Selamat Datang di blognya abi harap di follow ya!!!!

Monday, September 28, 2015

Cerbung Teropong Bintang PART-3


Pemimpin Dictator
3rd person POV
“Kring… kring… kring…” Bel sekolah berbunyi. Momen paling mengembirakan yang merupakan arti dari kebebasan dan penyelamat para siswa. Tanda untuk guru-guru agar segera mengakhiri pelajaran hari ini. Setelah semua siswa doa bersama, mereka segera bergegas bersiap pulang ke peraduan masing-masing.
Bangunan sekolah yang lumayan luas itu, juga asri dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan dan tanaman hidroponik (Tanaman yang ditanam dengan media selain tanah). Halaman sekolah dipenuhi dengan siswa dan guru serta karyawan yang ingin kembali pulang ke rumah, atau sekedar untuk menghabiskan waktu bermain dahulu di mall dan di rumah teman. Ada pula yang sedang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler dan kerja kelompok. Tetapi semuanya senang, karena terlepas dari kegiatan sekolah yang sangat membosankan. Momen pulang sekolah, menjadi momen terindah bagi para siswa.
                Namun ada yang janggal, pikir Ramlan. Sekarang kan jadwalnya ekskul astronomi, kok mereka berdua belum datang ya? Padahal kita punya jadwal untuk membahas rencana acara ekskul tahunan kita yaitu pengamatan langit malam di luar kota.
                Sementara itu di kantin sekolah Nino dan Mawar sedang asyik melepas dahaga dengan meminum es serut dingin. Hingga kemudian pada akhirnya Nino tersadar akan sesuatu yang terlupa, “War, bukannya kita hari ini ada jadwal ekskul astronomi ya?”
                “Halah males No, lagian aku ikut ekskul membosankan itu karena permohonan kamu yang sedang terobsesi dengan kado ulang tahun yang kemaren.” Kata Mawar sambil menguap lebar.
                Mereka dengan santai melanjutkan langkahnya keluar kantin hingga tiba-tiba dari arah jam 9 terlihatlah sosok yang sangat menakutkan. Ya benar, itu adalah si Ramlan yang sedang marah, seperti terpancar di sekujur badannya cahaya aura menyala-nyala penuh kemarahan. Mulai dari tubuhnya yang tegap ala militer, serta sorotan matanya yang tegas membuat semua orang seakan tidak bisa menolak perintahnya. Seperti semua bagian tubuhnya telah dirancang untuk menjadi pemimpin dictator yang sempurna, ya macam hitler gitu. Sayangnya sang fuhrer itu sedang marah besar. Ditambah nilai plus dengan teropong genggam yang dibawanya dan sewaktu-waktu dapat menjadi senjata untuk menyiksa mereka.  
                “Hei kalian berdua! Sadar nggak sih sekarang hari apa?” Ujar ramlan gusar sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
                “I-iya Ram ini hari Rabu.” Jawab Mawar ketakutan sampai-sampai melahap es serutnya dalam sekali lahap.
                “Jadi kenapa masih disini?” Tanya Ramlan tidak sabaran sambil memasang tatapan mata tajamnya yang membuat siapapun ngeri dibuatnya.
                “Tadi kita capek banget ditambah cuaca lagi panas jadi dengan sangat terpaksa kami harus mengorbankan sedikit waktu kami untuk menghilangkan dahaga yang menyangkut masalah hidup dan mati.” Ucap Nino mencari alibi untuk keluar dari cengkrakaman cakar beringas Ramlan.
                “Udah jangan kebanyakan alasan, ayo kalian berdua cepat ke kelas XI MIPA 2 untuk membahas agenda tahunan kita. Semuanya udah nungguin dari tadi tahu gak sih!” Bentak Ramlan tanpa ampun.

                “Oke Pak Ketua ekskul. Tanpa mengurangi rasa hormat, kami ucapkan permintaan maaf yang sedalam-dalamnya dan akan segera melakukan apa yang bapak komandokan. Siap 86!” Jawab Nino asal-asalan. Beruntung sekali mereka hari ini, dapat selamat hidup-hidup dari dua malaikat maut. Pertama ketika menghadapi guru killer penjaga gerbang dan yang kedua menghadapi Ramlan yang entah mengapa hari ini tidak terlalu ganas.

No comments:

Post a Comment