Nino POV
Setelah kejadian kemarin malam saat
berkemah suasana menjadi agak renggang. Kami semua membereskan barang-barang
kami lalu tanpa sadar kami harus segera pulang ke kota Surabaya kembali. Pun
begitu suasana di bus yang kami naikki, tidak ada nyanyian lagi seperti saat
kami berangkat ke sini. Mungkin anggota ekskul lainnya merasakan ketegangan
antara aku, Mawar, dan Ramlan.
Sesungguhnya aku menyesal juga karena
aku adalah dalang utama mengapa acara ini menjadi tidak menyenangkan lagi.
Tetapi apa dayaku yang merupakan manusia lemah yang sarat dengan berbagai
kekurangan. Hanya tuhan kini tempatku bergantung, tempat yang mendengarkan
segala isi do’a harapanku. Tuhan yang maha kuasa mengetahui seluruh isi hati
hambanya, baik yang tersembunyi sekalipun.
Di sepanjang jalan kurasa langit
juga memihakku, langit yang awalnya cerah berubah mendung dan mulai menurunkan
hujan yang sangat deras. Seakan menangisi semua yang telah terjadi, dan tak
dapat diulang kembali untuk sedikitpun aku perbaikki. Biarlah hal ini terpatri
dalam memori dan kalbuku agar kelak dapat menjadi pelajaran yang dapat aku
petik hikmatnya.
Perasaan ini tak dapat dibendung,
aku tak kuasa lagi menahan rasa sakit di hati yang menusuk-nusuk. Tak lain dan
tak bukan karena aku yang telah kehilangan, bukan hanya kehilangan sahabat
terbaikku Mawar dan menyakiti hatinya. Tapi aku juga kehilangan sosok teman
setia yang selalu menemaniku, di kala susah maupun senang, Ramlan. Sekarang aku
sendiri, tanpa ada siapa-siapa lagi.

No comments:
Post a Comment