3rd
person POV
“Kring… kring… kring…” Bel sekolah
berbunyi. Momen paling mengembirakan yang merupakan arti dari kebebasan dan penyelamat
para siswa. Tanda untuk guru-guru agar segera mengakhiri pelajaran hari ini.
Setelah semua siswa doa bersama, mereka segera bergegas bersiap pulang ke
peraduan masing-masing.
Bangunan sekolah yang lumayan luas itu,
juga asri dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan dan tanaman hidroponik (Tanaman yang ditanam
dengan media selain tanah). Halaman sekolah dipenuhi dengan siswa dan guru serta
karyawan yang ingin kembali pulang ke rumah, atau sekedar untuk menghabiskan waktu
bermain dahulu di mall dan di rumah teman. Ada pula yang sedang mengikuti kegiatan
ekstrakulikuler dan kerja kelompok. Tetapi semuanya senang, karena terlepas dari
kegiatan sekolah yang sangat membosankan. Momen pulang sekolah, menjadi momen terindah
bagi para siswa.
Namun
ada yang janggal, pikir Ramlan. Sekarang kan jadwalnya ekskul astronomi, kok
mereka berdua belum datang ya? Padahal kita punya jadwal untuk membahas rencana
acara ekskul tahunan kita yaitu pengamatan langit malam di luar kota.
Sementara
itu di kantin sekolah Nino dan Mawar sedang asyik melepas dahaga dengan meminum
es serut dingin. Hingga kemudian pada akhirnya Nino tersadar akan sesuatu yang
terlupa, “War, bukannya kita hari ini ada jadwal ekskul astronomi ya?”
“Halah
males No, lagian aku ikut ekskul membosankan itu karena permohonan kamu yang
sedang terobsesi dengan kado ulang tahun yang kemaren.” Kata Mawar sambil
menguap lebar.
Mereka
dengan santai melanjutkan langkahnya keluar kantin hingga tiba-tiba dari arah
jam 9 terlihatlah sosok yang sangat menakutkan. Ya benar, itu adalah si Ramlan
yang sedang marah, seperti terpancar di sekujur badannya cahaya aura
menyala-nyala penuh kemarahan. Mulai dari tubuhnya yang tegap ala militer,
serta sorotan matanya yang tegas membuat semua orang seakan tidak bisa menolak
perintahnya. Seperti semua bagian tubuhnya telah dirancang untuk menjadi
pemimpin dictator yang sempurna, ya macam hitler gitu. Sayangnya sang fuhrer
itu sedang marah besar. Ditambah nilai plus dengan teropong genggam yang
dibawanya dan sewaktu-waktu dapat menjadi senjata untuk menyiksa mereka.
“Hei
kalian berdua! Sadar nggak sih sekarang hari apa?” Ujar ramlan gusar sambil
melipat kedua lengannya di depan dada.
“I-iya
Ram ini hari Rabu.” Jawab Mawar ketakutan sampai-sampai melahap es serutnya
dalam sekali lahap.
“Jadi
kenapa masih disini?” Tanya Ramlan tidak sabaran sambil memasang tatapan mata
tajamnya yang membuat siapapun ngeri dibuatnya.
“Tadi
kita capek banget ditambah cuaca lagi panas jadi dengan sangat terpaksa kami
harus mengorbankan sedikit waktu kami untuk menghilangkan dahaga yang
menyangkut masalah hidup dan mati.” Ucap Nino mencari alibi untuk keluar dari
cengkrakaman cakar beringas Ramlan.
“Udah
jangan kebanyakan alasan, ayo kalian berdua cepat ke kelas XI MIPA 2 untuk
membahas agenda tahunan kita. Semuanya udah nungguin dari tadi tahu gak sih!” Bentak
Ramlan tanpa ampun.
“Oke
Pak Ketua ekskul. Tanpa mengurangi rasa hormat, kami ucapkan permintaan maaf
yang sedalam-dalamnya dan akan segera melakukan apa yang bapak komandokan. Siap
86!” Jawab Nino asal-asalan. Beruntung sekali mereka hari ini, dapat selamat
hidup-hidup dari dua malaikat maut. Pertama ketika menghadapi guru killer
penjaga gerbang dan yang kedua menghadapi Ramlan yang entah mengapa hari ini
tidak terlalu ganas.

No comments:
Post a Comment