.
“Tapi No, kamu berhak mendapat
cinta sebagai bayaran atas semua pengorbanan yang telah kamu lakukan. Kamu tahu
semua akan baik-baik saja jika kamu menerimanya.” Tegas Ramlan.
“Baik-baik saja apanya! Kamu tahu
sendiri kan kejadian saat pengamatan bintang dahulu. Sudah cukup takdir
membuatku seperti ini, jika ia nantinya bersanding di sampingku sudah tentu Ia
akan terluka kehilanganku. Setidaknya aku dapat menghabiskan sisa hidupku yang
nanti pada akhirnya takkan melihatnya menangis. Biarlah saja semua kenangan itu
hanyut di antara langit penuh bintang.” Kataku sambil meneteskan air mata yang
sedari tadi kutahan, lalu mengalir deras tanpa bisa aku menghentikannya.
“Tapi kamu tahu kan konsekuensinya.
Penyakit lemah jantungmu akan menghentikan hidupmu tanpa pernah diberikan
kesempatan untuk melihat wajahnya lagi, bahkan pada saat-saat terakhirmu.” Ujar
Ramlan.
“…aku siap” Ucapku lemah, meski
hatiku menjerit ngilu kesakitan, menjelma menjadi suatu kuasa yang membuat
mataku tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
Ramlan
telah mengetahui segalanya juga perasaanku, pengorbananku, sampai penyakit yang
selama ini menggerogoti tubuhku. Aku merasa lega memilikinya sebagai tempat
bergantung, karena sekarang aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi karena
keluargaku telah berpisah semua diakibatkan perceraian kedua orangtuaku. Semua
itu berawal karena Ramlan adalah temanku satu kost, dan juga karena Ramlan yang
sangat cerdas Ia jadi bisa menyelidiki seluruh rahasiaku bagai buku yang
terbuka lebar. Ia mengetahuinya, mulai dari buku harianku sampai obat yang
biasa aku minum hanya untuk menunda mautku. Satu hal yang pasti, semakin aku
mencintai Mawar, semakin sakit aku menjadi.

No comments:
Post a Comment